pesanan-baju-kaos
35 °c
Pecenongan
Wed
Thu
Tuesday, 20 October, 2026
Login
Langganan
gontornews.com
Daftar Pelatihan Guru Al Barqy
  • Home
  • News
    • Dunia
    • Nasional
    • Nusantara
  • Inspirasi
    • Sirah
    • Dakwah
    • Hidayah
    • Ihwal
    • Jejak
    • Sukses
    • Mujahid
    • Oase
  • Pendidikan
    • Pondok Pesantren
    • Lembaga
    • Buku
    • Beasiswa
    • Risalah
    • Khazanah
    • Keluarga
  • Muamalah
    • Ekonomi
    • Peluang
    • Halal
    • Rihlah
    • Konsultasi
  • Tadabbur
    • Tafsir
    • Hadis
    • Dirasah
  • Values
    • Tausiah
    • Sikap
    • Mahfudzat
    • Kolom
    • Afkar
  • Saintek
    • Sains
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Lingkungan
  • Laput
    • #IBF2020
  • Wawancara
  • Gontoriana
    • Pondok
    • Trimurti
    • Risalah
    • Alumni
  • Berlangganan
  • MG Digital
  • Login
No Result
View All Result
gontornews.com
Langganan
Home Tadabbur Tafsir

Menjadi Pribadi yang Menenangkan, Bukan Meresahkan

Oleh Prof Dr H Sofyan Sauri MPd, Guru Besar Universitas Pendidikan Indonesia

Rusdiono Mukri by Rusdiono Mukri
6 July 2026
in Tafsir
0
Menjadi Pribadi yang Menenangkan, Bukan Meresahkan

Foto: Tebuireng Online

Landasan Teologis

وَعِبَادُ الرَّحْمٰنِ الَّذِيْنَ يَمْشُوْنَ عَلَى الْاَرْضِ هَوْنًا وَّاِذَا خَاطَبَهُمُ الْجٰهِلُوْنَ قَالُوْا سَلٰمًا

“Hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih itu yaitu yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang bodoh menyapa mereka (dengan kata-kata yang menghina), mereka mengucapkan, ‘Salam’.” (QS Al-Furqan: 63)

Interpretasi Para Mufasir

BACA JUGA

Landasan Etika Bertutur dalam Pergaulan

Transaksi Terbaik Orang Beriman dengan Allah

Menggapai Ridha Allah dengan Memudahkan Urusan Sesama

Meneladani Nabi Muhammad SAW dalam Berbagai Situasi dan Kondisi

Kemerdekaan Sejati dalam Perspektif Al-Qur’an

Tafsir As-Sa’di menyebutkan, penghambaan (ubudiyah) kepada Allah terbagi menjadi dua macam. Pertama, ubudiyah karena rububiyah (ketuhanan dan kekuasaan Allah sebagai Pencipta dan Pengatur). Dalam bentuk ini, seluruh makhluk ikut serta di dalamnya, baik yang Muslim maupun kafir, orang yang taat maupun yang durhaka. Semuanya hamba-hamba Allah yang berada di bawah pemeliharaan, kekuasaan, dan pengaturan-Nya.

Kedua, ubudiyah karena uluhiyah (penghambaan melalui ibadah), kecintaan, dan rahmat Allah. Inilah bentuk penghambaan para nabi dan para wali-Nya, dan inilah yang dimaksud dalam ayat ini. Oleh karena itu, Allah menyandarkan mereka pada nama-Nya. Ar-Rahman (Yang Maha Pengasih), sebagai isyarat bahwa mereka dapat mencapai kedudukan mulia tersebut semata-mata karena rahmat-Nya.



Tafsir Al-Baghawi menyebutkan makna firman-Nya: “Dan hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih (Ar-Rahman)”, maksudnya hamba-hamba yang paling utama. Ada pula yang berpendapat bahwa penyandaran (idhafah) kepada nama Ar-Rahman bertujuan untuk memberikan pengkhususan dan kemuliaan, karena pada hakikatnya seluruh makhluk merupakan hamba Allah.

