Landasan Teologis
وَالْفَجْرِۙ ١
وَلَيَالٍ عَشْرٍۙ ٢
Artinya: “(1) Demi waktu fajar, (2) Demi malam yang sepuluh.” (QS Al-Fajar: 1-2)
Interpretasi Para Mufasir
Tafsir As-Sa’di menyebutkan, dalam ayat ini Allah Ta‘ala bersumpah dengan waktu fajar, yaitu akhir malam dan permulaan siang. Karena pada pergantian malam menuju siang terdapat tanda-tanda yang menunjukkan sempurnanya kekuasaan Allah Ta‘ala. Pada waktu fajar juga terdapat shalat yang mulia dan agung, sehingga pantas Allah bersumpah dengannya.
Oleh karena itu, setelahnya Allah bersumpah dengan malam-malam yang sepuluh, yang menurut pendapat paling benar yaitu sepuluh malam terakhir Ramadhan atau sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah. Karena malam-malam tersebut mencakup hari-hari yang utama, dan di dalamnya terdapat berbagai ibadah dan pendekatan diri kepada Allah yang tidak terdapat pada waktu-waktu lainnya.
Disebutkan juga dalam tafsir As-Sa’di bahwa pada sepuluh malam terakhir Ramadhan terdapat malam Lailatul Qadar, yang nilainya lebih baik daripada seribu bulan. Pada siang harinya terdapat puasa di akhir Ramadhan, yang merupakan salah satu rukun Islam.
Dan juga pada sepuluh hari pertama Dzulhijjah terdapat wukuf di Arafah, yaitu saat Allah memberikan ampunan kepada hamba-hamba-Nya dengan ampunan yang membuat setan merasa sangat sedih. Tidak pernah terlihat setan lebih hina dan lebih terusir daripada ketika hari Arafah, karena ia melihat turunnya para malaikat dan limpahan rahmat Allah kepada hamba-hamba-Nya.
Pada hari-hari itu juga dilaksanakan banyak amalan haji dan umrah. Semua itu merupakan perkara-perkara yang agung dan layak bagi Allah untuk bersumpah dengannya.
Sedangkan dalam tafsir Al-Baghawi disebutkan beberapa makna ayat “Demi fajar” (Allah SWT bersumpah dengan waktu fajar), yaitu: Pertama, diriwayatkan oleh Abu Shalih dari Ibnu Abbas, beliau berkata, “Yang dimaksud adalah terbitnya fajar setiap hari.” Sedangkan ‘Athiyyah meriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa yang dimaksud adalah shalat Subuh.
Qatadah berkata, “Yang dimaksud adalah fajar pada hari pertama bulan Muharram, karena dari waktu itu tahun mulai terbuka.” Sementara itu, Adh-Dhahhak berkata, “Yang dimaksud adalah fajar Dzulhijjah, karena ia disandingkan dengan malam-malam yang sepuluh.”
Diriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa yang dimaksud adalah sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah. Ini juga merupakan pendapat Mujahid, Qatadah, Adh-Dhahhak, As-Suddi, dan Al-Kalbi.
Dalam tafsir Al-Qurthubi disebutkan makna ayat pertama surat al-Fajr: “Demi fajar”, Allah bersumpah dengan waktu fajar. Para ulama berbeda pendapat tentang makna “fajar”. Sebagian berkata bahwa yang dimaksud adalah terbitnya cahaya siang setelah gelap malam pada setiap hari. Pendapat ini dikemukakan oleh Ali, Ibnu Zubair, dan Ibnu Abbas.
Diriwayatkan pula dari Ibnu Abbas bahwa yang dimaksud adalah seluruh siang hari, namun disebut dengan “fajar” karena fajar merupakan permulaan siang.
Ibnu Muhaishin meriwayatkan dari ‘Athiyyah, dari Ibnu Abbas bahwa yang dimaksud adalah fajar pada hari pertama bulan Muharram. Diriwayatkan pula dari Qatadah bahwa yang dimaksud adalah shalat Shubuh. Sedangkan riwayat dari Ibnu Abbas menyebutkan demi fajar adalah siang hari.
