Grobogan, Gontornews — Pagi itu, udara di Grobogan, Jawa Tengah, terasa berbeda. Sejak malam sebelumnya, satu per satu para kiai, ustadz, dan pimpinan pondok alumni Gontor dari berbagai daerah mulai berdatangan ke Pondok Pesantren Izzatul Ummah, Grobogan.
Sapaan hangat, pelukan persaudaraan, dan tawa khas santri menyambut kedatangan mereka. Suasana pesantren yang biasanya tenang, kini berubah menjadi pusat silaturahmi penuh keakraban.
Sebagai tuan rumah, keluarga besar Izzatul Ummah menyambut dengan penuh rasa syukur. “Kami benar-benar berbahagia, melihat para pengasuh pondok senior berkumpul di sini, rasanya seperti mendapat restu dan doa untuk terus melangkah,” ungkap KH Imam Aliy Muharrom, pengasuh Pondok Pesantren Izzatul Ummah Grobogan.
Tajammu’ kali ini terasa istimewa. Bukan sekadar pertemuan rutin, melainkan momentum spiritual — saat para pewaris perjuangan Trimurti Gontor kembali merajut ukhuwah, memperkuat visi, dan memantapkan langkah untuk masa depan pesantren.
Lebih dari Sekadar Temu Kangen
Selama dua hari, 24–25 Oktober 2025, halaman Izzatul Ummah menjadi saksi betapa eratnya persaudaraan di antara pesantren-pesantren alumni Gontor. Di sela sesi resmi, tampak para kiai duduk melingkar di serambi, berbincang santai dengan para ustadz muda sambil menyeruput teh hangat.
“Yang kita bawa dari Gontor bukan hanya ilmu, tetapi semangat kebersamaan dan keikhlasan,” kata KH Faizin, pengasuh Pesantren Al Furqon Tegal. Tajammu’ kali ini benar-benar menggambarkan itu. Ia menjadi temu hati, temu pikiran, dan temu doa.
Jejak Inspirasi dari Para Guru
Pada sesi utama, Ayahanda Dr H Ahmad Suharto MPdI menyampaikan kisah yang menggugah hati tentang Trimurti — tiga pendiri Pondok Modern Darussalam Gontor. Beliau menuturkan bagaimana sosok visioner mereka banyak dipengaruhi oleh Kiai Abdul Mannan Dipomenggolo, alumni Al-Azhar Mesir pertama dari Indonesia, yang juga menjadi guru Kiai Sahal Tremas.
Dari kisah itu, beliau mengutip kalimat yang mengguncang kesadaran:
“Kalau hidup kita tidak bisa berbuat melebihi orang-orang terdahulu, lebih baik orang terdahulu tidak usah meninggal, dan kita tidak usah lahir — hanya menghabiskan jatah beras.”
Pesan itu menancap dalam. Ia menjadi pengingat bahwa hidup di pesantren bukan sekadar melestarikan tradisi, tetapi memperbarui dan melahirkan peradaban baru.
Dari Good ke Great — Jalan Panjang Menuju Pesantren Tangguh
Sesi berikutnya diisi oleh KH Anang Rikza Masyhadi MA PhD dengan paparan inspiratif bertajuk “Good to Great.”
Bersumber dari riset terhadap perusahaan-perusahaan yang mampu bertahan lebih dari 100 tahun, beliau mengajak para pengasuh pesantren untuk menerapkan prinsip serupa dalam dunia pendidikan Islam.
“Pesantren bisa mengadopsi hasil riset beberapa perusahaan yang bertahan di atas seratus tahun. Dari yang baik menjadi hebat, dari yang hebat menjadi berpengaruh.”
Pandangan modern itu berpadu indah dengan nilai-nilai Panca Jiwa pesantren: keikhlasan, kesederhanaan, berdikari, ukhuwah Islamiah dan kebebasan. Dari sinilah lahir harapan baru — bahwa pesantren mampu menjadi institusi pendidikan Islam yang tangguh dan berumur panjang, sekaligus tetap menjadi sumber cahaya peradaban.
Tajammu’ yang Menghidupkan Semangat
Selama dua hari, suasana di Izzatul Ummah begitu hidup. Para santri tampak antusias melayani para tamu, sementara para kiai berbagi kisah dan doa di setiap kesempatan.
Acara ditutup dengan santapan kambing guling khas Grobogan yang dinikmati bersama. Gelak tawa dan kehangatan terasa di mana-mana. Selepas shalat dzuhur, para peserta melanjutkan kunjungan ke beberapa pesantren alumni Gontor di Grobogan — mempererat jejaring silaturahmi dan saling menguatkan langkah perjuangan.
“Tajammu’ kali ini bukan sekadar acara, tapi momentum untuk meneguhkan semangat agar pesantren terus tumbuh, maju, dan memberi manfaat seluas-luasnya bagi umat,” ungkap salah satu peserta.
Doa yang Tak Pernah Putus
Senja Grobogan sore itu menjadi saksi perpisahan penuh doa. Satu per satu rombongan pamit dengan pelukan dan senyum hangat. Di kejauhan, suara santri melantunkan dzikir sore, seolah mengiringi langkah para guru kembali ke pondok masing-masing.
Di hati semua yang hadir, hanya ada satu harapan: Semoga Allah SWT senantiasa menjaga silaturahmi ini, memanjangkan umur para guru, dan meneguhkan pesantren-pesantren alumni Gontor dalam menapaki abad baru perjuangan Islam.
Maa syaa Allah Tabarakallah… Tajammu’ XIV FPAG Jateng & DIY bukan sekadar temu, tetapi jejak bersejarah yang menyalakan kembali semangat kebersamaan dan visi besar pesantren menuju masa depan peradaban. []


















