Jakarta, Gontornews.com — Lembaga Perlindungan Anak Indonesia, Seto Mulyadi atau yang akrab dipanggil Kak Seto menjelaskan, memperbaiki kualitas berkomunikasi dengan anak merupakan salah satu upaya efektif dalam mencegah masuknya para fedofil dalam kehidupan anak-anak.
Selama ini, komunikasi antar anak dan orang tua di Indonesia masih bersifat negatif. Orang tua yang sering marah dan membentak anak tidak akan bisa mentransfer pesan dengan baik, justru akan berdampak negatif pada kehidupan dan masa depan anak.
“Selama ini, memang komunikasi di dalam keluarga diantar anak-anak dengan orang tuanya itu sangat kurang efektif,” jelasnya kepada Gontornews.com, Senin (20/3).
Sehingga tambahnya, anak-anak akan lebih sering keluar rumah dan lebih tertarik dengan berbagai hal negatif, seperti narkoba, tauran, pornografi hingga seks bebas. Bahkan, anak akan cenderung percaya dengan orang yang belum dikenal (red, orang asing), dengan memberikan perhatian dan kasih sayang yang tidak mereka peroleh di dalam keluarga.
Seperti kasus sodomi di Sukabumi, Jawa Barat, yang dilakukan oleh tersangkah emon terhadap ratusan anak laki-laki di bawah umur. Lebih dari setengah anak yang menjadi korban pencabulan emon justru membela tersangkah, “Emon yang memberi kasih sayang dan perhatian kepada kami,” kata Kak Seto memperagakan ucapan anak korban Emon.
Kejahatan seksual terhadap anak menjadi keprihatinan berbagai pihak. Belum lama ini, kasus fedofilia kembali mencuat ke publik setelah group yang menjadi aktivitas para fedofil di salah satu media sosial menjadi viral.
Pihak kepolisian sendiri telah menangkap 4 orang admin yang bertugas mengatur percakapan di group yang dijadikan tempat sharing video atau foto yang berkaitan dengan kejahatan para fedofil.
“Para tersangka membuat grup pada media sosial Facebook dengan nama ‘Official Candys Group’ dan bertindak sebagai admin grup,” ujar Kapolda Metro Jaya, Irjen Pol Mochammad Iriawan dalam jumpa pers di Mapolda Metro Jaya, Selasa (14/3).[Devi Lusiana]




