Adapun makna “(Yaitu) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati,” maksudnya mereka berjalan dengan tenang, penuh wibawa, rendah hati, tidak sombong, tidak angkuh, dan tidak membanggakan diri.

Al-Hasan al-Bashri berkata, “Mereka orang-orang yang berilmu dan bijaksana.“ Sedangkan Muhammad bin al-Hanafiyyah berkata, “Mereka orang-orang yang memiliki kewibawaan dan menjaga kehormatan diri. Mereka tidak berbuat bodoh, dan apabila ada orang yang berlaku bodoh kepada mereka, mereka tetap bersikap sabar.”

Dalam Tafsir Al-Baghawi juga disebutkan “Dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka,” yakni orang-orang yang bodoh dan berperilaku sembrono dengan ucapan yang mereka benci. Adapun mereka mengucapkan kata-kata yang baik (salam). Mujahid ibn Jabr menafsirkan, maksudnya ucapan yang benar dan tepat. Muqatil bin Hayyan berkata, “Mereka mengucapkan perkataan yang membuat mereka selamat dari dosa.”

Al-Hasan al-Bashri berkata, “Apabila orang bodoh berlaku bodoh kepada mereka, mereka tetap bersikap sabar dan tidak membalas dengan kebodohan.“

Diriwayatkan pula bahwa Al-Hasan al-Bashri apabila membaca ayat ini beliau berkata, “Ini gambaran kehidupan mereka pada siang hari.” Kemudian beliau membaca firman Allah: “Dan orang-orang yang menghabiskan malamnya untuk beribadah kepada Tuhan mereka dengan bersujud dan berdiri.“ Lalu beliau berkata, “Ini gambaran kehidupan mereka pada malam hari.”

Tafsir Ibnu Katsir  menyebutkan, ini sifat hamba-hamba Allah yang beriman, “(Yaitu) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati,” maksudnya mereka berjalan dengan tenang dan penuh kewibawaan, tanpa kesombongan dan keangkuhan.

Adapun hamba-hamba Allah ini, mereka berjalan tanpa kesombongan, tanpa sikap membanggakan diri, tanpa keangkuhan dan kesewenang-wenangan. Sebab, junjungan seluruh anak Adam, Nabi Muhammad SAW, apabila berjalan, langkahnya seolah-olah menuruni tempat yang landai, dan seakan-akan bumi dilipat untuk beliau.

Al-Hasan al-Bashri berkata: “Mereka orang-orang yang penyantun. Apabila orang lain berlaku bodoh kepada mereka, mereka tetap bersikap sabar.” Mereka juga senang bergaul dengan sesama hamba Allah pada siang hari dengan akhlak mulia. Adapun malam mereka merupakan malam yang paling mulia, yaitu dipenuhi dengan ibadah kepada-Nya.

Tafsir Al-Qurthubi menyebutkan makna firman Allah: “Dan apabila orang-orang bodoh menyapa mereka, mereka mengucapkan ‘salam’.” An-Nahhas menjelaskan bahwa kata “salam“ di sini bukan berarti ucapan salam (assalamu’alaikum), melainkan bermakna keselamatan dan melepaskan diri dari perselisihan.

Dalam bahasa Arab, ucapan “salāman” dapat bermakna: “Aku berlepas diri darimu; tidak ada pertengkaran antara kita.“ Mujahid ibn Jabr menafsirkan: “Mereka mengucapkan perkataan yang benar.“ Yakni, mereka menjawab orang bodoh dengan ucapan yang lembut sehingga mampu meredakan kebodohannya.

Sebagian ulama berpendapat bahwa seseorang memang dianjurkan mengucapkan kata “salāman” kepada orang yang bodoh, yaitu sebagai ungkapan meninggalkan pertengkaran.

