15
Tonton Selengkapnya
31 °c
Pecenongan
Sun
Mon
Saturday, 6 June, 2026
Login
Langganan
gontornews.com
Daftar Pelatihan Guru Al Barqy
  • Home
  • News
    • Dunia
    • Nasional
    • Nusantara
  • Inspirasi
    • Sirah
    • Dakwah
    • Hidayah
    • Ihwal
    • Jejak
    • Sukses
    • Mujahid
    • Oase
  • Pendidikan
    • Virtual Tour Pesantren
    • Lembaga
    • Buku
    • Beasiswa
    • Risalah
    • Khazanah
    • Keluarga
  • Muamalah
    • Ekonomi
    • Peluang
    • Halal
    • Rihlah
    • Konsultasi
  • Tadabbur
    • Tafsir
    • Hadis
    • Dirasah
  • Values
    • Tausiah
    • Sikap
    • Mahfudzat
    • Kolom
    • Afkar
  • Saintek
    • Sains
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Lingkungan
  • Laput
    • #IBF2020
  • Wawancara
  • Gontoriana
    • Pondok
    • Trimurti
    • Risalah
    • Alumni
  • Berlangganan
  • MG Digital
  • Login
No Result
View All Result
gontornews.com
Langganan
Home Tadabbur Tafsir

Syukur dan Karya Nyata dari Hati untuk Negeri di Hari Kemerdekaan

Oleh Prof Dr H Sofyan Sauri MPd, Guru Besar Universitas Pendidikan Indonesia

Rusdiono Mukri by Rusdiono Mukri
14 August 2025
in Tafsir
0
Syukur dan Karya Nyata dari Hati untuk Negeri di Hari Kemerdekaan

Landasan Teologis

وَاِذْ تَاَذَّنَ رَبُّكُمْ لَىِٕنْ شَكَرْتُمْ لَاَزِيْدَنَّكُمْ وَلَىِٕنْ كَفَرْتُمْ اِنَّ عَذَابِيْ لَشَدِيْدٌ

“(Ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), sesungguhnya azab-Ku benar-benar sangat keras’.” (QS Ibrahim: 7)

Interpretasi Para Mufasir

BACA JUGA

Menghidupkan Spirit Haji Pasca-Idul Adha dalam Kehidupan Sehari-hari

Menyambut Dzulhijjah dengan Semangat Ibadah dan Amal Terbaik  

Peran Jin dan Manusia dalam Kehidupan Sehari-hari

Membangun Integritas Pendidik dan Peserta Didik

Belajar Ikhlas dan Taat dalam Perjalanan Haji

Tafsir Ibnu Katsir mengatakan, pada ayat ini Allah SWT menceritakan kisah Nabi Musa AS tatkala mengingatkan kaumnya yang mengingkari nikmat Allah SWT. Yaitu saat mereka diselamatkan dari cengkeraman dan penyiksaan Fir’aun beserta para pengikutnya.

Fir’aun membunuh setiap anak laki-laki yang ditemuinya dan membiarkan anak-anak perempuan tetap hidup. Namun, Allah SWT menyelamatkan mereka dari semua itu, yang merupakan nikmat terbesar.

Bahkan Allah SWT mengisyaratkan bahwasanya orang-orang yang bersyukur akan mendapatkan nikmat yang berlipat ganda. Begitu pun sebaliknya, balasan bagi orang-orang yang kufur terhadap nikmat Allah SWT akan mendapat siksa yang amat pedih sebagai azab.

Sedangkan dalam Tafsir Al-Azhar Hamka menjelaskan bahwa ayat ini masih berkaitan dengan ayat-ayat sebelumnya yakni kisah Nabi Musa AS dan para pengikutnya. Ayat ini merupakan peringatan Allah SWT kepada kaum Bani Israil setelah mereka dibebaskan dari penindasan Raja Fir’aun.

Kemerdekaan kaum Bani Israil inilah yang harus mereka syukuri. Dalam mewujudkan rasa syukurnya, kaum Bani Israil dituntut untuk berusaha bangkit dan membangun peradabannya sendiri setelah diberi nikmat kebebasan dari kezaliman Raja Fir’aun.

Sulaiman al-Bujairami dalam Tuhfatul Habib ‘ala Syarhil Khatib menyatakan bahwa ketika seorang hamba memanfaatkan semua anugerah Allah padanya dalam waktu bersamaan maka disebut Syakur (banyak bersyukur). Adapun seorang yang menfaatkannya dalam waktu yang berbeda-beda maka dinamai Syakir.

Dalam Tafsir Al-Wajiz karya Wahbah Az-Zuhaili dijelaskan tentang imbauan kepada umat manusia untuk selalu bersyukur atas nikmat pemberian Allah SWT. Allah SWT menjanjikan jika seseorang bersyukur, pasti Allah SWT akan menambah nikmatnya.

