Seorang teman lama yang kini menjadi direktur perusahaan multinasional pernah berkeluh kesah kepada kami. “Gaji saya naik hampir tiga kali lipat dalam lima tahun terakhir,” katanya suatu sore di warung kopi sederhana depan kampus. “Tapi anehnya, hidup terasa makin sempit. Tabungan tidak bertambah, ketenangan makin susah dicari.”
Keluhan itu mengingatkan kami pada pesan Rasulullah SAW: kekayaan bukan tentang banyaknya harta, melainkan kaya hati. Ada orang bergaji puluhan juta tapi hidupnya gelisah. Ada pula guru honorer dengan penghasilan pas-pasan, namun wajahnya selalu cerah dan langkahnya ringan. Walau terkadang ada gelisah juga. Apa yang membedakan keduanya? Jawabannya, kami kira, terletak pada dua hal: qana’ah dan kemandirian.
Dua Sayap yang Saling Melengkapi
Dalam tradisi pesantren yang kami kenal sejak kecil, qana’ah bukan berarti pasrah pada kemiskinan. Qana’ah adalah sikap menerima dengan lapang dada apa pun yang Allah berikan, sembari tetap berikhtiar maksimal. Ia kepasrahan setelah usaha maksimal, bukan kemalasan yang berkedok tawakal.
Di sisi lain, kemandirian adalah prinsip yang tidak kalah penting. Para pendiri pesantren Darunnajah, KH Abdul Manaf Mukhayyar, KH Mahrus Amin dan KH Qomaruzzam, mengajarkan bahwa umat Islam harus berdiri di atas kaki sendiri. Mereka mendirikan unit usaha, mengembangkan koperasi, dan membangun infrastruktur pendidikan tanpa mengemis pada siapa pun.
Qana’ah dan kemandirian adalah dua sifat yang membuat kepemimpinan bisa memaksimalkan potensinya. Tanpa qana’ah, kemandirian bisa berubah menjadi keserakahan. Tanpa kemandirian, qana’ah bisa menjadi pembenaran untuk stagnan.
Pelajaran dari Darunnajah
Ada satu kisah yang selalu kami ingat. Kiai Manaf pernah menolak sumbangan besar dari seorang dermawan karena khawatir dana tersebut tidak bersih. “Lebih baik pembangunan lambat tapi berkah,” katanya.
Keputusan itu tentu tidak mudah. Pesantren saat itu sedang membutuhkan dana. Godaan untuk menerima (bantuan) begitu besar. Tapi beliau memilih jalan yang lebih panjang, jalan yang menjaga keberkahan.
Hasilnya? Alhamdulillah Darunnajah tumbuh menjadi salah satu lembaga pendidikan Islam terbesar di Indonesia. Ribuan alumninya tersebar di berbagai sektor, dari akademisi hingga pengusaha, dari birokrat hingga ulama.
Inilah yang kami sebut kepemimpinan berbasis nurani atau istilah populernya leadership by conscience. Pemimpin yang tidak hanya menghitung untung-rugi material, tapi juga mempertimbangkan halal-haram, berkah-mudarat, dunia-akhirat.
Godaan di Era Pragmatis
Dalam dunia pendidikan Islam kontemporer, godaan untuk mengabaikan prinsip ini semakin besar. Ada tekanan untuk memperbanyak jumlah siswa demi pemasukan. Ada godaan memangkas kualitas demi efisiensi. Ada tawaran kerjasama dengan pihak-pihak yang membawa agenda tersembunyi.
Al-Qur’an sebenarnya sudah memberikan panduan yang jelas. Dalam Surat Ath-Thalaq ayat 2-3, Allah menjanjikan: “Barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya, dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.”
Takwa di sini bukan sekadar rajin shalat. Dalam konteks kepemimpinan, takwa berarti menjaga integritas. Tidak memanipulasi akreditasi. Tidak menjual ijazah. Tidak mengorbankan kualitas demi kuantitas. Tidak menzalimi guru, dosen demi keuntungan semata.
Rezeki yang dijaga keberkahannya akan melahirkan keajaiban. Sekolah yang mungkin tidak megah, tapi melahirkan alumni berkarakter. Pesantren yang sederhana, tapi jaringan silaturahimnya menembus tujuh benua. Madrasah yang kekurangan dana, tapi guru-gurunya mengajar dengan ketulusan yang tidak bisa dibeli dengan uang. Dan juga perguruan tinggi yang berorientasi kepada pengembangan ilmu.
Syukur sebagai Strategi
Ada satu dimensi lain yang sering dilupakan: syukur. Al-Qur’an menegaskan dalam Surat Ibrahim ayat 7: “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah nikmat kepadamu.”
Dalam konteks kepemimpinan, syukur berwujud dalam penghargaan terhadap setiap elemen yang berkontribusi. Guru yang digaji layak dan dihormati. Staf kebersihan yang tidak dipandang sebelah mata. Siswa yang diperlakukan sebagai amanah, bukan sekadar sumber pendapatan.
Ketika semua elemen ini dijaga, rezeki institusi akan mengalir dengan sendirinya, kadang dari arah yang sama sekali tidak terduga. Donatur datang tanpa diminta. Kerjasama terbuka tanpa dilobi. Kepercayaan publik tumbuh tanpa perlu kampanye berlebihan.
Muhasabah Ketika Rezeki Macet
Tentu ada kalanya jalan terasa buntu. Usaha sudah maksimal, tapi hasil tidak kunjung datang. Pendaftaran menurun. Donatur mundur. Target meleset.
Al-Qur’an memberikan perspektif menarik dalam Surat Asy-Syura ayat 30: “Apa saja musibah yang menimpa kamu disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri.”
Ini bukan untuk menambah beban, melainkan ajakan untuk muhasabah. Adakah dalam proses kita masih ada yang tidak beres? Adakah hak-hak yang terabaikan? Adakah doa yang terlupakan karena kesibukan? Kemacetan rezeki bisa jadi isyarat untuk kembali kepada Yang Maha Memberi.
Di akhir pertemuan dengan teman kami yang menjadi direktur itu, kami hanya menyampaikan satu hal: “Mungkin yang perlu kita kejar bukan rezeki yang lebih banyak, tapi rezeki yang lebih berkah.”
Ia terdiam sejenak, lalu tersenyum. “Sepertinya kami perlu belajar lagi ke pesantren.”
Memang, di zaman yang mengukur segalanya dengan angka dan statistik, pesantren menyimpan mutiara kearifan yang sering dilupakan. Qana’ah mengajarkan kita untuk tenang di tengah ketidakpastian. Kemandirian mendorong kita untuk terus bergerak tanpa bergantung pada belas kasihan.
Keduanya, jika dipadukan dengan benar, akan melahirkan mentalitas kepemimpinan yang tidak hanya sukses di dunia, tapi juga selamat di akhirat. Dan bukankah itu tujuan sejati pendidikan Islam? []






