Nilai-Nilai Pedagogis

QS Al-Furqan: 63 mengandung sejumlah nilai-nilai pendidikan (pedagogis) bagi manusia, khususnya umat Islam. Pertama, Nilai Pendidikan Akhlak (Tawadhu’). Ayat ini mengajarkan pentingnya sikap rendah hati dalam kehidupan. Frasa “yamshūna ‘alā al-arḍi hawnā” menunjukkan bahwa seorang Mukmin tidak berjalan dengan kesombongan, tetapi dengan ketenangan, kesederhanaan, dan penuh kewibawaan.

Guru dan orang tua harus mendidik dan membentuk pribadi peserta didik yang rendah hati, yang senang menghargai sesama manusia tanpa membedakan status sosial dan menumbuhkan sikap santun dalam pergaulan. Anak yang sederhana akan bersikap rendah hati kepada guru, orang tua, dan teman, serta mereka tidak akan membanggakan harta, ilmu, maupun jabatan; yang mereka cari keridhaan Allah SWT dan ampunan-Nya.

Kedua, Nilai Pendidikan Pengendalian Diri (Self-Control). Ayat ini mengingatkan untuk tidak membalas keburukan dengan keburukan. Dalam menghadapi orang yang berperilaku buruk, seorang Mukmin harus membalas dengan salam, yaitu dengan ucapan keselamatan dan perdamaian yang tidak menimbulkan pertengkaran.

Guru dan orang tua harus melatih kesabaran peserta didik dan memberikan pelajaran mengendalikan amarah serta tidak mudah terpancing provokasi. Anak yang dilatih berbuat kebaikan, menyukai perdamaian, dan menghindari permusuhan akan menjadi hamba yang disenangi oleh Allah dan makhluknya. Mereka akan menjaga keamanan dan perdamaian bangsa dan agama.

Ketiga, Nilai Pendidikan Komunikasi yang Santun. Ayat ini mengajarkan etika berbicara yang baik bahkan kepada orang yang bersikap kasar. Berbicara yang santun akan melahirkan ketenangan, kerendahhatian, kewibawaan dan dihormati orang lain serta menghormati orang lain.

Guru dan orang tua harus menggunakan bahasa yang lembut dan mengajarkan bahasa santun kepada peserta didik agar mereka pandai menjaga lisan dari perkataan buruk dan senang mengedepankan perdamaian dalam komunikasi. Anak yang terbiasa santun akan berbicara sopan kepada siapa pun, menghindari ujaran kebencian dan bijak dalam bermedia sosial.

Keempat, Nilai Pendidikan Kepribadian Islami. Ayat ini menggambarkan identitas seorang Mukmin sejati yang memiliki akhlak mulia. Islam mendidik kaum Muslimin agar mengedepankan akhlak yang baik dalam kondisi apa pun dan situasi apa pun dengan tenang, rendah hati, dan konsisten berbuat baik

Guru dan orang tua harus memberikan teladan dan menjadikan akhlak sebagai cerminan keimanan untuk menumbuhkan integritas pribadi peserta didik yang taat dan menjadi teladan bagi masyarakat. Anak yang tumbuh dengan akhlak yang mulia akan menjadi generasi yang terpuji dan mampu mengendalikan hawa nafsunya dengan baik. Maka ia tumbuh menjadi hamba Allah yang taat dan senang berbuat kebaikan.

Landasan Teoretis

Pribadi yang menenangkan merupakan sosok yang kehadirannya memberikan rasa aman, nyaman, damai, dan manfaat bagi orang lain melalui ucapan, sikap, maupun tindakannya. Sebaliknya, pribadi yang meresahkan merupakan individu yang sering menimbulkan kegelisahan, konflik, ketakutan, atau ketidaknyamanan melalui perilaku yang bertentangan dengan ajaran Islam.