Dalam tafsir Al-Qurthubi juga disebutkan Ibnu Juraij meriwayatkan dari ‘Atha’, dari Ibnu Abbas bahwa makna “Demi fajar” adalah pagi hari Idul Adha. Karena Allah Ta‘ala menjadikan setiap hari memiliki malam sebelumnya, kecuali hari Nahr (Idul Adha). Sebab hari Arafah memiliki dua malam: malam sebelumnya dan malam sesudahnya. Maka siapa yang masih mendapatkan wukuf pada malam setelah Arafah, berarti ia masih mendapatkan haji hingga terbit fajar pada hari Nahr. Ini juga merupakan pendapat Mujahid.
Ikrimah berkata, “Yang dimaksud dengan fajar adalah terbitnya fajar pada hari Jam‘i (Muzdalifah).” Dan Muhammad bin Ka‘ab Al-Qurazhi menyebutkan, “Fajar adalah akhir dari hari-hari yang sepuluh, ketika kalian bertolak dari Muzdalifah.”
Adh-Dhahhak berkata, “Itu fajar Dzulhijjah, karena Allah Ta‘ala menyandingkan hari-hari tersebut dengannya.”
Dalam tafsir Al-Qurthubi disebutkan makna firman-Nya dalam ayat kedua: “Dan malam-malam yang sepuluh” maksudnya yaitu sepuluh malam pertama bulan Dzulhijjah. Demikian pula pendapat Mujahid, As-Suddi, dan Al-Kalbi mengenai firman Allah: “Dan malam-malam yang sepuluh”, yaitu sepuluh hari Dzulhijjah.
Masruq berkata, “Itu sepuluh malam yang disebut Allah dalam kisah Nabi Musa AS. Malam-malam itu merupakan hari-hari terbaik dalam setahun.”
Abu Az-Zubair meriwayatkan dari Jabir bahwa Rasulullah bersabda, “Itu sepuluh hari Idul Adha (Dzulhijjah).” Maka malam-malam tersebut disebut “sepuluh malam” menurut pendapat ini, karena malam hari Nahr (Idul Adha) termasuk di dalamnya. Allah telah mengkhususkannya sebagai waktu wukuf bagi orang yang belum sempat wukuf pada hari Arafah.
Inti Reflektif
Surat Al-Qur’an pada ayat pertama dan kedua dari Surat Al-Fajr mengingatkan bahwa Allah bersumpah demi waktu fajar dan malam-malam yang sepuluh, yang oleh banyak ulama ditafsirkan sebagai sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah. Ini menunjukkan betapa agung dan mulianya waktu tersebut di sisi Allah.
Kajian ini mengajak kita untuk tidak menyia-nyiakan momentum Dzulhijjah, tetapi mengisinya dengan semangat ibadah, memperbanyak amal shalih, dzikir, doa, sedekah, puasa, serta memperbaiki hubungan dengan Allah dan sesama manusia. Hari-hari mulia ini menjadi kesempatan bagi setiap Muslim untuk meningkatkan ketakwaan dan mendekatkan diri kepada Allah dengan amal terbaiknya.
Fajar yang Allah jadikan sumpah juga memberi pesan bahwa setiap datangnya waktu baru menjadi peluang untuk hijrah menuju pribadi yang lebih baik, lebih ikhlas dalam beribadah, dan lebih sungguh-sungguh dalam mempersiapkan bekal akhirat
Nilai-Nilai Pedagogis
QS Al-Fajar: 1-2 mengandung sejumlah nilai-nilai pendidikan (pedagogi) bagi umat manusia, khususnya umat Islam. Pertama, Nilai Ketauhidan dan Keimanan. Allah membuka surat ini dengan sumpah atas waktu-waktu tertentu. Hal ini menunjukkan kebesaran Allah sebagai pencipta waktu dan kehidupan. Hal ini mengajarkan kita untuk meyakini kekuasaan Allah, mengagungkan ciptaan-Nya, dan menumbuhkan rasa iman dan takwa.
Guru dan orang tua harus mendidik dan membiasakan peserta didik untuk senantiasa mengingat Allah dalam setiap aktivitas, serta menanamkan kesadaran bahwa waktu merupakan amanah dari Allah yang sangat berharga dan harus kita jaga dengan ilmu, akhlak, tauhid, iman, dan takwa, serta mengagungkan kebesaran Allah SWT yang sangat besar dan tidak terbatas, agar peserta didik menjadi generasi hebat yang dicintai Allah.
