Bekasi, Gontornews –Fajar baru saja mengintip di ufuk timur, ketika suara lembut murottal menggema dari masjid megah di tengah bangunan asrama santri. Terlihat, deretan santri bersarung dan berpeci bergegas menuju masjid. Di sinilah denyut kehidupan itu berawal setiap hari, di sebuah lembaga di atas tanah wakaf bernama Yayasan Pendidikan Islam Al Hassan.
Kisah Al Hassan dimulai jauh dari Bekasi, tepatnya di Tanah Suci Mekkah pada tahun 2002. Dalam suasana yang penuh kekhusyukan di depan Ka’bah, sepasang suami istri, H. Haedar Attamimi dan Hajjah Mona saat menunaikan ibadah haji. Di tengah lautan manusia yang berputar mengelilingi rumah Allah, keduanya menyalurkan niat mulia: mewakafkan dana sebesar Rp1,5 miliar kepada Prof. Dr. KH. Ahmad Satori Ismail, MA seorang ulama yang dikenal sebagai tokoh dakwah dan pendidikan di Indonesia.
“Wakaf itu diniatkan untuk mengenang almarhum Haji Hassan, ayah dari Ibu Mona, seorang tokoh keluarga yang dikenal saleh dan dermawan,” ungkap Mudir Pondok Pesantren Modern Al Hassan, Prof. Dr. KH. Ahmad Satori Ismail, MA yang juga alumni Pondok Modern Darussalam Gontor ini.
Nama itu kemudian diabadikan sebagai Al Hassan, yang bermakna “orang yang baik”, sejalan dengan cita-cita mereka: menghadirkan pendidikan Islam yang baik, benar, dan bermanfaat luas.
Sekembalinya dari Tanah Suci, niat suci itu segera diwujudkan. Dana wakaf tersebut digunakan untuk membeli tanah seluas kurang lebih satu hektar di kawasan Jalan Jambu Ujung RT 003 RW 011, Jatimakmur, Pondok Gede, Bekasi. Di atas lahan yang dulunya hanyalah hamparan kosong dan sunyi, mulai peletakan batu pertama pada tahun 2004, menandai lahirnya lembaga pendidikan yang kelak dikenal sebagai Pesantren Modern Al Hassan.
“Kami ingin wakaf ini tidak berhenti di tanah, tapi tumbuh menjadi ilmu yang terus hidup, bahkan setelah kami tiada,” begitu pesan Ibu Hajjah Mona kala itu, sebuah kalimat yang menjadi ruh perjalanan panjang Al Hassan hingga kini.
Membangun Generasi dari Titik Nol
Empat tahun kemudian, tepatnya tahun 2007, cita-cita itu mulai berwujud nyata. Dengan segala keterbatasan, Al Hassan membuka jenjang SMP Islam Terpadu (SMPIT) khusus putra. “Hanya ada 38 santri yang pertama kali menempati asrama diawal merintis,” ungkap lelaki yang juga Ketua Dewan Syuro Ikatan Dai Indonesia (IKADI).
Tahun demi tahun berjalan. Jumlah santri bertambah, reputasi pondok mulai terdengar. Pada 2011, Al Hassan memperluas jenjang pendidikan dengan membuka Madrasah Aliyah (MA) khusus putra.
Empat tahun berselang, pada 2015, berdirilah SMPIT Putri Al Hassan, menandai babak baru bagi pendidikan santriwati di bawah naungan yayasan ini. Bangunannya berdiri di lahan wakaf seluas 1.700 meter persegi, tak jauh dari kompleks putra.
Namun, jumlah santriwati yang terus bertambah membuat ruang belajar makin terbatas. Maka pada 2022, yayasan kembali melangkah: membebaskan lahan seluas 2.600 meter persegi untuk pembangunan kompleks baru. Setahun kemudian, tepat 2023, santriwati resmi pindah ke asrama yang lebih luas, bersih, dan modern — lengkap dengan fasilitas olahraga, laboratorium, serta mushola putri sendiri.
Bangunan lama pun tak dibiarkan kosong. Di tempat itu, pada 2024, lahirlah SD Al Hassan Islamic School, dengan 20 murid angkatan pertama. “Dari tingkat dasar inilah, Al Hassan mulai menanamkan nilai-nilai Islam sejak dini, menyiapkan generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tapi juga matang secara spiritual,” tuturnya.
Membangun Peradaban dari Keikhlasan
Bagi Yayasan Al Hassan, wakaf bukan sekadar amal harta, tapi bentuk cinta terhadap ilmu dan generasi. Seluruh lembaga yang berdiri di bawah yayasan ini — dari SD, SMPIT, hingga MA — dibangun di atas tanah wakaf, dikelola dengan sistem pendidikan berkelanjutan, dan diarahkan untuk melahirkan kader Islam yang unggul.