Allah SWT berfirman:

وَقُلْ لِّعِبَادِيْ يَقُوْلُوا الَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُۗ اِنَّ الشَّيْطٰنَ يَنْزَغُ بَيْنَهُمْۗ اِنَّ الشَّيْطٰنَ كَانَ لِلْاِنْسَانِ عَدُوًّا مُّبِيْنًا

“Katakan kepada hamba-hamba-Ku supaya mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik (dan benar). Sesungguhnya setan itu selalu menimbulkan perselisihan di antara mereka. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagi manusia.” (QS Al-Isra’: 53)

Dalam hadis Nabi SAW dijelaskan bahwa ukuran kemuliaan seorang Muslim bukan hanya banyaknya ibadah ritual, tetapi juga sejauh mana orang lain merasa aman darinya. Dan ia mampu mengendalikan lisan dan tangannya.

Rasulullah SAW bersabda:

الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ

“Seorang Muslim sejati yaitu orang yang Muslim lainnya selamat dari gangguan lisan dan tangannya.” (HR Al-Bukhari dan Muslim).

Hadis ini menjadi landasan bahwa seorang Muslim wajib menjaga ucapan dan perbuatannya agar tidak menyakiti orang lain. Rasa aman yang dirasakan masyarakat merupakan indikator menjadi pribadi yang menenangkan.

Demikian, tidak semua hal yang diketahui harus disampaikan apabila justru menimbulkan keresahan atau perpecahan maka sebaiknya kita diam atau mengungkapkan perkataan yang baik.

Rasulullah SAW bersabda:

وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَليَــقُلْ خَــــيْرًا أَوْ لِيَـصـــمُــتْ

“Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah dia berkata yang baik atau diam.” (HR Bukhari)

Lisan merupakan bagian vital yang jika disalahgunakan efeknya bisa lebih mengerikan daripada pedang. Karenanya, Nabi mewanti-wanti soal urgensi menjaga lisan dan menyodorkan dua pilihan saja: berkatalah yang baik atau diam.

Sikap tenang berasal dari Allah dan sikap tergesa-gesa berasal dari setan. Oleh karena itu, kita harus tenang dalam menghadapi apa pun ujian dan cobaan yang kita hadapi.

Rasulullah SAW bersabda:

التَّأَنِّيُ مِنَ اللهِ، وَالْعَجَلَةُ مِنَ الشَّيْطَانِ

Sikap tenang (tidak tergesa-gesa) berasal dari Allah, sedangkan tergesa-gesa berasal dari setan. (HR Abū Ya‘lā)

Tidak tergesa-gesa merupakan ciri orang berakal. Ia berpikir jernih, mempertimbangkan dampak, dan mendahulukan akhirat daripada nafsu sesaat. Itulah sebabnya, Allah mencintai orang-orang yang tenang dan tidak tergesa-gesa, karena ia menyerahkan keputusan akhir kepada-Nya.

Dengan sikap tenang, ibadah yang kita lakukan akan lebih khusyuk dan lebih fokus kepada Allah SWT, sehingga ibadah yang kita lakukan akan menjadi perantara untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada-Nya. Karena itu, Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:

هُوَ الَّذِيْٓ اَنْزَلَ السَّكِيْنَةَ فِيْ قُلُوْبِ الْمُؤْمِنِيْنَ لِيَزْدَادُوْٓا اِيْمَانًا مَّعَ اِيْمَانِهِمْۗ……

“Dialah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang Mukmin untuk menambah keimanan atas keimanan mereka (yang telah ada)…” (QS Al-Fath: 4)

Ayat ini mengisyaratkan bahwa sikap tenang merupakan sikap orang-orang beriman, karena semua tindakan dan perbuatannya akan selalu berada dalam bimbingan Allah dan dalam pertolongan-Nya.

Bahayanya sikap yang meresahkan orang lain, apalagi tanpa ada kesalahan  yang mereka perbuat, maka mereka telah menanggung kebohongan dan dosa yang nyata. Maka hindarilah perbuatan ini, Allah SWT berfirman:

وَالَّذِيْنَ يُؤْذُوْنَ الْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنٰتِ بِغَيْرِ مَا اكْتَسَبُوْا فَقَدِ احْتَمَلُوْا بُهْتَانًا وَّاِثْمًا مُّبِيْنًاࣖ

“Orang-orang yang menyakiti Mukminin dan Mukminat, tanpa ada kesalahan yang mereka perbuat, sungguh, mereka telah menanggung kebohongan dan dosa yang nyata.” (QS Al-Ahzab: 58)

Ayat ini menegaskan, menyakiti orang-orang Mukmin, baik laki-laki maupun perempuan, tanpa kesalahan yang mereka perbuat, merupakan perbuatan dosa. Mereka telah melakukan perbuatan yang tidak dibenarkan oleh agama Islam.

