Brussels, Gontornews — Uni Eropa, Jumat (16/9/2022), melaporkan bahwa di wilayahnya mengalami kenaikan angka kematian 16 persen lebih banyak dari biasanya pada Juli seiring terjadinya gelombang panas ekstrem.
Gelombang panas ekstrem di Eropa Selatan telah memicu kebakaran hutan di Spanyol, Prancis dan Portugal. Tidak hanya itu, kondisi ekstrem ini juga menyebabkan ribuan kematian di seluruh wilayah Eropa. Situasi ini, tentu saja, juga meningkatkan kekhawatiran masyarakat tentang dampak negatif perubahan iklim serta meningkatnya frekuensi dan intensitas cuaca ekstrem.
Uni Eropa mencatat ada sekitar 53.000 kematian pada bulan Juli, angka rata-rata kematian tertinggi dalam sebulan, termasuk pada tahun 2016 hingga 2019. Angka ini sekaligus mengungkapkan sebuah fenomena kematian dalam situasi krisis yang sangat berbeda dalam situasi normal.
“Berdasarkan informasi yang ada, beberapa peningkatan pada Juli 2022 mungkin terjadi akibat gelombang panas yang mempengaruhi beberapa bagian Eropa,” ungkap Eurostat dalam rilisnya kepada Reuters.
Angka kematian tersebut juga berarti terkonfirmasinya peningkatan 16 persen angka kematian yang lebih tinggi pada bulan Juli. Uni Eropa juga melaporkan peningkatan 3 persen angka kematian pada periode yang sama pada periode 2020 dan 6 persen pada tahun 2021.
Spanyol dan Siprus menjadi dua negara yang melaporkan angka kematian tertinggi pada bulan Juli tersebut. Dua negara tersebut melaporkan rata-rata kematian bulanan hingga 37 persen untuk Spanyol, dan 33 persen untuk Siprus.
Spanyol menjadi negara Eropa yang melewati gelombang panas paling tinggi dalam 40 tahun terakhir di bulan Juli. Pada periode tersebut, Spanyol mencatatkan kenaikan suhu ekstrem hingga melebihi 40 derajat Celcius di beberapa wilayah di bagian selatan dan tengah. [Mohamad Deny Irawan]



















