Ponorogo, Gontornews — Di area kompleks pemakaman keluarga pendiri Gontor (Kiai R. Sulaiman Jamal), terdapat satu makam menyendiri, terpisah dengan jejeran nisan-nisan keturunan Kiai Sulaiman Jamal. Makam tersebut berada di sisi barat dari barisan makam Trimurti Gontor (Kiai Ahmad Sahal, Kiai Zainuddin Fanani dan Kiai Imam Zarkasyi). Di atas papan nisan yang mulai aus termakan usia itu, tertulis nama Nyai Moh. Nur Ngali. Siapakah Nyai Nur Ngali? Dan apa hubungannya dengan Gontor?
Menyebut namanya mungkin terasa asing di telinga warga pondok dan masyarakat desa. Namun siapa sangka, ternyata di balik sosoknya mengalir darah seorang bupati Ponorogo yang gagah berani melawan pasukan Belanda. Keberadaannya di Gontor sekaligus mengungkap jejak diaspora pasukan Diponegoro di sepanjang wilayah selatan Ponorogo.
Keterangan ini terlacak melalui catatan silsilah Nglumpang, yang memuat nama-nama tokoh penting pendukung perjuangan Pangeran Diponegoro di wilayah Ponorogo dan Madiun. Nama-nama tersebut mengerucut pada dua tokoh kenamaan, yaitu R. Brotonegoro atau masyhur dengan gelar Kanjeng Nglarangan, dan Kiai Ageng Rendeng Jiwan Madiun.
Berdasarkan silsilah Nglumpang, Nyai Nur Ngali adalah putri dari R. Tumenggung Brotonegoro (Kanjeng Nglarangan). Dalam catatan tertulis “Kanjeng Nglarangan Sumare ing gunung Gombak” ( Kanjeng Nglarangan dimakamkan di bukit Gombak ). Nama Moh. Nur Ngali disandarkan kepada nama suaminya, Kiai Moh. Nur Ngali, seorang penghulu wilayah Polorejo. Ia masih keturunan Mbah Rendeng Madiun, demikian tertulis dalam silsilah.
Dari pasangan ini lahir seorang putri yang dinikahi oleh Kiai Arham Anom bin Kiai R Sulaiman Jamal (pendiri Gontor lama). Dengan demikian, Kiai Arham Gontor adalah menantu dari Kiai Nur Ngali Polorejo, sekaligus menantu dari cucu Kanjeng Nglarangan. Keterangan kekerabatan keluarga Kiai Arham dengan Kanjeng Nglarangan ini dicatat pula dalam buku Sejarah Gontor (Hafidz Dasuki, A. Hassan).
Dalam hirarki kepemimpinan Pondok Gontor lama, Kiai Arham Anom merupakan generasi kedua yang memangku pondok sepeninggal sang ayah Kiai R. Sulaiman Jamaluddin Adikusuma. Setelah Kiai Arham wafat, estafet kepemimpinan Gontor dilanjutkan oleh generasi ketiga, putranya yang bernama Kiai Santoso Anom. Kiai Santoso Anom adalah ayah dari Kiai Ahmad Sahal, Kiai Zainudin Fanani, dan Kiai Imam Zarkasyi (Trimurti/Gontor baru).
Sedangkan Kiai Nur Ngali sendiri, dalam silsilah, tersambung sebagai keturunan Kiai Ageng Rendeng (Mbah Rendeng). Ada beragam cerita terkait sosok Kiai Rendeng. Menurut keterangan juru kunci setempat, Kiai Rendeng berasal dari Jogjakarta, ia dianggap sebagai tokoh babad desa Kincang. Ia menambahkan, bahwa nama asli Kiai Rendeng tidak diketahui secara pasti, bahkan konon memiliki banyak nama menurut tutur lisan.