Oleh karena itu, wajib bagi Muslim untuk perhatian terhadap perkara syukur ini karena merupakan perkara yang penting. Sehingga setiap Muslim tidak menjadi golongan orang-orang yang kufur atas nikmat Allah dan dapat terhindar dari ancaman azab yang pedih.

Fakhruddin ar-Razi menerangkan dalam kitab Mafatihul Ghaib bahwa kandungan utama dalam Surat Ibrahim ayat 7 setidaknya ada tiga: Pertama, pada hakikatnya syukur merupakan ungkapan rasa pengakuan diri atas nikmat dari yang Maha Pemberi; Kedua, janji Allah untuk menambah kenikmatan bagi yang merasa bersyukur. Nikmat tersebut bisa berbentuk jasmani maupun ruhani; Ketiga, sikap kufur akan nikmat bisa menyebabkan rasa tersiksa. Rasa tersiksa ini muncul karena ia tidak tahu (tertutup) akan nikmat Allah sehingga ia juga tidak benar-benar mengetahui Allah.

Nilai-nilai Pendidikan

QS Ibrahim: 7 mengandung sejumlah nilai-nilai pendidikan bagi manusia. Pertama, Nilai Syukur. Ayat ini menekankan pentingnya bersyukur atas nikmat Allah. Syukur bukan hanya dalam ucapan, tapi juga tindakan, seperti menggunakan nikmat Allah untuk kebaikan.

Guru, orangtua dan tokoh masyarakat harus mengajarkan peserta didik untuk mengenali, mengakui dan menghargai nikmat Allah sebagai bentuk kesadaran spiritual dan bentuk rasa syukur yang diberikan Allah. Karena dengan anak-anak memiliki rasa syukur yang tinggi, mereka akan terbentuk menjadi pribadi yang taat, baik, senang memanfaatkan waktu, dan akan menjauhi segala apa yang dilarang Allah. Sehingga dalam proses pembelajaran dan melewati kehidupan anak-anak akan percaya diri dengan setiap kemampuan yang dimiliki, mereka akan memberikan karya terbaiknya dalam melewati kehidupan.

Kedua, Nilai Tauhid dan Berganung kepada Allah. Ayat ini menunjukkan bahwa Allahlah sumber segala nikmat. Ayat ini memerintahkan kita agar beriman, bertauhid dan bergantung kepada Allah yang Maha Segalanya dan Maha Pemberi. Dan janganlah kita mengingkari nikmat yang Allah berikan, karena mudah bagi Allah memutuskan nikmat yang sedang Allah berikan berubah menjadi azab kepada mereka yang ingkar.

Guru, orangtua dan tokoh masyarakat harus menanamkan kepada peserta didik untuk selalu bergantung kepada Allah dan tidak sombong atas capaian atau kenikmatan dunia yang diperoleh karena semuanya merupakan pemberian Allah, rajinlah bersyukur kepada-Nya atas semua karunia yang tela diberikan.

Ketiga, Nilai Moral dan Etika. Ayat ini mengajarkan nilai moral dan etika seperti rendah hati, suka berterima kasih, dan tidak sombong dalam menerima karunia yang diberikan. Rajin bersyukur merupakan salah satu kebiasaan yang membentuk akhlak yang baik yang disukai Allah dan makhluk-Nya, karena semakin banyak bersyukur semakin terbina akhlak, moral dan etika dalam setiap aspek.

Ayat ini juga mendidik agar kita menghindari kufur nikmat karena kufur nikmat adalah akhlak, moral dan etika yang jelek yang mampu menghilangkan kenikmatan yang kita punya dan mengingkari segala karunia yang diberikan.

Guru, orangtua dan tokoh masyarakat harus melatih peserta didik untuk rajin bersyukur dalam membentuk akhlak mulia anak-anak bangsa untuk terus mengisi kemerdekaan bangsa dan menjadi generasi hebat.

Landasan Teoretis

Dalam buku Mawa’izh, al-Syekh Abdul Qadir Al-Jailani menyebutkan bahwa dalam pandangan ahli hakikat, syukur adalah mengakui nikmat yang diberikan oleh Sang Pemberi nikmat secara khusus.

Syaikh Shalih bin Abdul Aziz alu Syaikh menjelaskan dalam kitabnya At-Tamhid bahwa wajib bagi seorang hamba memahami benar-benar bahwa setiap nikmat berasal dari Allah Ta’ala dan itulah hakikat syukur.

Pakar bahasa Arab, Syekh ar-Raghib al-Ashfahani, berpendapat bahwa kata syukur juga berarti sebagai upaya untuk mau menampakkan nikmat-nikmat Tuhan ke permukaan.

