Jakarta, Gontornews — Jakarta tidak hanya dikenal sebagai pusat pemerintahan dan perdagangan, tetapi juga menyimpan jejak panjang penyebaran Islam. Salah satu peninggalan bersejarah yang masih berdiri hingga kini yaitu Masjid Al Alam Marunda, yang terletak di kawasan Marunda, Cilincing, Jakarta Utara.
Masjid Al Alam menjadi salah satu masjid tertua yang memiliki nilai sejarah dan budaya bagi masyarakat Betawi. Keberadaannya memperlihatkan bahwa kawasan pesisir Jakarta memiliki peran penting dalam perjalanan dakwah Islam di Nusantara. Letaknya yang tidak jauh dari Pantai Marunda ini juga mengingatkan adanya hubungan masyarakat pesisir dengan aktivitas perdagangan dan penyebaran agama pada masa lalu.
Masjid ini dikenal masyarakat dengan beberapa sebutan, salah satunya Masjid Si Pitung. Julukan tersebut diberikan karena adanya kaitan dengan cerita rakyat Betawi yang berkembang di tengah masyarakat. Di antaranya Masjid Al-Alam Pitung. Karena memang lokasi masjid tak begitu jauh dari lokasi “rumah” Pitung. Selain itu juga menurut cerita masyarakat setempat, pada saat itu Pitung sedang diburu oleh kompeni, masjid inilah yang menjadi salah satu tempat persembunyiannya
Salah seorang tokoh setempat mengatakan bahwa Masjid Al-Alam itu dibangun oleh pasukan Mataram untuk dijadikan tempat persinggahan. “Masjid ini dibangun oleh pasukan Mataram untuk dijadikan tempat persinggahan pada saat itu Mataram berada di bawah pimpinan Sultan Agung,” ujar Habib Agus, pengurus Masjid Al-Alam Marunda.
Dari segi arsitektur, Masjid Al Alam memiliki bentuk bangunan yang sederhana dengan atap bertingkat dan empat tiang utama atau soko guru yang menopang bagian dalam masjid. Ciri tersebut memperlihatkan karakter arsitektur masjid tradisional Nusantara yang memadukan fungsi keagamaan dengan budaya lokal.
Di antara keistimewaan masjid tersebut terdapat sumur yang menjadi daya tarik masyarakat saat berkunjung. Dahulu kala, sebelum menggunakan kran air. orang-orang yang ingin berwudhu kalau tidak di kali atau sungai, pasti di sumur. Menurut masyarakat setempat bahwa sumur itu memiliki tiga rasa, yaitu asin, manis dan tawar.
“Sumur yang dakat pendopo itu punya tiga rasa. Asin, manis sama tawar,” ucap Mamat, pemilik warung di sekitaran masjid.
Para jamaah ramai mendatangi sumur di sekitaran masjid tersebut, karena selain untuk berwudhu, air yang berasal dari sumur tersebut dipercaya dapat mengobati berbagai penyakit.
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menetapkannya sebagai cagar budaya melalui Keputusan Gubernur Nomor 475 Tahun 1993. Penetapan tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga peninggalan sejarah agar tetap lestari dan dapat dipelajari oleh generasi berikutnya. [Mahessa]