Sedangkan ‘Rendeng’ adalah julukan yang disematkan masyarakat terkait dengan kelebihannya (karamah) mendatangkan hujan saat kemarau panjang melanda wilayah setempat. Sumber lain menyebutkan, bahwa Kiai Rendeng, diduga pengikut pasukan Pangeran Diponegoro yang memiliki andil sebagai wasithoh penyebaran tarekat Syatariyah di wilayah Jiwan Madiun.
Walaupun identitas asli Mbah Rendeng beragam versi bahkan masih menjadi misteri. Namun keterangan mengenai daerah asalnya “Jogja” dan afiliasinya ke tarekat “Syatariyah” semakin menguatkan dugaan bahwa Mbah Rendeng terafiliasi dalam pasukan Diponegoro dalam perang Jawa (1825-1830). Sebab pola kehidupannya mirip dengan laskar Diponegoro yang berdiaspora di berbagai tempat pascaperang Jawa, di antaranya babad alas, menyamarkan identitas, mendirikan masjid atau pesantren, dan berafiliasi pada tarekat baik Syatariyah maupun Naqsyabandiyah.
Jika sosok Kiai Rendeng memiliki beragam versi, lain halnya dengan sosok Kanjeng Nglarangan. Ketokohan Kanjeng Nglarangan berikut kisah heroiknya melawan pasukan Belanda diabadikan dalam banyak tulisan, baik babad, artikel ilmiah dan buku-buku sejarah yang mengkaji jejaring pasukan Diponegoro, seperti buku Jejaring Ulama Diponegoro (Z.M Bizawie).
R. Brotonegoro (Kanjeng Nglarangan) dalam Babad Ponorogo tercatat sebagai bupati pertama kadipaten Polorejo (daerah sekitar terminal Seloaji Ponorogo). Secara silsilah, R. Brotonegoro adalah putra Adipati Surodiningrat I, Bupati Ponorogo kota lama. Ia masih trah Katongan (Batoro Katong). Ia juga saudara kandung Adipati Surodiningrat II yang kelak menurunkan R.A Sudarmi (Nyai Santoso Anom), ibunda dari Trimurti Gontor.
Dalam berbagai tulisan, Brotonegoro digambarkan sebagai sosok bupati yang gagah berani memimpin pertempuran melawan Belanda di wilayah Polorejo. Menurut Zainul M. Bizawie dalam Jejaring Ulama Diponegoro, dukungan Brotonegoro pada perjuangan Diponegoro selain berlatar mempertahankan nilai-nilai agama dan kemanusiaan, juga dipicu adanya hubungan kemitraan yang terbangun kuat saat keduanya sama-sama nyantri di Tegalsari.
Aksi heroik Brotonegoro melawan Belanda terjadi pada tahun 1825. Saat itu, Pangeran Diponegoro beserta pasukan memasuki wilayah Ponorogo dari arah Pacitan. Kedatangannya disambut dengan suka cita oleh R. Brotonegoro hingga menyiapkan kediamannya untuk istirahat sang Pangeran dan pasukannya. Namun sayang, informasi keberadaan Diponegoro terdeteksi oleh pihak pasukan Belanda. Tak berselang lama, Belanda mengirimkan pasukannya dari arah Madiun untuk menggempur pertahanan Diponegoro di wilayah Ponorogo.
Mengetahui informasi kedatangan pasukan Belanda, Pangeran Diponegoro bersama pasukan meninggalkan Polorejo melalui jalur selatan. Untuk menghambat laju pasukan Belanda, Brotonegoro menyiapkan pasukannya di perbatasan Ponorogo. Pertempuran antara kedua pasukan meletus di area persawahan sekelip. Karena tidak seimbang dari jumlah pasukan dan persenjataan, pasukan Brotonegoro terdesak mundur sampai wilayah kadipaten Polorejo.