Tidak Meresahkan Orang Lain

Lalu bagaimana cara menjadi Muslim yang menenangkan dan tidak meresahkan orang lain? Berikut beberapa tipsnya. Pertama, menjaga lisan. Dengan lisan, kita bisa menyejukkan dan menenangkan hati orang lain, tetapi dengan lisan pula kita bisa melukai perasaan mereka, bisa memecah belah persaudaraan, bahkan menghancurkan rumah tangga.

Rasulullah SAW bersabda:

الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ

“Seorang Muslim sejati adalah orang yang Muslim lainnya selamat dari gangguan lisan dan tangannya.” (HR Al-Bukhari dan Muslim)

Kedua, senantiasa berusaha menjadi Muslim yang penyayang. Sikap penyayang menjadi salah satu inti dari ajaran Rasulullah SAW. Sebagaimana ditegaskan dalam salah satu hadisnya, yaitu:

الرَّاحِمُونَ يَرْحَمُهُمْ الرَّحْمَنُ! ارْحَمُوا مَنْ فِي الْأَرْضِ يَرْحَمْكُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ

“Orang-orang yang penyayang akan disayang oleh Allah Yang Maha Pengasih! Sayangilah siapa saja yang ada di bumi, niscaya penduduk langit akan menyayangi kalian.” (HR At-Tirmidzi)

Ketiga, senantiasa berusaha menahan amarah dan memperbanyak bersabar. Menjadi manusia yang menenangkan berarti kita harus mampu mengendalikan emosi, menahan amarah, serta menyikapi setiap persoalan dengan kepala dingin dan penuh kesabaran. Rasulullah SAW bersabda:

لَيْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرَعَةِ إِنَّمَا الشَّدِيدُ الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ

“Orang kuat bukanlah mereka yang pandai bergulat, tetapi ia yang mampu menahan diri saat marah.” (HR Bukhari & Muslim)

Keempat, menolak keburukan dengan kebaikan. Allah SWT berfirman:

وَلَا تَسْتَوِى الْحَسَنَةُ وَلَا السَّيِّئَةُۗ اِدْفَعْ بِالَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُ فَاِذَا الَّذِيْ بَيْنَكَ وَبَيْنَهٗ عَدَاوَةٌ كَاَنَّهٗ وَلِيٌّ حَمِيْمٌ

“Tidaklah sama kebaikan dengan kejahatan. Tolaklah (kejahatan) dengan perilaku yang lebih baik sehingga orang yang ada permusuhan denganmu serta-merta menjadi seperti teman yang sangat setia.” (QS Fushshilat: 34)

Kelima, bersikap tawadhu’ (rendah hati). Rasulullah SAW bersabda:

إِنَّ اللهَ أَوْحَى إِلَيَّ أَنْ تَوَاضَعُوا حَتَّى لَا يَفْخَرَ أَحَدٌ عَلَى أَحَدٍ، وَلَا يَبْغِي أَحَدٌ عَلَى أَحَدٍ (رواه مسلم)

”Sesungguhnya Allah telah mewahyukan kepadaku agar bersikap tawadhu’ (rendah hati), hingga seorang tidak menyombongkan dirinya di hadapan orang lain dan tidak saling menganiaya.” (HR Muslim, No. 2865)

Keenam, berlapang dada dan memaafkan kesalahan orang lain. Allah SWT berfirman:

وَالَّذِيْنَ يَجْتَنِبُوْنَ كَبٰۤىِٕرَ الْاِثْمِ وَالْفَوَاحِشَ وَاِذَا مَا غَضِبُوْا هُمْ يَغْفِرُوْنَۚ

“(Kenikmatan itu juga lebih baik dan lebih kekal bagi) orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan-perbuatan keji, dan apabila mereka marah segera memberi maaf.” (QS Asy-Syura: 37)

Kisah Teladan

Dikisahkan dalam Kitab Ar-Riqqah karya Ibnu Qudamah al-Maqdisi, seorang ulama besar ahli tafsir, hadis, dan fikih yang bergelar Syaikh al-Islam Muwaffaq al-Din.

