Mogadishu, Gontornews — Beberapa orang terluka setelah serangan mortir menghantam daerah sekitar gedung parlemen Somalia pada hari Senin (18/4) tepat ketika anggota parlemen yang baru terpilih bersidang untuk kedua kalinya.
Pejabat dan saksi melaporkan bahwa peluru mendarat di dalam kompleks yang dijaga ketat, tetapi tidak ada anggota parlemen yang terluka. Ledakan itu juga terdengar melalui siaran langsung sesi parlemen majelis rendah hari Senin.
Al-Shabab, sebuah kelompok militan Islam yang memiliki hubungan dengan al-Qaida, mengaku bertanggung jawab atas serangan itu. Kelompok tersebut telah melancarkan pemberontakan terhadap pemerintah di Mogadishu selama lebih dari satu dekade.
“Kami belum memiliki rincian tetapi ledakan ini disebabkan oleh tembakan mortir; legislator yang ada di dalam gedung aman dan tidak terluka ketika insiden itu terjadi,” kata seorang petugas keamanan yang meminta tidak disebutkan namanya kepada kantor berita AFP dan dirilis dw.com.
“Saya berada di lokasi itu ketika mortir mendarat di luar gedung tempat para anggota parlemen bersidang; beberapa orang terluka ringan dalam salah satu ledakan,” kata saksi mata lainnya.
Sementara itu misi PBB untuk Somalia, UNSOM, men-tweet kecamannya atas serangan mortir hari Senin, dan berharap para korban yang terluka bisa segera pulih kembali.
Mereka mendukung Somalia dalam upayanya untuk menyelesaikan proses pemilihan umum dan mendukung pembangunan nasional Somalia.
Sistem pemilu Somalia yang kompleks
Anggota Senat dan Dewan Rakyat yang baru terpilih dilantik pada hari Kamis setelah pemilihan yang telah ditunda selama lebih dari setahun.
Hanya 297 dari 329 kursi yang terisi, tetapi anggota parlemen berjanji untuk melanjutkan proses pemilihan yang telah dirusak oleh perebutan kekuasaan antara presiden yang menjabat dan perdana menteri.
Kedua majelis parlemen akan memberikan suara pada akhir bulan ini, langkah yang diperlukan sebelum melanjutkan ke pemilihan presiden baru negara itu.
Pemilu Somalia mengikuti sistem mandat tidak langsung yang kompleks. Legislatif negara bagian dan delegasi klan memilih anggota parlemen, yang kemudian memilih presiden.
Al-Shabab mengklaim tiga serangan yang dilakukan bulan lalu yang menewaskan lebih dari 50 orang, termasuk anggota parlemen Somalia dan kritikus pemerintah Amina Mohamed Abdi. Mereka juga mengklaim serangan di bandara Mogadishu pekan lalu.[]






















