Keberanian mencoba sesungguhnya adalah pintu menuju hikmah. Membentuk seseorang agar berani menjadi entrepreneur bukan perkara mudah. Bahkan negara-negara besar di dunia pun harus mengeluarkan berbagai insentif untuk melahirkan para pelaku usaha yang berani mandiri.
Di Qatar, misalnya, beberapa bulan lalu Perdana Menteri Mohammed bin Abdulrahman Al Thani menjanjikan tambahan dana sebesar 2 miliar dolar AS untuk startup berbasis di Qatar. Tidak hanya itu, pemerintah Qatar juga meluncurkan visa residensi 10 tahun khusus bagi investor, inovator, dan entrepreneur. Visa ini memberikan berbagai kemudahan agar para pelaku usaha mau membuka bisnis dan kantor mereka di Qatar, bukan sekadar menjalankan usaha secara daring dari luar negeri.
Fenomena serupa juga terlihat di berbagai negara lain. Inggris, misalnya, memiliki beragam skema pembiayaan dan jalur visa khusus bagi inovator dan pendiri startup. Jika ditelusuri lebih jauh, hampir semua negara modern memiliki pola yang sama: mereka sadar bahwa melahirkan manusia yang berani berdiri di atas kaki sendiri bukan pekerjaan sederhana.
Hal itu menunjukkan satu kenyataan penting: kemandirian membutuhkan keberanian. Dalam hal ini, pesantren memiliki pelajaran yang menarik. Banyak alumni pesantren tumbuh dengan satu mahfuzhat sederhana namun sangat dalam maknanya: Jarrib wa laahizh takun ‘aarifan (Cobalah dan perhatikan, maka kamu akan mengetahui).
Kalimat ini tampak sederhana, tetapi sesungguhnya membangun mental yang kuat. Yang dijanjikan pengalaman dan pelajaran. Namun justru dari pengalaman itulah pengetahuan lahir, dan dari pengetahuan itulah keberhasilan sering kali dibangun.
Karena itu, keberanian mencoba sesungguhnya merupakan pintu menuju hikmah. Dalam al-Qur’an Surat Al-Baqarah ayat 269, Allah berfirman bahwa hikmah diberikan kepada siapa yang Dia kehendaki, dan siapa yang diberi hikmah berarti telah diberi kebaikan yang banyak.
Namun jalan menuju kemandirian memang tidak pernah mudah. Seseorang yang ingin mandiri harus terlebih dahulu memenangkan pertarungan di dalam dirinya sendiri. Selama rasa takut terus menguasai pikiran, nyali untuk melangkah tidak akan pernah tumbuh. Dan tanpa keberanian menghadapi ketidakpastian, sulit melahirkan manusia yang benar-benar merdeka secara pikiran maupun ekonomi.
Persoalan berikutnya tentang kebebasan. Semua orang ingin bebas, tetapi tidak semua siap membayar harga untuk mendapatkannya. Banyak orang sebenarnya nyaman berada dalam ketergantungan karena hidup terasa lebih aman dan pasti.
Mungkin itulah sebabnya Pondok Modern Darussalam Gontor menempatkan kebebasan sebagai salah satu nilai utama dalam Panca Jiwa. Kebebasan di sini bukan berarti hidup tanpa aturan, tetapi kemampuan berdiri dengan kekuatan sendiri, tidak mudah didikte, dan tidak menggantungkan hidup sepenuhnya kepada orang lain.
Dalam konteks ekonomi, kebebasan finansial juga memiliki harga yang tidak ringan. Orang ingin hidup mandiri, tetapi tidak banyak yang siap meninggalkan zona nyaman untuk meraihnya. Sebab dunia kemandirian penuh dengan ketidakpastian, kegagalan, dan fase-fase sulit yang sering kali tidak terlihat dari luar.
Di titik inilah kesederhanaan menjadi kekuatan yang sering diremehkan. Seseorang yang terbiasa hidup sederhana biasanya lebih siap menghadapi ketidaknyamanan. Ia tidak mudah panik ketika keadaan sulit, karena sejak awal tidak menggantungkan kebahagiaan pada kemewahan.
Pandangan ini sejalan dengan pemikiran Ibn Khaldun dalam Muqaddimah. Ia menjelaskan bahwa sebuah peradaban sering kali melemah ketika generasinya terlalu tenggelam dalam kemewahan. Ketika manusia kehilangan daya tahan hidup, mereka menjadi mudah ditundukkan dan kehilangan semangat perjuangan. []