Hakikat syukur menurut Ibnul Qayyim dalam Thariq Al-Hijratain adalah:

الثَّنَاءُ عَلَى النِّعَمِ وَمَحَبَّتُهُ وَالعَمَلُ بِطَاعَتِهِ

“Memuji atas nikmat dan mencintai nikmat tersebut, serta memanfaatkan nikmat untuk ketaatan.”

Ibnul Qayyim dalam ‘Uddah Ash-Shabirin wa Dzakhirah Asy-Syakirin (hlm 187) menyebutkan, rukun syukur itu ada tiga, yaitu: 1) Mengakui nikmat itu berasal dari Allah, 2) Memuji Allah atas nikmat tersebut, 3) Meminta tolong untuk menggapai ridha Allah dengan memanfaatkan nikmat dalam ketaatan.

Imam Ghazali menjelaskan bahwa syukur tersusun atas tiga perkara, yaitu sebagai berikut: Pertama, Ilmu, yaitu pengetahuan tentang nikmat dan pemberiannya, serta meyakini bahwa semua nikmat berasal dari Allah SWT dan tidak akan muncul keinginan memuji yang lain. Sedangkan gerak lidah dalam memuji-Nya hanya sebagai tanda keyakinan.

Kedua, Hal (kondisi spiritual), yaitu pengetahuan dan keyakinan tadi melahirkan jiwa yang tenteram, membuatnya senantiasa senang dan mencintai yang memberi nikmat, dalam bentuk ketundukan, kepatuhan, mensyukuri nikmat bukan hanya dengan menyukai nikmat tersebut melainkan juga dengan mencintai yang memberi nikmat yaitu Allah SWT.

Ketiga, Amal perbuatan, ini berkaitan dengan hati, lisan, dan anggota badan, yaitu hati yang berkeinginan untuk melakukan kebaikan, lisan yang menampakkan rasa syukur dengan pujian kepada Allah SWT dengan melaksanakan perintah Allah SWT dan menjauhi larangan-Nya.

Kemerdekaan merupakan nikmat Allah yang besar dan tidak sepantasnya kita lupakan. Kemerdekaan bangsa Indonesia bukanlah hasil semata dari kekuatan fisik dan senjata, melainkan juga buah dari perjuangan yang dilandasi semangat keimanan dan doa yang tak putus dari para pejuang dan ulama. Kesadaran ini harus menumbuhkan rasa syukur yang mendalam.

Syukur atas kemerdekaan tidak cukup hanya dengan lisan, tetapi harus diwujudkan dalam sikap dan tindakan nyata. Mensyukuri kemerdekaan berarti menggunakan kebebasan yang ada untuk melakukan amal shalih, meningkatkan kualitas diri dan masyarakat,  ikut menjaga keutuhan bangsa, memberikan karya nyata dari hati untuk mengisi kemerdekaan sejati.

Jadikanlah iman dan takwa sebagai penuntun hati, syukur sebagai akhlak terpuji dalam menerima karunia yang hakiki dari Sang Ilahi, maka in syaa Allah kita akan menjadi generasi yang tidak hanya menikmati kemerdekaan, tetapi juga bertanggung jawab untuk mengisinya dengan hal-hal yang diridhai Allah SWT.

Menyongsong peringatan ke-80 kemerdekaan tahun ini, semangat kebangsaan harus terus digaungkan melalui rasa syukur yang mendalam dan diwujudkan dalam karya nyata demi kemajuan bangsa.

Rasa syukur atas kemerdekaan bukan hanya diwujudkan dalam ucapan, tetapi lebih dalam, harus tertanam dalam kesadaran kolektif sebagai bangsa. Syukur atas kemerdekaan mendorong kita untuk tidak menyia-nyiakan apa yang telah diperjuangkan dengan darah dan air mata. Syukur berarti menjaga, merawat, dan melanjutkan estafet perjuangan itu dalam kehidupan sehari-hari.

Allah mengingatkan dalam firman-Nya:

اِنَّ اللّٰهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتّٰى يُغَيِّرُوْا مَا بِاَنْفُسِهِمْۗ

Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka. (QS Ar-Ra’d: 11)

Dalam Kitab Tafsir Jami’ul Bayan fi Ta’wilil Qu’ran atau yang terkenal dengan Kitab Tafsir At-Thabari Juz 16 halaman 382 disebutkan, dalam ayat ini Allah mengingatkan semua bahwa manusia itu sebenarnya sudah dalam kebaikan dan kenikmatan. Allah tidak akan mengubah kenikmatan-kenikmatan seseorang kecuali mereka mengubah kenikmatan menjadi keburukan sebab perilakunya sendiri, di antaranya dengan bersikap zalim dan saling bermusuhan kepada saudaranya sendiri.

