Beirut, Gontornews – Puluhan orang asal Lebanon mencoba meninggalkan negara asalnya dengan menggunakan kapal nelayan menuju Italia. Bukannya sampai ke Italia, mereka justru mendapatkan perlakuan tidak menyenangkan dan dilecehkan ketika berada di Yunani.
Dikutip Aljazeera, bahwa puluhan migran asal Lebanon tersebut berlayar pada tanggal 26 Oktober lalu, dengan tujuan Italia dengan harapan bisa merubah ekonomi keluarga mereka setelah kondisi Lebanon menjadi terpuruk.
Salah seorang migran, yang memilki usaha emas asal Lebanon, Ahmad menjelaskan alasan dirinya pergi meninggalkan negara tempat asalnya lantara kondisi krisi yang dialami negaranya membuat usahanya gulung tikar lantaran tidak adanya aliran listrik yang mampu menyalahkan mesinnya.
Untuk bisa berlayar bersama puluhan warga negaranya itu, ia pun terpaksa menjual seluruh peralatan usahanya. “Saya jual semua dan putuskan untuk pergi,” katanya
Laki-laki berusia 25 tahun itu menjelaskan, bahwa ia berada diantara 82 orang Lebanon dan Suriah yang merelakan harta bendanya untuk mendapatkan kehidupan lebih baik dengan menjadi migran ke negara orang.
“Tidak ada penyelundup yang terlibat dalam perencanaan perjalanan. Kami menjual barang-barang kami atau kami meminjam uang untuk membeli perahu dan persediaan makanan, Kami semua teman, saudara, dan tetangga dari daerah yang sama,” kata Ahmad.
Sementara itu, Penumpang lain, Amani (36), yang menghabiskan seluruh hidupnya di al-Mina, sebuah kotamadya independen yang menjadi perpanjangan dari pelabuhan Tripoli mengatakan bahwa dirinya telah mnejual rumah dan seluruh perhiasan mereka untuk medapatkan kehidupan yang bermartabat khususnya untuk ketiga anaknya.
“Saya memutuskan sudah waktunya untuk pergi ketika putra saya sakit dan saya tidak dapat menemukan obat apa pun,” katanya.
Amani menceritakan pengalamannya selama perjalanannya bersama puluhan orang lainnya dengan kapal nelayan itu. Kapal nelayan, lanjutnya yang mereka tumpangi mengalami kerusakan mesin lantaran tersapu badai, mereka pun hanyut di laut selama tiga hari dan mereka memutuskan untuk mencoba berlabuh di pulau Yunani Kastellorizo untuk memperbaiki kapal.
Sesampainya di sana, mereka disambut baik oleh orang-orang yang berada di pinggir laut itu. Namun beberapa saat kemudian , sebuah kapal Penjaga Pantai Hellenic mendekati kapal mereka. Menurut salah satu saksi bahwa petugas mengenakan balaclava hitam untuk menutupi wajah mereka.
“Mereka menjatuhkan sesuatu seperti balon besar dan mengaitkan perahu kami ke kapal mereka. Kemudian, mereka memerintahkan kami untuk naik.” kata Amani.
Seorang penumpang, yang dapat berbicara dengan petugas Yunani dalam bahasa Inggris, menolak untuk naik bahkan ia dipukuli dan dipaksa naik. Tidak hanya itu, Penjaga pantai melepaskan tembakan ke udara untuk mengintimidasi penumpang lainnya. Kemudian mereka mengambil ponsel, uang, pakaian, dan tas para penumpang.
Setelah itu, kapal yang mereka tumpangi disita dan mereka dipaksa untuk tinggal di kapal penjaga selama tiga hari. Baru setekah itu, para penjaga melepaskan mereka tanpa kapal nelayan milik mereka. Mereka pun dibagi menjadi empat kelompok yang nantinya ssetiap kelompok yang berisikan 20-25 orang akan diberikan satu sekoci.
“Para Petugas pun berkata ‘Italia lewat sini’ dan pergi.” Katanya.
Dengan menggunakan sekoci merekapun mneinggalkan perairan Yunani dan menuju kea rah yang ditunjukan oleh penjaga pantai tersebut. Namun rupanya penjaga laut berbohong, setelah lelah mendayung sekoci mereka sampai ke perairan Turki.
Sesampainya di Turki, Pihak berwenang Turki membawa keluarga yang kelelahan ke pusat pemindahan yang didanai Uni Eropa di Aydin, Turki barat daya. Di sana mereka ditahan selama hampir sebulan, hingga 28 November lalu.
Peneliti di Pusat Hak Asasi Manusia Irlandia, Universitas Nasional Irlandia, Galway, Niamh Keady-Tabbal, PhD mengatakan perlakuan penjaga laut Yunani adalah kebijakan sistematis pengusiran kolektif. Mereka biasanya melumpuhkan kapal migran dan terkadang menyita dokumen identitas, uang , dan barang-barang pribadi.
“Mereka biasanya dipaksa naik ke rakit penyelamat, ditinggalkan dan dibiarkan hanyut menuju Turki, hal itu sesungguhnya melanggar hukum internasional dan Eropa,” kata Keady-Tabbal.
Senada dengan itu, juru bicara UNHCR di Yunani, Stella Nanou mengatakan bahwa kapal-kapal dicegat di perairan Yunani dan mesinnya dihancurkan sebelum ditarik ke perairan Turki. Dalam insiden lain, para pengungsi dan migran dibawa kembali ke laut setelah mendarat di pulau-pulau Yunani dan dibiarkan terombang-ambing di atas rakit penyelamat tanpa jaket pelampung.
“UNHCR telah mewawancarai orang-orang yang dilaporkan didorong mundur dan banyak yang tampak sangat terpengaruh oleh pengalaman traumatis ini, yang telah menambah trauma yang mereka bawa dari situasi yang mereka hadapi di negara asal mereka,” kata Nanou.[Devi]


















