Surabaya, Gontornews — Bencana alam yang terjadi akhir-akhir ini tidak terlepas dari resiprositas perusakan manusia terhadap lingkungannya sendiri. Isu global warming dan climate change menjadi salah satu ancaman serius bagi penduduk bumi, akibat peningkatan laju deforestasi, penambangan berlebihan dan produksi sampah plastik.
Hal tersebut yang melatarbelakangi Dosen Hubungan Internasional Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor, Ida Susilowati melakukan gerakan ‘one person one mangrove for better world’ bersama 22 mahasiswi semester enam program studi Hubungan Internasional, sebagai bentuk nyata pengabdian akademisi kampus pesantren bagi masyarakat dan lingkungan berbasis fikih bi’ah.
Mangrove merupakan tumbuhan yang berfungsi sebagai filter sampah dari laut supaya tidak kembali lagi ke laut. Mangrove juga berfungsi sebagai pencegah abrasi kawasan pesisir pantai, penghalau angin puting beliung masuk ke daratan, pencegah erosi di daratan dan intrusi air laut.
Selain itu, tanaman mangrove memiliki kemampuan menyerap karbon lima kali lipat dibandingkan tanaman darat lainnya, sekaligus mampu menghasilkan oksigen kurang lebih sebesar tiga kilogram dan mampu menyerap karbon hingga sepuluh kilogram.
Kepada Gontornews.com, Ida Susilowati mengabarkan bahwa kegiatan pengabdian diawali dengan diskusi interaktif antara pengelola hutan mangrove yang diwakili oleh David, bersama mahasiswi program studi Hubungan Internasional UNIDA Gontor, membahas urgensi mangrove dalam pencapaian SDG’s-13 (penanganan perubahan iklim), SDG’s-14 (ekosistem lautan), dan SDG’s-15 (ekosistem daratan).
Kegiatan yang dilaksanakan di Ekowisata Mangrove Wonorejo, Surabaya, pada Rabu (7/1/2026) tersebut merupakan bentuk Green Cooperation antara Fakultas Humaniora UNIDA Gontor dengan Ekowisata Mangrove Wonorejo. Melalui kolaborasi ini, diharapkan dapat menjadi jariyah hasanah para akademisi kampus berbasis pesantren bagi keberlanjutan lingkungan.
Kegiatan diakhiri dengan aksi penanaman mangrove sebagai wujud sumbangsih terhadap pencapaian lingkungan berkelanjutan dan penanganan perubahan iklim (SDG’s-13). Diharapkan, kegiatan ini mampu menghidupkan kesadaran generasi muda terhadap lingkungannya dan meminimalisasi sampah plastik untuk keberlanjutan lingkungan yang lestari. Karena pada prinsipnya manusialah yang membutuhkan lingkungan dan bukan sebaliknya. Sekian, salam lestari, salam konservasi. [Edithya Miranti]


