Kedua, Nilai Disiplin Waktu. Dalam ayat ini disebut kata “Al-Fajr” (waktu fajar/Shubuh) yang menunjukkan pentingnya waktu dalam Islam. Fajar merupakan awal aktivitas dan simbol kedisiplinan. Orang yang mampu menjaga waktu akan lebih mudah mencapai keberhasilan dunia dan akhirat.
Guru dan orang tua harus membiasakan peserta didik untuk bangun di waktu fajar agar mereka menjadi disiplin dalam belajar, ibadah, menghargai waktu dan tidak menyia-nyiakannya. Generasi yang bisa membangun kebiasaan baik di waktu fajar akan memperoleh keberkahan yang luar biasa. Sehingga peserta didik menjadi generasi yang sukses di dunia dan akhirat serta diberkahi dalam setiap langkahnya.
Ketiga, Nilai Spiritual dan Ibadah. Dalam ayat kedua “Walayālin ‘asyr” (malam yang sepuluh) menurut banyak ulama merujuk pada sepuluh malam pertama bulan Dzulhijjah yang penuh keutamaan ibadah yang harus kita isi dengan ibadah dan amal shalih agar kita memperoleh banyak keutamaan.
Guru dan orang tua harus memberikan semangat dan dorongan untuk beribadah kepada peserta didik agar mendekatkan diri kepada Allah dan memperbanyak amal shalih di bulan ini (Dzulhijjah) dan bulan lainnya. Ajarkan mereka dan sertai mereka dalam setiap amalan agar mereka semakin kuat dalam ibadah dan menjadi hamba-hamba Allah yang ikhlas dan taat.
Keempat, Nilai Kesungguhan dan Kerja Keras. Ayat ini mengingatkan pentingnya waktu fajar yang menandakan awal perjuangan manusia dalam mencari ilmu dan rezeki. Pendidikan Islam mengajarkan pentingnya rajin belajar, bersungguh-sungguh dan tidak malas.
Guru dan orang tua harus memberikan keteladan dan contoh mulia kepada peserta didik untuk kerja keras dan sungguh-sungguh dalam ibadah dan amal shalih lainnya sehingga tumbuh dalam jiwa peserta didik etos kerja islami, aktif, produktif dan termotivasi untuk memanfaatkan masa muda dengan baik.
Landaan Teoretis
Bulan Dzulhijjah merupakan bulan ke-12 dalam kalender Hijriah dan termasuk salah satu dari empat bulan mulia dalam Islam. Nama “Dzulhijjah” berasal dari kata “dzul” yang berarti memiliki, dan “hijjah” yang berarti haji. Dengan demikian, Dzulhijjah dapat dimaknai sebagai bulan pelaksanaan ibadah haji.
Pada bulan ini, umat Islam dari seluruh dunia berkumpul di Tanah Suci untuk melaksanakan rukun Islam kelima. Momentum ini menjadikan Dzulhijjah memiliki kedudukan yang sangat istimewa dalam syariat Islam.
Para ulama menafsirkan bahwa salah satu keistimewaannya berada pada sepuluh hari pertama Dzulhijjah. Dzulhijjah bukan hanya tentang haji tapi juga tentang ibadah kurban, puasa Arafah, takbir, serta berbagai amalan yang memiliki pahala besar. Tidak heran jika banyak umat Islam menjadikan bulan ini sebagai momentum memperbaiki kualitas ibadah dan memperbanyak amal shalih.
Bulan Dzulhijjah memiliki banyak keutamaan yang membuatnya menjadi salah satu bulan paling istimewa dalam Islam. Rasulullah SAW bersabda:
مَا مِنْ أَيَّامٍ اَلْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيهَا أَحَبُّ إِلَى اللهِ مِنْ هَذِهِ الْأَيَّام. يَعْنِي أَيَّامُ الْعُشْرِ. قَالُوْا: يَا رَسُولَ اللهِ، وَلاَ الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللهِ؟ قَالَ: وَلاَ الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللهِ، إِلاَّ رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ ، فَلَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَيءٍ. (رواه البخاري)
Artinya: “Tidak ada hari di mana amal kebaikan saat itu lebih dicintai oleh Allah daripada hari-hari ini. Rasulullah menghendaki 10 hari (awal Dzulhijjah). Lantas para sahabat bertanya: ‘Wahai Rasulullah, tidak juga jihad di jalan Allah?’ Rasulullah shallalâhu ‘alaihi wasallam menjawab: ‘Tidak juga jihad di jalan Allah, kecuali orang yang keluar berjihad dengan jiwa dan hartanya, kemudian tidak kembali dengan sesuatu apapun (mati syahid)’.” (HR Al-Bukhari)
Dalam hadis ini Rasulullah SAW memberikan motivasi yang sangat tinggi kepada para sahabat dan umatnya untuk tidak menyia-nyiakan keutamaan 10 hari awal Dzulhijjah. Bahkan perbandingannya dengan jihad di jalan Allah.