Ayat ini sangat relevan dengan momentum HUT RI karena pada dasarnya kita sudah diberikan nikmat besar oleh Allah SWT berupa kemerdekaan. Oleh karena itu kita harus menggunakan kemerdekaan ini untuk mengubah nasib kita menjadi lebih baik ke depan

Rasa syukur akan melahirkan sikap positif seperti cinta tanah air, hormat kepada simbol negara, toleransi antarumat beragama, dan kepedulian terhadap sesama. Kemudian karya nyata merupakan bentuk pengabdian dan kontribusi sesuai bidangnya masing-masing.

Seorang pelajar bersyukur dan berkarya dengan belajar sungguh-sungguh. Seorang petani bersyukur dan berkarya dengan menggarap lahan dengan tekun dan jujur. Seorang guru bersyukur dan berkarya dengan mencerdaskan anak bangsa. Dan seorang pemimpin bersyukur dan berkarya dengan melayani masyarakat dengan integritas, keteladanan, dan profesional.

Rasulullah SAW telah mengingatkan kita untuk bekerja secara profesional di antaranya termaktub dalam hadis riwayat Thabrani.

Rasulullah SAW bersabda:

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا قَالَتْ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنّ اللَّهَ تَعَالى يُحِبّ إِذَا عَمِلَ أَحَدُكُمْ عَمَلاً أَنْ يُتْقِنَهُ (رواه الطبرني والبيهقي)

“Dari Aisyah RA, sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda: ‘Sesungguhnya Allah mencintai seseorang yang apabila bekerja, mengerjakannya secara profesional’.” (HR Thabrani, No: 891 dan Baihaqi, No: 334)

Pekerjaan dan karya nyata pun bisa dilakukan dari hal-hal kecil seperti menjaga kebersihan lingkungan, mematuhi aturan lalu lintas, tidak membuang sampah sembarangan, tidak menyebar hoaks, serta menjunjung tinggi nilai-nilai kejujuran dan tanggung jawab. Semangat berkarya merupakan bentuk penghormatan terbaik kepada para pahlawan yang telah gugur demi tegaknya Merah Putih.

Selain itu, rasa syukur atas kemerdekaan menuntut kita untuk peduli terhadap sesama. Kemerdekaan sejati bukan hanya tentang kebebasan diri sendiri, tetapi juga tentang memastikan orang lain dapat menikmati hak yang sama. Ketika kita membantu fakir miskin, menyantuni anak yatim, atau menjaga lingkungan, sesungguhnya kita sedang berkontribusi menjaga kemerdekaan sosial dan kemerdekaan moral bangsa. Nilai-nilai kepedulian ini merupakan fondasi kokoh agar kemerdekaan tetap bermakna dari generasi ke generasi.

Karya Nyata dari Hati

Lalu bagaimana cara agar  kita senantiasa bersyukur dan dapat memberikan karya nyata dari hati di hari kemerdekaan? Pertama, selalu menegakkan shalat, menunaikan zakat, berbuat yang makruf dan mencegah dari yang mungkar. Allah SWT berfirman:

اَلَّذِيْنَ اِنْ مَّكَّنّٰهُمْ فِى الْاَرْضِ اَقَامُوا الصَّلٰوةَ وَاٰتَوُا الزَّكٰوةَ وَاَمَرُوْا بِالْمَعْرُوْفِ وَنَهَوْا عَنِ الْمُنْكَرِۗ وَلِلّٰهِ عَاقِبَةُ الْاُمُوْرِ

“(Yaitu) orang-orang yang jika Kami beri kemantapan (hidup) di bumi, mereka menegakkan shalat, menunaikan zakat, menyuruh berbuat yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar. Hanya kepada Allah kesudahan segala urusan.” (QS Al-Hajj: 41)

Mari kita syukuri kemerdekaan ini dengan mempertahankan keutuhan jati diri bangsa dengan nilai-nilai Islam yang tinggi dan cinta kepada negeri ini.

Kedua, menjadi hamba sejati yang merdeka. Janganlah kita menjadi budak dunia dan budak hawa nafsu karena hakikatnya kita belum merdeka dari rasa tamak dan tidak puas. Rasulullah SAW bersabda:

ﺗَﻌِﺲَ ﻋَﺒْﺪُ ﺍﻟﺪِّﻳْﻨَﺎﺭِ ﺗَﻌِﺲَ ﻋَﺒْﺪُ ﺍﻟﺪِّﺭْﻫَﻢِ، ﺗَﻌِﺲَ ﻋَﺒْﺪُ ﺍﻟْﺨَﻤِﻴْﺼَﺔِ ﺗَﻌِﺲَ ﻋَﺒْﺪُ ﺍﻟْﺨَﻤِﻴْﻠَﺔِ ﺇِﻥْ اُﻋْﻄِﻲَ ﺭَﺿِﻲَ ﻭَﺇِﻥْ ﻟَﻢْ ﻳُﻌْﻂَ ﺳَﺨِﻂَ

“Celakalah hamba dinar, celakalah hamba dirham, celakalah hamba khamisah dan khamilah (sejenis pakaian yang terbuat dari wool/sutera). Jika diberi, dia senang. Tetapi jika tidak diberi, dia marah.” (HR Bukhari)

Dunia dan harta memperbudak manusia dengan mendorong manusia menjadi tamak dan tidak pernah puas. Maka dalam mengisi kemerdekaan kita bebaskan dunia karena Allah sudah menentukan segalanya bagi kita, sehingga kita yakin kepada Allah dan tidak takut kehilangan dunia.