Disebutkan dalam bukunya bahwa salah satu ciri orang shalih yang digambarkan dalam buku ini yaitu kecintaan mereka yang mendalam kepada Allah, zuhud terhadap dunia, dan kesungguhan dalam mengingat-Nya.

Sebagaimana Nabi Muhammad SAW digambarkan dengan keteguhannya dalam berdakwah meski menghadapi penindasan kaum Quraisy. Pengucilan selama tiga tahun, kematian Abu Thalib dan Khadijah, serta lemparan batu di Tha’if tidak menghentikan langkahnya. Hingga akhirnya, dakwah beliau diterima di Madinah, membuka babak baru peradaban Islam.

Etos dakwah Nabi ialah tidak pernah memaksakan Islam dalam dakwahnya. Ia menghadirkan kebenaran Islam dalam akhlak mulianya sehingga Islam diterima oleh siapa pun. Nabi dan para pengikutnya juga tidak berperang dan memerangi. Perang yang dilakukan oleh Nabi dan umatnya dilakukan karena terlebih dahulu diperangi; mempertahankan diri dari serangan kaum musyrikin merupakan kewajiban agama.

Tiga sifat Nabi SAW yang mendorong keberhasilan Islam. Pertama, sepanjang hayatnya, Rasulullah SAW memikirkan umatnya. Ia sama sekali tidak menginginkan umatnya menderita di hari kemudian.

Kedua, sangat menginginkan keimanan dan keselamatan umatnya. Ini merupakan ungkapan cinta, kasih sayang sekaligus harapan Nabi Muhammad SAW kepada umatnya.

Ketiga, amat belas kasihan lagi penyayang kepada orang-orang Mukmin. Beliau memiliki rasa kasih sayang teramat mendalam pada kaum beriman.

Tiga sifat itulah yang kemudian menopang keberhasilan dakwah Nabi Muhammad SAW. Akhlak mulia, cinta, dan kasih sayang yang mewujud dalam penjelasan ayat di atas merupakan fondasi dakwah Nabi SAW dengan mengedepankan akhlakul karimah karena tersimpan harapan besar Nabi kepada umatnya.

Rasulullah SAW juga mengajarkan umatnya untuk senantiasa berusaha dengan kemampuannya sendiri dan jangan meminta-minta kepada orang lain. Islam melarang keras umatnya meminta-minta, menampakkan kemiskinan dan kelemahan. Muslim diperintahkan agar senantiasa bekerja keras, sehingga menjadi umat yang kuat dan menjadi teladan bagi umat lain. Dengan mampu berdiri sendiri, kita akan merasakan ketenangan, bukan keresahan.

اَللَّهُمَّ اِنِّى اَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ، وَاَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ، وَاَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْجُبْنِ وَالْبُخْلِ، وَاَعُوْذُ بِكَ مِنْ غَلَبَةِ الدَّيْنِ وَقَهْرِ الرِّجَالِ

“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kebingungan dan kesedihan, dari kelemahan dan kemalasan, dari ketakutan dan kekikiran, serta dari lilitan utang dan tekanan manusia.“ (HR Bukhari, No. 6369)  []

 

Tags: Rendah hatiTawadhu'Tenang
Share27Tweet17Send
Previous Post

BAZNAS dan MUI Beri Penghargaan bagi Penegak Hukum Sahabat Dhuafa dan Miskin

Next Post

Optimalkan Potensi ZIS, BAZNAS Berikan Rekomendasi Izin Pembentukan Dua LAZ di Jabar

Rusdiono Mukri

Rusdiono Mukri

Redaksi Majalah Gontor

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site is protected by reCAPTCHA and the Google Privacy Policy and Terms of Service apply.

