Paris, Gontornews — Sebuah konferensi yang diselenggarakan UNESCO mengungkapkan bahwa platform digital berhasil memanipulasi kesadaran masyarakat serta meningkatkan penyebaran ujaran kebencian. Meski demikian, konferensi itu juga tidak menampik fakta bahwa platform digital juga mengubah cara berinterkasi masyarakat secara global.
“Platform digital telah mengubah cara kita terhubung dan menghadapi dunia serta cara kita menghadapi satu sama lain,” kata Direktur Jenderal UNESCO, Audrey Azoulay, sebagaimana dilansir Channel News Asia dari AFP.
“(Tetapi) dengan mengevaluasi revolusi teknologi ini, kita juga dapat memastikan bahwa revolusi ini tidak berkompromi dengan hak asasi manusia, kebebasan berekspresi dan demokrasi,” sambungnya.
Tanpa mengesampingkan sisi positif berkomunikasi dan berbagi informasi, UNESCO memperingatkan bahwa platform digital media sosial juga bergantung pada algoritme tertentu. “Sering kali, (platform media sosial) lebih memprioritaskan keterlibatan (penggunan) ketimbang keselamatan dan hak asasi manusia,” ucap Azoulay.
Pada saat yang bersamaan, Azoulay mengungkap tidak banyak sumber daya yang bertugas untuk mengedukasi pengguna atau memoderasi konten.
Seorang wartawan investigasi Filipina, Maria Ressa, menyebut bahwa media sosial menyebabkan pernyebaran kebohongan. Maria Ressa merupakan wartawan yang berhasil mengungkap sejumlah pelanggaran yang dilakukan oleh mantan Presiden Rodrigo Duterte.
“Sistem komunikasi hari ini secara diam-diam telah memanipulasi kita,” kata Ressa di depan peserta konferensi UNESCO di Paris, Rabu 22 Februari 2023.
“Kami hanya fokus pada moderasi konten. Ibarat sebuah sungai yang tercemar, kita mengambil gelas lalu membersihkan air lalu membuangnya kembali,” imbuh Ressa.
“Padahal yang perlu kita lakukan adalah pergi ke pabrik yang mencemari sungai itu, menutupnya serta mengembalikan kejernihan sungai,” ucapnya menambahkan.
Ressa tidak segan mengatakan bahwa pemberitaan online menjadi tantangan besar pekerjaannya. Ia bahkan sempat menerima 98 pesan kebencian hanya dalam rentang satu jam saja. Ressa mengungkap separuh pelaku ujaran kebencian itu berusaha merusak kerdibilitasnya sebagai jurnalis serta klaim palsu atas pemberitaan yang ia sajikan.
Selain tuduhan berita palsu, Ressa juga kerap mengalami serangan yang bersifat personal mulai dari jenis kelamin, warna kulit hingga orientasi sosial. Bahkan, ia juga kerap menerima ancaman pemerkosaan dan pembunuhan.
Sebagian besar hasil konferensi UNESCO ini bertujua menyusun pedoman global untuk mengurangi disinformasi dan ujaran kebencian bagi pemerintah, badan pengatur dan perusahaan digital pada pertengahan 2023 mendatang. [Mohamad Deny Irawan]


