Ketiga, saling mencintai saudaranya dengan saling membantu. Rasulullah SAW bersabda:

عَنْ أَبِي حَمْزَةَ أَنَسٍ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – خَادِمِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: ” لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيْهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ ” رَوَاهُ البُخَارِيُّ وَمُسْلِمٌ

“Dari Abu Hamzah Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, pembantu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Salah seorang di antara kalian tidaklah beriman (dengan iman sempurna) sampai ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri’.” (HR Bukhari dan Muslim)

Keempat, berdoa, berdzikir, bersyukur dan memperbaiki ibadah. Rasulullah SAW bersabda:

إِنِّيْ لَأُحِبُّكَ ، لاَ تَدَعَنَّ فِيْ دُبُرِ كُلِّ صَلاَةٍ تَقُوْلُ:  اَللّٰهُمَّ  أَعِنِّيْ عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ.

“Sungguh aku mencintaimu, janganlah engkau tinggalkan di akhir (setelah selesai) setiap shalat untuk mengucapkan ‘Ya Allâh, tolonglah aku untuk berdzikir (selalu ingat) kepada-Mu, bersyukur kepada-Mu, serta memperbaiki ibadah kepada-Mu’.” (HR Abu Dawud, No. 1522)

Kelima, rajin bekerja secara baik dan profesional. Allah SWT berfirman:

وَقُلِ اعْمَلُوْا فَسَيَرَى اللّٰهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُوْلُهٗ وَالْمُؤْمِنُوْنَۗ وَسَتُرَدُّوْنَ اِلٰى عٰلِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَۚ

“Katakanlah (Nabi Muhammad), ‘Bekerjalah! Maka, Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang Mukmin akan melihat pekerjaanmu. Kamu akan dikembalikan kepada (Zat) yang mengetahui yang gaib dan yang nyata. Lalu, Dia akan memberitakan kepada kamu apa yang selama ini kamu kerjakan’.” (QS At-Taubah: 105)

Ayat tersebut menegaskan bahwa kita harus mengisi hidup ini dengan beramal dan bekerja untuk kepentingan duniawi maupun ukhrawi. Tidak ada alasan untuk mengabaikan kedua amal tersebut karena Allah SWT telah memberi kita kemerdekaan.

Keenam, disiplin kerja, terus berbuat kebaikan dan senantiasa berharap kepada Allah. Allah SWT berfirman:

فَاِذَا فَرَغْتَ فَانْصَبْۙ ۝٧وَاِلٰى رَبِّكَ فَارْغَبْࣖ ۝٨

“Apabila engkau telah selesai (dengan suatu kebajikan), teruslah bekerja keras (untuk kebajikan yang lain), dan hanya kepada Tuhanmu berharaplah!” (QS Al-Insyirah: 7-8)

Ayat ini melandasi upaya kita bahwa setelah kemerdekaan tercapai, kita harus mengisinya dengan disiplin kerja yang tinggi, berbuat kebaikan, menciptakan kemaslahatan dan senantiasa berharap kepada Allah dalam membangun bangsa dan negara yang maju dan negara yang damai.

Ketujuh, menjadi bagian dalam mempersiapkan generasi unggul, baik dalam bidang ilmu pengetahuan, pertahanan dan lain-lain. Allah SWT berfirman:

وَاَعِدُّوْا لَهُمْ مَّا اسْتَطَعْتُمْ مِّنْ قُوَّةٍ وَّمِنْ رِّبَاطِ الْخَيْلِ تُرْهِبُوْنَ بِهٖ عَدُوَّ اللّٰهِ وَعَدُوَّكُمْ وَاٰخَرِيْنَ مِنْ دُوْنِهِمْۚ لَا تَعْلَمُوْنَهُمْۚ اَللّٰهُ يَعْلَمُهُمْۗ

“Persiapkanlah untuk (menghadapi) mereka apa yang kamu mampu, berupa kekuatan (yang kamu miliki) dan pasukan berkuda. Dengannya (persiapan itu) kamu membuat gentar musuh Allah, musuh kamu dan orang-orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya, (tetapi) Allah mengetahuinya.” (QS Al-Anfal: 60)

Kisah Teladan

Di tengah kemenangan Nabi dan kaum Muslimin dalam Fathu Makkah, ada satu peristiwa ketika Abu Sufyan dan para pembesar Quraisy akhirnya menyerah dan bersedia mengikuti petunjuk Nabi Muhammad SAW.