Perlawanan pasukan Brotonegoro tidak berhenti, sang bupati dengan gagah berani terjun langsung dalam pertempuran memimpin pasukannya. Keterbatasan jumlah pasukan dan persenjataan, tidak mempengaruhi semangat Brotonegoro dan pasukannya menghadapi tentara Belanda yang terlatih perang. Justru perlawanan dari pihak Brotonegoro kian sengit meski banyak korban berjatuhan di pihaknya. Saat pertahanan Brotonegoro dan pasukannya kian melemah, saat itulah Brotonegoro tertembak peluru pasukan Belanda.
Mengetahui sang bupati terluka, dengan sigap, kusir kudanya (pekatik) meloncat ke punggung kuda Brotonegoro kemudian melesat keluar dari medan pertempuran. Dalam keadaan terluka, sang bupati dilarikan pekatiknya ke arah barat daya wilayah Dengok (barat kampus Gontor II) hingga berhenti di lereng bukit Gombak. Di saat sang bupati yang tengah terluka merebahkan tubuhnya di lereng bukit, tak disangka dari kejauhan pasukan Belanda datang dan menghujani tubuhnya juga pekatiknya dengan peluru-peluru tajam hingga keduanya menjemput ajal.
Versi lain menyebutkan, pasukan Belanda mengepung persembunyian Brotonegoro di bukit Gombak, yang berdampak putusnya akses bantuan logistik dan bantuan medis untuk bertahan hidup sang bupati. Karena kehabisan logistik dan bantuan medis, akhirnya nyawa sang bupati tidak terselamatkan. Jasad Brotonegoro dan pekatik yang bernama Tejo Sumekar, juga Turonggo Gaprik, nama kuda perangnya, dikubur di puncak bukit Gombak. Setelah masa aman, jasad Brotonegoro dipindah di komplek makam Katongan berdampingan dengan makam sang ayah Adipati Surodiningrat I.
Saat R. Brotonegoro berhasil dilumpuhkan, pasukan Belanda menerbitkan aturan yang melarang warga atau pejabat menziarahi makam Brotonegoro di puncak bukit Gombak. Larangan tersebut menjadi cikal bakal nama wilayah setempat bernama desa Nglarangan. R. Brotonegoro yang dimakamkan di bukit Gombak wilayah desa Nglarangan, kemudian digelari dengan nama Kanjeng Nglarangan.
Usai menumpas R. Brotonegoro dan pasukannya, Belanda kembali ke Polorejo, meluluh-lantahkan kediaman bupati hingga habis. Tidak berhenti di situ saja, bahkan teror dan pengawasan ketat juga diperlakukan pada keluarga dan kerabat dekatnya tak terkecuali Adipati Surodiningrat II yang kala itu memimpin kadipaten Ponorogo Kuto Wetan. Akhir dari itu semua, Belanda menghapus Kadipaten Polorejo dari peta pemerintahan sekaligus memutus rantai kekuasaan trah Katongan yang secara turun temurun memimpin wilayah Ponorogo. Tujuannya hanya satu, untuk melemahkan bahkan menghapus spirit perlawanan dari eks pejuang Diponegoro dan keluarganya.
Ada dugaan kuat Kiai Nur Ngali tergabung dalam pasukan R. Brotonegoro. Hal ini dibuktikan, adanya keterangan lisan mengungkap keterlibatan seorang tokoh Polorejo yang sama-sama berkedudukan sebagai penghulu. Tokoh penghulu tersebut bernama Kiai Muhammad Muso. Menurut keterangan dzuriyah, Kiai Muhammad Muso adalah ayah dari Kiai Besari pendiri masjid Kertosari Babadan. Di gerbang Masjid Kiai Ageng Besari Kertosari tertulis berdiri sejak 1840. Kiai Muso diakui oleh dzuriyyahnya, sebagai pengikut Diponegoro. Berdasarkan ini, perlawanan Brotonegoro kepada Belanda, juga melibatkan lapisan para penghulu Polorejo.