Hadis di atas memberikan pemahaman adanya keutamaan 10 hari awal Dzulhijjah. Semua ibadah dan amal kebaikan yang dilakukan saat itu lebih mulia dan lebih besar pahalanya daripada di hari-hari lainnya. Karenanya, tidak heran jika Rasulullah SAW sangat memotivasi para sahabat dan umatnya untuk melakukan ibadah dan amal kebaikan pada hari-hari tersebut.
Sangat beruntung umat Islam yang bisa menjumpai 10 hari awal bulan Dzulhijjah dan dapat melakukan ibadah disertai berbagai kebaikan lainnya. Semua itu merupakan nikmat sangat besar yang Allah berikan kepada hamba-Nya yang dikehendaki.
Ketika Dzulhijjah datang, Rasulullah SAW menganjurkan umat Islam memperbanyak amal shalih. Bulan ini merupakan kesempatan besar yang tidak selalu datang dua kali dalam hidup manusia. Karena itu, para salaf dahulu sangat bersungguh-sungguh menghidupkan hari-hari Dzulhijjah dengan ibadah. Salah satu amalan utamanya memperbanyak dzikir, takbir, tahmid, dan tahlil. Suara takbir yang berkumandang sejak awal Dzulhijjah hingga hari tasyrik menjadi simbol pengagungan kepada Allah SWT.
Rasulullah SAW bersabda:
شَهْرَانِ لاَ يَنْقُصَانِ، شَهْرَا عِيدٍ: رَمَضَانُ، وَذُو الحَجَّةِ
“Ada dua bulan yang pahala amalnya tidak akan berkurang. Keduanya dua bulan hari raya yaitu Ramadhan dan Dzulhijjah.” (HR Bukhari, No 1912 dan Muslim , No 1089)
Mengisi Bulan Dzulhijjah
Lalu bagaimana cara menyambut dan mengisi bulan Dzulhijjah dengan semangat ibadah dan amal terbaik? Pertama, berpuasa pada sepuluh hari pertama. Rasulullah SAW bersabda:
مَا الْعَمَلُ فِى أَيَّامِ الْعَشْرِ أَفْضَلَ مِنَ الْعَمَلِ فِى هَذِهِ قَالُوا وَلاَ الْجِهَادُ قَالَ وَلاَ الْجِهَادُ إِلاَّ رَجُلٌ خَرَجَ يُخَاطِرُ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فَلَمْ يَرْجِعْ بِشَىْءٍ
“Tidak ada amal ibadah yang lebih utama selain yang dikerjakan pada sepuluh hari ini (maksudnya sepuluh hari pertama dari bulan Dzulhijjah).” Para sahabat bertanya: “Apakah sekalipun jihad di jalan Allah?” Rasulullah SAW menjawab: “Sekalipun jihad. Kecuali seseorang yang keluar untuk berjihad dengan diri dan hartanya, lalu tidak ada sedikit pun yang pulang dari padanya.” (HR Bukhari)
Kedua, memperbanyak mengingat Allah (tahmid, tahlil, takbir dan tahlil). Allah SWT berfirman:
لِّيَشْهَدُوْا مَنَافِعَ لَهُمْ وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللّٰهِ فِيْٓ اَيَّامٍ مَّعْلُوْمٰتٍ عَلٰى مَا رَزَقَهُمْ مِّنْۢ بَهِيْمَةِ الْاَنْعَامِۚ فَكُلُوْا مِنْهَا وَاَطْعِمُوا الْبَاۤىِٕسَ الْفَقِيْرَۖ
“(Mereka berdatangan) supaya menyaksikan berbagai manfaat untuk mereka dan menyebut nama Allah pada beberapa hari yang telah ditentukan atas rezeki yang telah dianugerahkan-Nya kepada mereka berupa binatang ternak. Makanlah sebagian darinya dan (sebagian lainnya) berilah makan orang yang sengsara lagi fakir.” (QS Al-Hajj: 28)
Rasulullah SAW bersabda:
مَا مِنْ أَيَّامٍ أَعْظَمُ عِنْدَ اللَّهِ وَلَا أَحَبُّ إِلَيْهِ الْعَمَلُ فِيهِنَّ مِنْ هَذِهِ الْأَيَّامِ الْعَشْرِ فَأَكْثِرُوا فِيهِنَّ مِنْ التَّهْلِيلِ وَالتَّكْبِيرِ وَالتَّحْمِيدِ
“Tidak ada hari-hari yang lebih agung di sisi Allah dan amal shalih di dalamnya lebih dicintai oleh-Nya daripada hari yang sepuluh (sepuluh hari pertama dari Dzulhijjah), karenanya perbanyaklah tahlil, takbir, dan tahmid di dalamnya.” (HR Ahmad)
Ketiga, mengisi 10 hari Dzulhijjah dengan amalan terbaik. Rasulullah SAW bersabda:
مَا مِنْ أَيَّامٍ أَعْظَمُ عِنْدَ اللَّهِ وَلَا أَحَبُّ إِلَيْهِ الْعَمَلُ فِيهِنَّ مِنْ هَذِهِ الْأَيَّامِ الْعَشْر
“Tidak ada hari-hari yang lebih agung di sisi Allah dan amal shalih di dalamnya lebih dicintai oleh-Nya daripada hari yang sepuluh (sepuluh hari pertama dari Dzulhijjah).” (HR Ahmad, dishahihkan Syaikh Ahmad Syakir)
Keempat, berpuasa Arafah. Rasulullah SAW bersabda:
صِيَامُ يَوْمِ عَرَفَةَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِى قَبْلَهُ وَالسَّنَةَ الَّتِى بَعْدَهُ وَصِيَامُ يَوْمِ عَاشُورَاءَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِى قَبْلَهُ
“Puasa Arafah (9 Dzulhijjah) dapat menghapuskan dosa setahun yang lalu dan setahun akan datang. Puasa Asyura (10 Muharram) akan menghapuskan dosa setahun yang lalu.” (HR Muslim, No 1162)
Kelima, melaksanakan shalat Idul Adha. Allah SWT berfirman:
فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْۗ
“Maka, laksanakanlah shalat karena Tuhanmu dan berkurbanlah!” (QS Al-Kautsar: 2)
Keenam, berkurban. Allah SWT berfirman:
لَنْ يَّنَالَ اللّٰهَ لُحُوْمُهَا وَلَا دِمَاۤؤُهَا وَلٰكِنْ يَّنَالُهُ التَّقْوٰى مِنْكُمْۗ كَذٰلِكَ سَخَّرَهَا لَكُمْ لِتُكَبِّرُوا اللّٰهَ عَلٰى مَا هَدٰىكُمْۗ وَبَشِّرِ الْمُحْسِنِيْنَ
“Daging (hewan kurban) dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya ketakwaanmu. Demikianlah Dia menundukkannya untukmu agar kamu mengagungkan Allah atas petunjuk yang Dia berikan kepadamu. Berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik.” (QS Al-Hajj: 37)
Ketujuh, tidak melakukan maksiat, bertobat dan memperbaiki diri. Allah SWT berfirman:
ثُمَّ اِنَّ رَبَّكَ لِلَّذِيْنَ عَمِلُوا السُّوْۤءَ بِجَهَالَةٍ ثُمَّ تَابُوْا مِنْۢ بَعْدِ ذٰلِكَ وَاَصْلَحُوْٓا اِنَّ رَبَّكَ مِنْۢ بَعْدِهَا لَغَفُوْرٌ رَّحِيْمٌࣖ
“Kemudian, sesungguhnya Tuhanmu (mengampuni) orang-orang yang melakukan keburukan karena kebodohan (tidak menyadari akibatnya), lalu bertobat dan memperbaiki (dirinya). Sesungguhnya Tuhanmu setelah itu benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS An-Nahl: 119)
Kisah Teladan
Dalam kitab An-Nawâdir karya Syekh Syihabuddin Ahmad ibn Salamah al-Qalyubi diceritakan, suatu kali Abu Yusuf Ya’qub bin Yusuf bercerita tentang salah seorang sahabatnya yang unik. Ia orang yang wara’ dan takwa meski orang-orang mengenal karibnya itu sebagai orang fasik dan pendosa.