Filosofinya sederhana namun dalam: ilmu harus hidup, dan yang menyalakannya adalah keikhlasan. Maka setiap rupiah yang digunakan di sini bukan dianggap sebagai biaya, melainkan investasi abadi untuk kehidupan setelah mati.
Tahun 2025 menjadi tonggak penting lain. Yayasan menerima wakaf tanah seluas 4 hektar di Jonggol, yang akan dijadikan pusat pengembangan pendidikan masa depan.
Kini, PPM Al-Hassan telah berada di enam titik lokasi yaitu Al-Hassan 1, yang ada di pusat di Jatimakmur, Al-Hassan 2 yaitu Pendidikan Tingkat Sekolah Dasar di Jatimakmur, Al-Hassan 3 Pesantren Putri di Jatimakmur, Al-Hassan 4, Rumah Qur’an dan Bahasa Arab di Tebet Jakarta Selatan, Al-Hassan 5 di Curug Kota Serang Banten dan Al-Hassan 6 berada di Jonggol Bogor.
Modern dalam Nuansa Islami
Bangunan-bangunan di kompleks Al Hassan dirancang fungsional tapi tetap bernuansa spiritual. Di tengah kompleks berdiri Masjid Al Hassan, jantung kehidupan pesantren. Kubahnya berwarna paduan coklat muda paduan krem, dikelilingi pepohonan dan taman kecil yang selalu terawat.
Setiap ruang kelas dilengkapi fasilitas modern: AC, LCD projector, laboratorium sains, dan perpustakaan digital. Asrama putra dan putri terpisah, masing-masing dengan sistem keamanan dan kebersihan yang ketat.
Yayasan juga memiliki klinik kesehatan sendiri, tempat santri bisa mendapat layanan medis ringan. Menariknya, menu makanan di kantin disusun langsung oleh ahli gizi, memastikan para santri mendapatkan asupan yang seimbang.
Tak ketinggalan, ada pula lapangan futsal dan basket, ruang kreatif, dan studio bahasa. Semua fasilitas ini menjadi bukti bahwa Al Hassan tidak hanya fokus pada ilmu agama, tetapi juga menyiapkan santrinya agar siap menghadapi dunia modern.
Yang membuat Al Hassan istimewa bukan hanya bangunannya, tetapi para pengajarnya. Di sini, ustadz dan ustazah datang dari berbagai perguruan tinggi di dalam dan luar negeri, seperti: Al Azhar University, Mesir, University of The Holy Qur’an, Sudan, Universitas Islam Madinah, Saudi Arabia, University of Malaya, Malaysia, LIPIA Jakarta, Universitas Indonesia UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
Prestasi yang Menginspirasi
Sementara itu Wakil Mudir PPM Al Hassan Dr. Imam Toriqor Rahman, M.Sos mengatakan, dari tahun ke tahun, Al Hassan menorehkan prestasi di berbagai bidang. Di antaranya: Juara 1 Musabaqah Hifzil Qur’an (MHQ) se-Jabodetabek, Juara 1 Storytelling Bahasa Inggris O2SM, Juara 1 Kaligrafi O2SM, Juara 1 Kompetisi Sains Madrasah (KSM) bidang kimia dan biologi, Juara 3 KSM Matematika Nasional, Juara 2 Da’i Muda TV One (Damai Indonesiaku), Juara 1 Kejurnas Silat Internasional, Juara 1 Tenis Meja O2SM dan Juara 1 Futsal se Jabodetabek.
“Lebih dari seratus santri telah menjadi hafiz dan hafizah 30 juz, dan banyak di antaranya melanjutkan pendidikan ke universitas bergengsi, seperti UI, ITB, UIN, UNJ, Al Azhar Mesir, IIUM Malaysia, hingga Universitas Islam Madinah,” ungkapnya.
Berkah yang Tak Pernah Padam
PPM Al Hassan kini menuju 20 tahun, di tahun 2027. Sejak tanah kosong itu pertama kali digenggam dengan niat wakaf. Kini, di atasnya tumbuh kehidupan yang penuh cahaya. Setidaknya ada 650 santri putra dan putri setiap hari melantunkan ayat-ayat suci, menghidupkan kembali makna “ilmu sebagai ibadah”.
Di bawah kepemimpinan Prof. Dr. KH. Ahmad Satori Ismail, YPI Al Hassan telah menjelma menjadi lembaga pendidikan Islam berbasis wakaf yang modern dan berkelanjutan, tempat iman, ilmu, dan budaya berpadu dalam harmoni.
Yayasan Pendidikan Islam Al Hassan adalah bukti nyata bahwa dari tanah wakaf, bisa lahir peradaban. Dari niat suci, bisa tumbuh cahaya yang tak pernah padam menebar kebaikan, Al Hassan. [Fathurroji]





