Kemudian Nabi meminta kepada para pimpinan pasukannya, baik pasukan jalur normal, pasukan lembah, dan pasukan bukit untuk menyatakan, al-yaum yaumal marhamah (hari ini hari kasih sayang). Namun, salah seorang sahabat Nabi berteriak: al-yaum yaumal malhamah (hari ini adalah hari pertumpahan darah).

Atas pernyataan dari sahabat Nabi tersebut, penduduk Mekkah kembali diselimuti ketakutan. Abu Sufyan gentar kemudian melayangkan protes, kenapa menjadi hari pertumpahan darah padahal sebelumnya diumumkan hari kasih sayang dan hari pengampunan.

Rasulullah lalu menjawab, tidak begitu maksudnya. Sahabat tersebut lidahnya cadel, tidak bisa menyebut huruf ra, sehingga huruf ra terucap la. Hal itu yang menyebabkan kalimat al-yaum yaumal marhamah berubah menjadi al-yaum yaumal malhamah sehingga menimbulkan kesalapahaman.

Mendengar hal itu, penduduk Kota Mekkah lega dan bahagia mendapat kasih sayang Rasulullah. Mereka berbondong-bondong masuk Islam atas kasih sayang tersebut. Karena mereka sendiri tidak menyangka bakal mendapat perlakuan sebaliknya, kebaikan Rasulullah SAW dalam pembebasan Kota Mekkah.

Saat itu Umat Islam mengambil alih Mekkah dari kafir Quraisy tanpa ada perlawanan dan perang. Tak ada pertumpahan darah dalam peristiwa itu. Ka’bah dan sekitarnya di Masjidil Haram disucikan dari berhala sembahan kafir Quraisy.

Pada hari kedua, Nabi SAW berkhutbah di hadapan manusia. Setelah membaca tahmid beliau bersabda, “Sesungguhnya Allah telah mengharamkan Mekkah. Maka tidak halal bagi orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir untuk menumpahkan darah dan mematahkan batang pohon di sana. Jika ada orang yang beralasan dengan perang yang dilakukan Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam, maka jawablah: “Sesungguhnya Allah mengizinkan RasulNya shallallahu ‘alahi wa sallam dan tidak mengizinkan kalian. Allah hanya mengizinkan untukku beberapa saat di siang hari. Hari ini Keharaman Mekkah telah kembali sebagaimana keharamannya sebelumnya. Maka hendaknya orang yang hadir menyampaikan kepada yang tidak hadir.”

Nabi SAW diizinkan Allah untuk berperang di Mekkah hanya pada hari penaklukan Kota Mekkah dari sejak terbit matahari hingga Ashar.

Beliau tinggal di Mekkah selama sembilan hari dengan selalu mengqashar shalat dan tidak berpuasa Ramadhan di sisa hari bulan Ramadhan.

Sejak saat itulah, Mekkah menjadi negeri Islam, sehingga tidak ada lagi hijrah dari Mekkah menuju Madinah. Demikianlah kemenangan yang sangat nyata bagi kaum Muslimin. Telah sempurna pertolongan Allah. Suku-suku Arab berbondong-bondong masuk Islam. Demikianlah karunia besar yang Allah berikan kepada umat Islam hingga hari ini yang wajib kita syukuri.

Mekkah hari ini sangatlah berkembang pesat dan maju, masyarakatnya rukun dan terus menjaga warisan Nabi SAW dengan menerapkan syariat Islam, menjaga keharaman Mekkah, menjaga nilai persaudaraan dan toleransi, maka Mekkah akan senantiasa menjadi baldatun wa rabbun ghafur.

رَبِّ اَوْزِعْنِيْٓ اَنْ اَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِيْٓ اَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلٰى وَالِدَيَّ وَاَنْ اَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضٰىهُ وَاَدْخِلْنِيْ بِرَحْمَتِكَ فِيْ عِبَادِكَ الصّٰلِحِيْنَ

“Ya Tuhanku, anugerahkanlah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada kedua orangtuaku dan agar aku mengerjakan kebajikan yang Engkau ridhai; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang shalih.” (QS An-Naml: 19)  []

Tags: HUT Kemerdekaan RISyukur
Share10Tweet6Send
Previous Post

WMSJ Tegaskan Komitmen Persaudaraan dan Perdamaian Dunia

Next Post

Terinspirasi Cintanya pada Gontor: Gubernur Pramono Dukung Penuh WMSJ 2025

Rusdiono Mukri

Rusdiono Mukri

Redaksi Majalah Gontor

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site is protected by reCAPTCHA and the Google Privacy Policy and Terms of Service apply.