  • Trending
  • Comments
  • Latest
Santrivation: Teman Bertumbuh Para Santri Gapai Sukses di Kemudian Hari

Santrivation: Teman Bertumbuh Para Santri Gapai Sukses di Kemudian Hari

15 October 2026
Kesyukuran Wisuda Angkatan Ke-11 STKQ Al-Hikam Depok Hadirkan Puluhan Lulusan Berkualitas

Kesyukuran Wisuda Angkatan Ke-11 STKQ Al-Hikam Depok Hadirkan Puluhan Lulusan Berkualitas

19 October 2026
Tidak Hanya Luluskan Wisudawan, STKQ Al-Hikam Depok Mulai Lahirkan Sebelas Wisudawati Terbaik

Tidak Hanya Luluskan Wisudawan, STKQ Al-Hikam Depok Mulai Lahirkan Sebelas Wisudawati Terbaik

19 October 2026
Gontor Maju Karena Keharmonisan & Ukhuwwah

Pesan Kiai Gontor tentang Jabatan dan Gelar (Akademik)

16 October 2026
UNIDA Gontor Gelar Ramadhan Ceria di Dusun Ngetrep

Internalisasi Keimanan Anak Usia Sekolah Dasar: Sinergi Pembinaan Keluarga dan Lingkungan Sosial

16 October 2026
Darul Falah Sukorejo Bedah Buku Karya Habiburrahman El Shirazy

Darul Falah Sukorejo Bedah Buku Karya Habiburrahman El Shirazy

0
Otak Orang Dewasa Tersinkron dengan Bayi Saat Bermain Bersama   

Al-Qur’an dan Gaya Pengasuhan Anak Usia Dini

0
Cuaca Ekstrem Akibat Banjir Bandang  Lumpuhkan Wilayah Turki

Cuaca Ekstrem Akibat Banjir Bandang Lumpuhkan Wilayah Turki

0
Segudang Manfaat Kesehatan Tanaman Akar Kucing

Segudang Manfaat Kesehatan Tanaman Akar Kucing

0
Pusat Data ChatGpt ‘Kuras’ Jutaan Liter Air Bersih

Pusat Data ChatGpt ‘Kuras’ Jutaan Liter Air Bersih

0
Pusat Data ChatGpt ‘Kuras’ Jutaan Liter Air Bersih

Pusat Data ChatGpt ‘Kuras’ Jutaan Liter Air Bersih

20 October 2026
Segudang Manfaat Kesehatan Tanaman Akar Kucing

Segudang Manfaat Kesehatan Tanaman Akar Kucing

20 October 2026
Otak Orang Dewasa Tersinkron dengan Bayi Saat Bermain Bersama   

Al-Qur’an dan Gaya Pengasuhan Anak Usia Dini

20 October 2026
Darul Falah Sukorejo Bedah Buku Karya Habiburrahman El Shirazy

Darul Falah Sukorejo Bedah Buku Karya Habiburrahman El Shirazy

20 October 2026
Kunci Penting Membangun Cinta Agama pada Anak Tanpa Merusak Fitrah

Kunci Penting Membangun Cinta Agama pada Anak Tanpa Merusak Fitrah

20 October 2026
gontornews.com

Kantor :
Jalan Taman Sejahtera No.1A RT.06 RW.03 (Samping Masjid Jami' Al-Munir) Gandaria Selatan, Cilandak, Jakarta Selatan
Telp : 021-29124801
Fax : 021-29124802
Layanan Pelanggan : 0819-1515-1456 (Khusus WA)
Email :
[email protected]
[email protected]
[email protected]

TENTANG KAMI

  • Profil
  • Redaksi & Manajemen
  • Info Iklan
  • Panduan Kebijakan Media
  • Berlangganan Majalah
  • Komplain Majalah
  • Privacy Policy

