Mukadimah
Ketika Ramadhan memasuki fase puncak. Ramadhan bukan sekadar bulan puasa. Ia musim panen pahala, bulan ketika Allah melimpahkan rahmat, ampunan, dan pembebasan dari api neraka kepada hamba-hamba-Nya. Di bulan ini, setiap amal dilipatgandakan nilainya, bahkan amal yang kecil sekalipun bisa menjadi besar di sisi Allah.
Rasulullah SAW bersabda:
إِذَا جَاءَ رَمَضَانُ فُتِّحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ وَصُفِّدَتِ الشَّيَاطِينُ
“Apabila Ramadhan datang, pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu.” (HR Bukhari dan Muslim)
Namun dalam perjalanan Ramadhan, terdapat sebuah fenomena yang sering terjadi di tengah umat: semangat ibadah memuncak di awal bulan, tetapi mulai menurun menjelang akhir. Masjid yang semula penuh dengan jamaah perlahan menjadi renggang. Padahal, jika kita meneladani Rasulullah SAW, justru akhir Ramadhan merupakan puncak ibadah beliau.
Strategi Nabi SAW di Sepuluh Malam Terakhir
Rahasia ibadah Rasulullah SAW pada sepuluh malam terakhir Ramadhan digambarkan dengan sangat jelas dalam hadis yang diriwayatkan oleh Aisya:
كَانَ النَّبِيُّ ﷺ إِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ الأَوَاخِرُ أَحْيَا اللَّيْلَ وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ وَشَدَّ مِئْزَرَهُ
“Apabila memasuki sepuluh malam terakhir Ramadhan, Rasulullah menghidupkan malamnya, membangunkan keluarganya, dan mengencangkan ikat pinggangnya.” (HR Bukhari dan Muslim)
Para ulama menjelaskan bahwa ungkapan “شدّ مئزره” bermakna bersungguh-sungguh dalam ibadah secara total.
Ada tiga strategi besar yang dilakukan Rasulullah SAW. Pertama, Menghidupkan malam (إحياء الليل). Beliau memperbanyak qiyamul lail, membaca Al-Qur’an, berdoa, dan berdzikir.
Kedua, Mengajak keluarga beribadah. Rasulullah tidak hanya beribadah sendiri, tetapi juga membangunkan keluarganya untuk ikut meraih keberkahan malam Ramadhan.
Ketiga, Meningkatkan kesungguhan ibadah. Beliau lebih fokus, lebih khusyuk, dan lebih intens dalam beribadah dibanding malam-malam sebelumnya.
Lailatul Qadar: Malam yang Mengubah Sejarah Hidup
Salah satu alasan utama Rasulullah SAW memaksimalkan ibadah di akhir Ramadhan karena di dalamnya terdapat Lailatul Qadar, malam yang lebih baik dari seribu bulan.
Allah berfirman:
لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ
“Lailatul Qadar itu lebih baik daripada seribu bulan.” (QS Al-Qadr: 3)
Seribu bulan berarti lebih dari 83 tahun ibadah. Artinya, satu malam yang dipenuhi ibadah pada malam tersebut bisa bernilai seperti ibadah sepanjang umur manusia. Karena itu Rasulullah SAW bersabda:
مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
“Barangsiapa menghidupkan malam Lailatul Qadar dengan iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR Bukhari dan Muslim)
Inilah kesempatan emas yang tidak boleh dilewatkan oleh seorang Mukmin.
I’tikaf: Tradisi Spiritual Rasulullah SAW
Salah satu ibadah utama yang dilakukan Rasulullah SAW pada sepuluh malam terakhir Ramadhan yaitu i’tikaf di masjid. Dalam hadis disebutkan bahwa Rasulullah SAW selalu beri’tikaf pada sepuluh malam terakhir Ramadhan hingga beliau wafat.
I’tikaf memiliki makna spiritual yang sangat dalam: menarik diri dari kesibukan dunia untuk sepenuhnya fokus kepada Allah.
Di dalam i’tikaf seorang Mukmin memperbanyak: tilawah Al-Qur’an, dzikir dan doa, qiyamul lail, tafakkur dan muhasabah diri.
Masjid: Pusat Kebangkitan Ruhani
Sepuluh malam terakhir Ramadhan seharusnya menjadi waktu ketika masjid semakin hidup. Allah berfirman:
إِنَّمَا يَعْمُرُ مَسَاجِدَ اللَّهِ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَأَقَامَ الصَّلَاةَ
“Sesungguhnya yang memakmurkan masjid-masjid Allah hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir serta menegakkan shalat.” (QS At-Taubah: 18)
Ayat ini menegaskan bahwa memakmurkan masjid merupakan tanda keimanan. Karena itu, shalat berjamaah, tarawih, tadarus Al-Qur’an, qiyamul lail, dan i’tikaf merupakan amal yang sangat dianjurkan pada malam-malam ini.
Renungan Ulama tentang Nilai Ramadhan
Para ulama memberikan renungan yang sangat menggugah hati umat Islam:
لو أُذِنَ لأهل القبور أن يتمنَّوا لتمنَّوا يوماً واحداً من رمضان
“Seandainya penghuni kubur diizinkan untuk berangan-angan, niscaya mereka akan meminta agar dikembalikan ke dunia hanya untuk satu hari saja dari bulan Ramadhan.”
Karena setelah kematian, seseorang baru menyadari betapa berharganya kesempatan beribadah yang dulu pernah ia miliki.
Seorang ulama besar, Ibn Rajab al-Hanbali, juga memberikan nasihat yang sangat terkenal:
يا من ضيّع في أول الشهر، لعله أن يدركه في آخره، فإنما الأعمال بالخواتيم
“Wahai orang yang telah menyia-nyiakan awal bulan, semoga ia masih dapat memperbaikinya di akhir bulan, karena sesungguhnya amal itu dinilai dari penutupnya.”
Jangan Sampai Ramadhan Pergi Tanpa Makna
Hari-hari Ramadhan terus berkurang. Setiap malam yang berlalu tidak akan pernah kembali. Tidak ada jaminan kita akan dipertemukan lagi dengan Ramadhan tahun depan. Karena itu, mari kita mengikuti rahasia ibadah Rasulullah SAW: menghidupkan malam dengan qiyamul lail, memperbanyak tilawah Al-Qur’an, meramaikan masjid dengan shalat berjamaah, memperbanyak doa dan dzikir, melaksanakan i’tikaf di masjid.
Ihtitam
Semoga Allah menerima amal ibadah kita dan mempertemukan kita dengan kemuliaan Lailatul Qadar.
Kita tutup dengan doa:
اللهم تقبل منا صيامنا وقيامنا وبلغنا ليلة القدر
“Ya Allah, terimalah puasa dan ibadah malam kami, serta pertemukan kami dengan Lailatul Qadar.”
Āmīn yā Rabbal ‘ālamīn. []
21-22 Ramadhan 1447 H/11 Maret 2026


