  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pesantren Wisuda: Bekali Lulusan SMPIT Insantama Leuwiliang Menuju Masa Depan

Pesantren Wisuda: Bekali Lulusan SMPIT Insantama Leuwiliang Menuju Masa Depan

4 June 2026
Filosofi Takbir, Tahlil, dan Tahmid dalam Idul Adha: Kajian Ontologis, Epistemologis, dan Aksiologis

Filosofi Takbir, Tahlil, dan Tahmid dalam Idul Adha: Kajian Ontologis, Epistemologis, dan Aksiologis

30 May 2026
Menghidupkan Spirit Haji Pasca-Idul Adha dalam Kehidupan Sehari-hari

Menghidupkan Spirit Haji Pasca-Idul Adha dalam Kehidupan Sehari-hari

31 May 2026
Ini dia Lirik Lagu Gontor ‘Takkan Terlupa’

Ini dia Lirik Lagu Gontor ‘Takkan Terlupa’

30 August 2021
Bekali Lulusan Hadapi Ujian Kehidupan, SMPIT Insantama Leuwiliang Gelar Pesantren Wisuda di Kawasan Wisata Gunung Salak

Bekali Lulusan Hadapi Ujian Kehidupan, SMPIT Insantama Leuwiliang Gelar Pesantren Wisuda di Kawasan Wisata Gunung Salak

4 June 2026
Kisah Alumni SMPIT Insantama Leuwiliang Bekali Junior pada Pesantren Wisuda 2026

Kisah Alumni SMPIT Insantama Leuwiliang Bekali Junior pada Pesantren Wisuda 2026

0
Ikhlas: Rahasia Ketangguhan Gontor

Ikhlas: Rahasia Ketangguhan Gontor

0
Mahasiswi Penerima Beasiswa BAZNAS Raih Juara 1 Panahan Nasional

Mahasiswi Penerima Beasiswa BAZNAS Raih Juara 1 Panahan Nasional

0
Pesantren Wisuda: Bekali Lulusan SMPIT Insantama Leuwiliang Menuju Masa Depan

Pesantren Wisuda: Bekali Lulusan SMPIT Insantama Leuwiliang Menuju Masa Depan

0
Bekali Lulusan Hadapi Ujian Kehidupan, SMPIT Insantama Leuwiliang Gelar Pesantren Wisuda di Kawasan Wisata Gunung Salak

Bekali Lulusan Hadapi Ujian Kehidupan, SMPIT Insantama Leuwiliang Gelar Pesantren Wisuda di Kawasan Wisata Gunung Salak

0
Kisah Alumni SMPIT Insantama Leuwiliang Bekali Junior pada Pesantren Wisuda 2026

Kisah Alumni SMPIT Insantama Leuwiliang Bekali Junior pada Pesantren Wisuda 2026

6 June 2026
Mahasiswi Penerima Beasiswa BAZNAS Raih Juara 1 Panahan Nasional

Mahasiswi Penerima Beasiswa BAZNAS Raih Juara 1 Panahan Nasional

5 June 2026
Ikhlas: Rahasia Ketangguhan Gontor

Ikhlas: Rahasia Ketangguhan Gontor

5 June 2026
BCA Syariah Salurkan Zakat Nasabah kepada BAZNAS dan Hadirkan Fitur ZIS di BSya

BCA Syariah Salurkan Zakat Nasabah kepada BAZNAS dan Hadirkan Fitur ZIS di BSya

5 June 2026
Pesantren Wisuda: Bekali Lulusan SMPIT Insantama Leuwiliang Menuju Masa Depan

Pesantren Wisuda: Bekali Lulusan SMPIT Insantama Leuwiliang Menuju Masa Depan

4 June 2026
gontornews.com

Kantor :
Jalan Taman Sejahtera No.1A RT.06 RW.03 (Samping Masjid Jami' Al-Munir) Gandaria Selatan, Cilandak, Jakarta Selatan
Telp : 021-29124801
Fax : 021-29124802
Layanan Pelanggan : 0819-1515-1456 (Khusus WA)
Email :
[email protected]
[email protected]
[email protected]

TENTANG KAMI

  • Profil
  • Redaksi & Manajemen
  • Info Iklan
  • Panduan Kebijakan Media
  • Berlangganan Majalah
  • Komplain Majalah
  • Privacy Policy

