Mukadimah
Peringatan satu abad Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG) pada tahun 2025 ditandai dengan beragam agenda monumental. Salah satunya penyelenggaraan International Muslim Pencak Silat Championship (IMPSC) 2025 yang berlangsung pada 16–19 September 2025 di Indomilk Indoor Stadium, Tangerang, Banten. Perhelatan ini menjadi ajang pertama di dunia yang secara khusus mempertemukan komunitas Muslim internasional dalam kompetisi pencak silat.
Tulisan ini berupaya mengkaji makna dan implikasi IMPSC 2025, tidak hanya sebagai kompetisi olahraga, melainkan sebagai simbol kebangkitan budaya pesantren, penguatan identitas Muslim global, serta pembentukan kepemimpinan generasi santri menuju Indonesia Emas 2045.
Pencak Silat dalam Tradisi Gontor
Sejarah mencatat bahwa pencak silat memiliki akar yang kuat di Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG). KH Ahmad Sahal muda, salah seorang Trimurti pendiri Gontor, dikenal piawai dalam bela diri. Beberapa gerakan beliau bahkan disebut menjadi inspirasi bagi aliran silat besar di Madiun, seperti Setia Hati Terate dan Winongo.
Bagi Gontor, pencak silat tidak sekadar seni bela diri. Ia wahana pendidikan karakter: melatih kedisiplinan, ketangguhan, solidaritas, sekaligus daya tarik sosial bagi masyarakat. Pada fase awal, bahkan seni akrobatik dan silat menjadi sarana KH Sahal untuk mengajak anak-anak kampung masuk ke Madrasah Tarbiyatul Athfal, embrio Gontor.
Dengan demikian, silat di Gontor merupakan bagian dari budaya pesantren, meski bukan satu-satunya identitasnya. Sebagaimana sering ditegaskan oleh pimpinan PMDG, “Gontor bukan pencak silat, tetapi pencak silat bagian dari Gontor.”
IMPSC 2025: Arena Budaya, Persatuan, dan Peradaban
IMPSC 2025 mencatatkan lebih dari 3.500 peserta dari 10 negara, menjadikannya kejuaraan pencak silat dengan peserta terbanyak dalam sejarah Indonesia. Kehadiran tokoh nasional dan internasional—seperti KH Hasan Abdullah Sahal, Dr KH Hidayat Nur Wahid, Prof Dr Husnan Bey, serta Bupati Tangerang—mengukuhkan legitimasi akademik, kultural, dan politis acara ini.
Secara kultural, IMPSC menegaskan posisi pencak silat sebagai warisan budaya tak benda Indonesia yang telah diakui UNESCO. Lebih jauh, penyelenggaraan dalam bingkai “Muslim Championship” menunjukkan bahwa silat tidak hanya milik Nusantara, tetapi juga dapat menjadi identitas kolektif Muslim global.
Secara sosial, IMPSC berfungsi sebagai ajang pertemuan, penyatuan, dan pendamaian. Ia menghadirkan ruang interaksi antarsantri dan komunitas Muslim dari berbagai negara, yang pada gilirannya memperkuat jaringan pendidikan Islam.
Secara ekonomi, event ini turut memberi dampak positif bagi daerah tuan rumah. Kabupaten Tangerang memperoleh tambahan Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari aktivitas pariwisata, konsumsi, dan mobilitas ribuan peserta serta pengunjung.
Santri, Sportivitas, dan Indonesia Emas 2045
Peserta IMPSC mayoritas berusia 15–30 tahun, yakni generasi yang akan menjadi saksi Indonesia memasuki usia seabad (Indonesia Emas 2045). Dalam perspektif pendidikan, ajang ini berfungsi sebagai kapitalisasi potensi santri untuk membangun kepribadian sportif, disiplin, berintegritas, dan loyal.
Nilai-nilai tersebut sejatinya selaras dengan misi pendidikan Gontor: membentuk kader pemimpin Muslim yang memiliki iman, ilmu, dan akhlak. Dengan latihan fisik dan mental melalui silat, santri diharapkan mampu tampil sebagai calon pemimpin umat dan bangsa yang berkarakter, sebagaimana pesan Al-Qur’an:
QS An-Nisa: 1 tentang pentingnya takwa dan kesadaran persaudaraan,
QS An-Nisa: 9 tentang kewajiban menyiapkan generasi tangguh agar tidak meninggalkan keturunan yang lemah.
Dengan demikian, IMPSC bukan hanya perlombaan fisik, melainkan investasi peradaban untuk melahirkan pemimpin Muslim masa depan.
Refleksi dan Penutup
Penyelenggaraan IMPSC 2025 memiliki tiga makna reflektif. Pertama, sebagai bentuk pelestarian budaya pesantren dan Nusantara, sehingga pencak silat tidak tercerabut dari akarnya. Kedua, sebagai wadah internasionalisasi nilai-nilai Islam dan persaudaraan santri, yang membuka ruang dialog lintas bangsa. Ketiga, sebagai arena pembentukan kepemimpinan bagi generasi muda yang akan mewarisi estafet perjuangan bangsa.
Apresiasi patut diberikan kepada panitia Steering Committee (SC) dan Organizing Committee (OC) yang telah mendedikasikan diri demi suksesnya acara ini. Semoga IMPSC menjadi legacy satu abad Gontor, yang terus dikenang sebagai momentum ketika pesantren, budaya, dan olahraga menyatu untuk membangun peradaban Islam yang damai, kuat, dan bermartabat. []
Hotel Sapta Tangerang: 16 September 2025





















