Jakarta, Gontornews – Salah satu agenda internasional dalam rangkaian peringatan 100 tahun Pondok Modern Darussalam Gontor, Ponorogo, yaitu Global Islamic Holistic Education Summit (GIHES) 2026. Kegiatan ini akan mempertemukan sekitar 300 tokoh pendidikan dan pemimpin pesantren dari berbagai negara. GIHES 2026 dijadwalkan berlangsung pada 5–6 September 2026 di Hotel Borobudur, Jakarta Pusat.
Pertemuan internasional tersebut akan membahas masa depan pendidikan holistik di tengah berbagai tantangan dan perubahan yang dihadapi dunia pendidikan pada era modern. Namun, forum yang menjadi bagian dari rangkaian peringatan satu abad Pondok Modern Darussalam Gontor tersebut tidak dibuka secara massal. Panitia membatasi jumlah peserta hingga 300 orang agar pembahasan dapat berlangsung lebih fokus, mendalam, dan strategis.
Ketua Panitia GIHES 2026, KH Anang Rikza MA PhD, mengatakan forum ini dirancang sebagai pertemuan tingkat tinggi yang mempertemukan pimpinan pesantren, pengelola lembaga pendidikan, akademisi, hingga pemangku kebijakan dari berbagai negara. Pembatasan jumlah peserta merupakan bagian dari konsep forum yang mengutamakan kualitas diskusi sekaligus membuka peluang kolaborasi antarpemimpin pendidikan.
“Sangat disayangkan jika momentum ini tidak diikuti oleh para tokoh pendidikan dan pimpinan pesantren. Namun, karena ini forum tingkat tinggi yang sangat berkualitas, kami membatasi kepesertaan secara ketat hanya untuk 300 peserta dari berbagai negara,” ujar Anang Rikza dalam konferensi pers di Jakarta Selatan, Jumat (14/8/2026).
Sementara itu, Anggota Badan Wakaf Gontor Prof Dr KH Din Syamsuddin, menyebut GIHES 2026 sebagai salah satu rangkaian penting menuju puncak peringatan 100 tahun Pondok Modern Darussalam Gontor. Puncak peringatan satu abad Gontor akan berlangsung pada 19 September 2026 di kampus utama Gontor, Ponorogo.
Menurut Din, GIHES relevan dengan kiprah Gontor sebagai lembaga pendidikan Islam modern yang telah melahirkan banyak alumni yang berkiprah di berbagai bidang, mulai dari keagamaan, akademik, kesehatan, dan bisnis hingga politik.
“Gontor telah memperoleh pengakuan luas, tidak hanya dari kalangan internal, tetapi juga dari berbagai pihak di luar negeri. Karena itu, Gontor dinilai layak menjadi tuan rumah forum global yang membahas masa depan pendidikan Islam holistik,” paparnya.
Din menjelaskan, pendidikan Islam holistik merupakan konsep yang mengintegrasikan ta’lim (pengajaran), tarbiyah (pembinaan), dan ta’dib (pendidikan akhlak). Konsep tersebut juga menekankan perpaduan antara ilmu-ilmu agama dan ilmu pengetahuan umum, termasuk sains, teknologi, teknik, dan matematika (STEM).
Menurut Din, pendekatan holistik diperlukan untuk membangun generasi yang tidak hanya memiliki penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi juga memiliki karakter dan nilai-nilai keislaman. Pendidikan semacam ini, lanjutnya, menjadi salah satu fondasi penting untuk membangkitkan kembali peradaban Islam yang berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi.
Karena itu, Din mengimbau para pemikir dan praktisi pendidikan Islam, mulai dari pengelola pondok pesantren, akademisi, hingga guru besar, untuk berpartisipasi dalam GIHES 2026. Forum tersebut diharapkan menjadi ruang bertukar gagasan bersama para pakar internasional sekaligus merumuskan strategi untuk mengarusutamakan pendidikan Islam holistik di tengah perubahan global. [M Deny Irawan & M Khaerul Muttaqien]




