INSTAGRAM

Ikuti Kami

  • Pre Order dibuka kembali hingga 25 Oktober 2026Link pembelian bisa dilihat di bagian akhir gambar atau di profile.
atau bisa langsung ke link dibawah ini :
https://tinyurl.com/pesan-baju#majalahgontor
#gontornews
  • Telah terbit dan bisa dipesan
Majalah Gontor Edisi Oktober 2026
pemesanan bisa ke nomor :
081234160133untuk edisi khusus 100 tahun gontor bisa dipesan melalui link dibawah ini
https://bit.ly/pesan-majalah#majalahgontor
#gontornews
#pesanmajalah
  • Bismillah, bagi yang ingin mempromosikan usahanya di Majalah Gontor edisi November silahkan daftar dan cek paketnya pada link https://bit.ly/pasang-iklan-mg atau scan barcode pada gambar.#majalahgontor #gontornews
  • Bismillah.
Paket Perpustakaan.
EDISI TAHUN 2020 - 2025Hanya : Rp. 149.000,-
Didapatkan:
1. Isi 20 Eksemplar
2. Edisi Tahun Acak
3. + SUBSIDI ONGKIR 10.000,-Pesan Via WhatsApp
0812 3416 0133, 0858 1760 8802Website : www.gontornews.com
Instagram : @gontornews#majalahgontor
#majalahgontor
  • Bismillah.
tersedia baju kaos lengan panjang atau pendek. Warna putih dan hitam. Degan Sablon DTF.Ukuran : S, M, L, XLLink Pembelian : https://tinyurl.com/pesan-baju#majalahgontor
#gontornews
  • Edisi Khusus Bulan September 2026 spsial 100 tahun .Pesan sekarang
https://bit.ly/pesan-majalah#majalahgontor
#gontornews
  • Bismillah, kami kembali membuka kesempatan kepada Alumni Gontor ataupun Pondok Alumni yang memiliki usaha yang ingin diperkenalkan melalui Majalah Gontor pada bulan oktiober ini.
Kami membuka 3 paket pilihan :
1. 1/4
2. 1/6
3. Iklan MiniLink pendaftaran : https://bit.ly/pasang-iklan-mgatau bisa lihat di link Bio.#majalahgontor #gontornews
  • Alhamdulillah Majalah Gontor Edisi Khusus Bulan September spesial100 tahun Gontor telah tersedia. Stok edisi khusus semakin menipis pula (Juli - September). Bagi yang belum memiliki bisa Langsung pesan melalui link berikut :
https://bit.ly/pesan-majalahJangan sampai kehabisan.Untuk Baju kaos bisa juga pesan melalui link ini : https://tinyurl.com/pesan-bajukontak bagian penjualan :
0812-3416-0133
#majalahgontor #gontornews #gontor #alumnigontor
  • Tersedia Ukuran:
S, M, L, XL, XXLWarna : Hitam dan Putih
Sablon : DTF

© 2023 gontornews.com. All Rights Reserved

Banner Footer
▲
  • Home
  • News
    • Dunia
    • Nasional
    • Nusantara
  • Inspirasi
    • Sirah
    • Dakwah
    • Hidayah
    • Ihwal
    • Jejak
    • Sukses
    • Mujahid
    • Oase
  • Pendidikan
    • Pondok Pesantren
    • Lembaga
    • Buku
    • Beasiswa
    • Risalah
    • Khazanah
    • Keluarga
  • Muamalah
    • Ekonomi
    • Peluang
    • Halal
    • Rihlah
    • Konsultasi
  • Tadabbur
    • Tafsir
    • Hadis
    • Dirasah
  • Values
    • Tausiah
    • Sikap
    • Mahfudzat
    • Kolom
    • Afkar
  • Saintek
    • Sains
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Lingkungan
  • Laput
    • #IBF2020
  • Wawancara
  • Gontoriana
    • Pondok
    • Trimurti
    • Risalah
    • Alumni
  • Berlangganan
  • MG Digital
  • Login
No Result
View All Result