Sudah dua puluh tahun Abu Yusuf melakukan tawaf di sekitar Ka’bah bersamanya. Abu Yusuf berpuasa terus menerus (dawâm), berbeda dengan sahabatnya yang sehari puasa sehari berbuka.
Memasuki 10 hari bulan Dzulhijjah, sahabat Abu Yusuf ini menunaikan puasa secara sempurna kendati ia berada di padang sahara yang tandus. Bersama Abu Yusuf, ia masuk kota Thurthus dan menetap di sana untuk beberapa lama. Di tempat gersang inilah, persisnya di sebuah kawasan reruntuhan bangunan, ia wafat tanpa seorang pun yang tahu kecuali Abu Yusuf.
Abu Yusuf pun keluar mencari kain kafan dan alangkah kagetnya tatkala dirinya kembali menyaksikan kerumunan orang berkunjung, mengafani, sekaligus menyalati jenazah sahabatnya tersebut di tempat yang semula tak berpenghuni. Karena begitu ramainya, Abu Yusuf sampai tak bisa masuk lokasi reruntuhan bangunan itu.
Para pelayat menyebut-nyebut almarhum sebagai orang yang zuhud dan termasuk dari kekasih Allah (waliyyullah). “Subhanallah, siapa yang mengumumkan kematiannya hingga orang-orang berbondong-bondong bertakziah, menyalati, dan menangisi kepergiannya?” Kata Abu Yusuf.
Setelah melalui perjuangan keras, Abu Yusuf akhirnya berhasil menghampiri jenazah sahabatnya tersebut dan terperanjat saat melihat kain kafan yang tak biasa. Pada kain itu tercantum tulisan berwarna hijau: “Inilah balasan orang yang mengutamakan ridha Allah ketimbang ridha dirinya sendiri; orang yang rindu menemui-Ku dan karenanya Aku pun rindu menemuinya.”
hSelepas melaksanakan salat jenazah dan mengebumikannya, rasa kantuk berat menghampiri Abu Yusuf hingga akhirnya tertidur. Di dunia mimpi inilah Abu Yusuf menyaksikan sahabatnya yang ahli puasa tersebut menunggang kuda hijau serta berpakaian hijau dengan sebuah bendera di tangannya. Di belakangnya ada seorang pemuda tampan berbau harum. Di belakang pemuda ini, ada dua orang tua diikuti di belangnya lagi satu orang tua dan satu pemuda.
“Siapa mereka?” Tanya Abu Yusuf.
“Pemuda tampan itu Nabi kita Muhammad SAW. Dua orang tua itu Abu Bakar dan Umar, sementara orang tua dan pemuda itu Utsman dan Ali. Dan akulah pemegang bendera di depan mereka,” jelas almarhum sahabatnya dalam mimpi itu.
“Hendak ke manakah mereka?” “Mereka ingin menziarahiku.” Abu Yusuf pun kagum, “Bagaimana kau bisa mendapatkan kemuliaan semacam ini?”
“Sebab aku memprioritaskan ridha Allah dibanding ridha diriku sendiri dan aku berpuasa pada 10 hari Dzulhijjah,” jawab sahabatnya.
Abu Yusuf pun bangun dari tidur, lalu sejak itu ia tak pernah meninggalkan amalan puasa itu hingga akhir hayat.
Anjuran memperbanyak amal shalih pada 10 hari pertama Dzulhijjah termaktub dalam beberapa hadis. Misalnya hadis riwayat Ibnu ‘Abbas yang ada di dalam Sunan At-Tirmidzi yang mengatakan, “Tiada hari lain yang disukai Allah SWT untuk beribadah seperti sepuluh hari ini (Dzulhijjah).”
Meskipun disebutkan kata “sepuluh hari”, puasa jika dimulai tanggal 1 Dzulhijjah cukup dijalankan sembilan hari karena tanggal 10 Dzulhijjah (juga hari tasyriq: 11, 12, 13 Dzulhijjah) merupakan hari terlarang untuk berpuasa. Demikian keteladanan orang yang menjaga amalan 10 hari bulan Dzulhijjah dari para salafus shalih.
لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ المُلْكُ وَلَهُ الحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
“Tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah Yang Mahaesa, tidak ada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya segala kerajaan dan segala puji, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu.” (HR At-Tirmidzi) []





