Oleh sebab itu, kuat dugaan bahwa keberadaan Nyai Nur Ngali di Gontor ada kaitannya dengan perjuangan ayahnya R. Brotonegoro dan suaminya Kiai Nur Ngali melawan Belanda di wilayah Polorejo. Hal ini semakin diperkuat dengan ketidak jelasan keterangan mengenai keberadaan makam Kiai Nur Ngali. Artinya ada kemungkinan Kiai Nur Ngali menjadi korban dalam pertempuran di Polorejo dan dimakamkan di suatu tempat atau bersembunyi di suatu tempat setelah memindah keluarganya di Gontor.
Walaupun makam Kiai Nur Ngali masih menjadi misteri, namun keberadaan makam istrinya, Nyai Nur Ngali di Gontor, menjadi data sejarah penting mengungkap adanya ” relasi ” Gontor dalam perjuangan Diponegoro melawan kolonial Belanda. Meski tidak ada bukti tertulis Gontor atau tokohnya terlibat dalam mendukung perjuangan Diponegoro secara fisik, namun pemberian suaka perlindungan bagi keluarga eks pasukan Diponegoro bisa menjadi petunjuk adanya relasi tersebut.
Selain keberadaan makam Nyai Nur Ngali yang menjadi petunjuk relasi Gontor dengan Diponegoro, ada sosok Mbah Abdul Kafi, punjer desa Nglumpang, diduga pengikut Diponegoro. Bagi masyarakat desa Nglumpang (timur Gontor), Mbah Abdul Kafi dikenal sebagai pendatang dari Bagelan yang berjasa membabat wilayah Gontor Tenggara atau, sekarang di area gedung satelit. Sedang masyhur dalam sejarah, Bagelan adalah wilayah di Purworejo yang menjadi pusat konsentrasi pendukung Diponegoro. Besar kemungkinan, Mbah Abdul Kafi juga eks. pasukan Diponegoro yang memilih wilayah sepanjang Gontor dan Nglumpang sebagai tempat persembunyian. Timur makam Mbah Abdul Kafi, tepatnya perbatasan Joresan Nglumpang, juga terdapat tokoh bernama Mbah Abdul Rojak (leluhur penulis) di mana pola kehidupannya mirip dengan tokoh-tokoh yang disebut pengikut Diponegoro.
Selain didukung keberadaan tokoh yang memiliki rekam jejak perjuangan Diponegoro, relasi Gontor dengan Diponegoro dapat terbaca melalui keberadaan pohon sawo yang tumbuh di pelataran pendopo dan masjid pusaka komplek Pondok Gontor. Menurut Bizawie, pohon sawo yang tumbuh di pelataran masjid kuno atau lingkungan pesantren, menjadi simbol eksistensi perjuangan Diponegoro. Pohon Sawo ini mengandung filosofi “sawwu shufufakum” yang artinya “rapatkan barisanmu”. Pola ini hampir ditemukan semua masjid atau pesantren wilayah Ponorogo yang berdiri era pasca perang di antaranya Pesantren Durisawo, Joresan, Al-Bukhori Sampung, Gentan Ngrupit, Mojoroto, dll (penelitian Ashif Fuadi).
Dari sini ada titik temu, antara spirit perjuangan anti kolonialisme yang selama ini menjadi prinsip pendidikan militansi di Gontor dengan pengalaman pendahulu melawan penjajahan. Ungkapan, “Pesantren Anti Penjajah dan Penjajahan” yang selama ini menjadi jargon disampaikan dalam berbagai pertemuan di pondok, bukan sekedar ungkapan lisan semata. Namun ia lahir dari pengalaman sejarah para pendahulu, salah satunya Kanjeng Nglarangan, dalam melawan penjajah dan penjajahan. []
Disarikan dari beberapa sumber: 1. Jejaring Ulama Diponegoro, Zainul Milal Bizawie, 2. Menelusuri Jejak Laskar Diponegoro, Ashif, 3. Silsilah Nasab Nglumpang dan Gontor, 4. Babad Ponorogo Purwowijoyo


