INSTAGRAM

Ikuti Kami

  • Alur Pendaftaran Program Persiapan Calon Pelajar Pondok Modern Darussalam GontorSource: gontortv
https://youtu.be/cUA3pvD43i8Video ini menjelaskan alur pendaftaran Program Persiapan Calon Pelajar Kulliyatu-l-Mu’allimin Al-Islamiyah (KMI) Pondok Modern Darussalam Gontor secara lengkap dan sistematis.Informasi lengkap terkait pendaftaran Program Persiapan Calon Pelajar KMI Pondok Modern Darussalam Gontor dapat diakses melalui:
https://gontor.ac.id/persiapanPendaftaran online dilakukan melalui halaman resmi:
https://capel.gontor.ac.id
  • Kunjungan Tim Redaksi Majalah Gontor ke Pondok Pesantren Modern Darel Azhar RangkasbitungIntip momen seru kunjungan Tim Redaksi Majalah Gontor saat berkeliling melihat fasilitas, unit ekonomi, hingga suasana belajar di Pondok Pesantren Modern Darel Azhar Rangkasbitung.#DarelAzhar #MajalahGontor #KunjunganMahabbah #PondokModern #Rangkasbitung #SantriIndonesia #UkhuwahIslamiyah #DuniaPesantren #Gontor #LiterasiSantri
#majalahgontor
#gontornews
  • Tujuan dari sains Islam adalah meletakkan kembali jejak Tuhan di dalam kausalitas alam, agar manusia tidak arogan dan menganggap alam bekerja tanpa pencipta.Prof. Dr. KH. Hamid Fahmy Zarkasyi, M.A.Ed., M.Phil.#nasehat
#motivasionline
#belajarbaik
#hidupislami
#kehidupanislam
#majalahgontor
#gontornews
#kiaiku
#memperbaikidiri
#ilmupengetahuan
  • Membaca Al-Qur
  • Kebebasan dalam Islam bukanlah kebebasan tanpa batas, melainkan
  • Nasehat dalam memimpin suatu lembaga:
(Yang sulit dan menjadi tantangan dalam memimpin lembaga itu adalah:)
1. Noto Atine Dewe
2. Noto Atine Wong Liyo
3. Noto Atine Wong Liyo Sing luwih Tuo
4. Noto Atine Wong Liyo Sing luwih Tuo Sing Tukaran.KH Hasan Abdullah Sahal#nasehat
#motivasi
#belajar
#hidup
#kehidupan
#majalahgontor
#gontornews
  • Beriman itu tandanya jujur. Beriman itu tandanya bersaudara. Iman seseorang bisa diukur dari perilakunyaProf. Dr. KH. Hamid Fahmy Zarkasyi, M.A.Ed., M.Phil.#nasehat
#motivasi
#belajar
#hidup
#kehidupan
#majalahgontor
#gontornews
#kiaiku
#memperbaikidiri
  • KAJIAN PARENTING EKSKLUSIF & VIRTUAL TOUR ARABIC GLOBAL SCHOOL JAKARTA.Menyiapkan Generasi Cerdas: Menyeimbangkan Adab Islami & Kompetensi Global di Era DigitalBersama Narasumber dari Arabic Global School (AGS):
1.​Dedek Febrian (Pembimbing Akademik AGS)
2.​Ramdhanil (Kepala Sekolah Kindergarten AGS)
3.​Adi Suroto (Kepala Sekolah Primary AGS)Moderator :
Devi Lusianawati
Reporter Majalah Gontor dan Gontornews.com🗓 Rabu, 22 April 2026
⏰ 13.00 – 15.30 WIB​👇 KLIK LINK DI BAWAH INI UNTUK MENDAFTAR:
👉 https://bit.ly/pendaftaran-kajian-online#bedahbuku #parentingislami #muslimmilenial #gontornews #majalahgontor #gontor #kajianonline #kajianislam #psikologianak #polaasuh #bukuislami #livezoom #webinarislami #pendidikananak #belajarparenting #polaasuhanak #generasimilenial #islammodern #kajianjakarta
  • Mestinya orang Islam itu hanya dengan menjalankan shalat, jiwanya itu bersih. Shalat itu harus ada hubungannya dengan perilaku.Prof. Dr. KH. Hamid Fahmy Zarkasyi, M.A.Ed., M.Phil.#nasehat
#motivasi
#belajar
#hidup
#kehidupan
#majalahgontor
#gontornews
#kiaiku
#memperbaikidiri

© 2023 gontornews.com. All Rights Reserved

Banner Footer
▲
Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com
  • Home
  • News
    • Dunia
    • Nasional
    • Nusantara
  • Inspirasi
    • Sirah
    • Dakwah
    • Hidayah
    • Ihwal
    • Jejak
    • Sukses
    • Mujahid
    • Oase
  • Pendidikan
    • Virtual Tour Pesantren
    • Lembaga
    • Buku
    • Beasiswa
    • Risalah
    • Khazanah
    • Keluarga
  • Muamalah
    • Ekonomi
    • Peluang
    • Halal
    • Rihlah
    • Konsultasi
  • Tadabbur
    • Tafsir
    • Hadis
    • Dirasah
  • Values
    • Tausiah
    • Sikap
    • Mahfudzat
    • Kolom
    • Afkar
  • Saintek
    • Sains
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Lingkungan
  • Laput
    • #IBF2020
  • Wawancara
  • Gontoriana
    • Pondok
    • Trimurti
    • Risalah
    • Alumni
  • Berlangganan
  • MG Digital
  • Login
No Result
View All Result