Ponorogo, Gontornews — Tantangan pendidikan hari ini tentu tidak berhenti pada persoalan seni dan budaya. Santri sekarang tumbuh di tengah internet, media sosial, algoritma, artificial intelligence, dan arus informasi yang semakin bebas.
Informasi dapat masuk melalui telepon genggam hanya dalam hitungan detik. Konten yang baik dan buruk hadir dalam ruang yang sama. Generasi muda tidak hanya menjadi konsumen informasi, tetapi juga memiliki kesempatan menjadi pembuat dan penyebar informasi.
Karena itu, fungsi pesantren sebagai benteng moral justru menjadi semakin penting. Namun benteng moral tidak harus dimaknai sebagai tembok yang memisahkan santri dari perkembangan teknologi.
Guru Pesantren Darul Falah Sukorejo, Ustadzah Ivania Syarif, mengatakan bahwa santri perlu memiliki kemampuan menghadapi perkembangan teknologi dengan landasan nilai yang kuat.
“Teknologi tidak mungkin dijauhkan sepenuhnya dari kehidupan generasi sekarang. Karena itu, yang perlu kita bangun adalah fondasinya. Santri harus memiliki akhlak, adab, dan tanggung jawab sehingga ketika menggunakan teknologi, mereka memahami mana yang membawa manfaat dan mana yang harus dihindari,” ungkap Ivania dalam rilisnya kepada Gontornews.com.
Menurutnya, pesantren memiliki tanggung jawab membentuk santri agar tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga mampu menghadirkan nilai melalui teknologi.
Santri dapat belajar membuat konten, memahami media digital, menggunakan artificial intelligence, membangun komunikasi yang baik, dan memanfaatkan teknologi untuk pendidikan maupun dakwah. Namun semuanya harus berjalan dengan adab sebagai kompas.
Akhlak sebagai Kompas
Hubungan antara pesantren dan perkembangan teknologi sering kali dipandang sebagai dua hal yang berlawanan. Padahal, keduanya dapat berjalan bersama ketika ditempatkan secara benar. Teknologi hanyalah alat. Nilai manusialah yang menentukan bagaimana alat tersebut digunakan.
Artificial intelligence dapat membantu seseorang memperoleh informasi, tetapi akhlak menentukan apakah informasi tersebut digunakan untuk kebaikan. Media sosial dapat membuat seseorang dikenal luas, tetapi adab menentukan bagaimana ia berbicara dan memperlakukan orang lain. Teknologi dapat mempercepat komunikasi, tetapi karakter menentukan apa yang layak disampaikan.
Karena itulah pendidikan pesantren memiliki posisi strategis di era teknologi. Pesantren tidak cukup hanya menjaga santri dari dampak negatif perubahan zaman, tetapi juga perlu menyiapkan mereka agar mampu hadir di tengah perubahan tersebut dengan identitas dan prinsip yang kuat.
Tradisi Pendidikan Gontor
Pengasuh Pesantren Darul Falah Sukorejo Ponorogo, Ustadz Reza Arif Ahmadi yang merupakan alumni Pondok Modern Darussalam Gontor tahun 2001 memberi konteks tersendiri terhadap arah pendidikan yang berkembang di Darul Falah.
Pendidikan pesantren sebagaimana dikenal dalam tradisi Gontor tidak hanya berlangsung melalui proses belajar formal. Santri juga belajar dari disiplin keseharian, organisasi, tanggung jawab, kebersamaan, kepemimpinan, serta aktivitas yang memberi ruang bagi tumbuhnya keberanian dan kemandirian.
Semangat tersebut kemudian diterjemahkan dalam konteks Darul Falah sesuai kebutuhan generasi hari ini. Jika dahulu kemampuan berorganisasi, berpidato, berbahasa, dan mengelola kegiatan menjadi bagian penting dari pendidikan santri, maka generasi sekarang menghadapi tambahan tantangan: teknologi digital, kecerdasan buatan, media sosial, dan perubahan dunia kerja.
Prinsipnya tetap sama. Santri harus dipersiapkan agar mampu hidup dan memberikan manfaat ketika kembali kepada masyarakat. Pesantren yang Menyiapkan Santri untuk Kehidupan. Penampilan Darul Falah dalam Xpresi Kabaret TVRI Jawa Timur pada akhirnya tidak sekadar menjadi sebuah pertunjukan.
Hadrah dan tartil memperlihatkan akar spiritual. MSQ menunjukkan kemampuan memahami dan menyampaikan pesan Al-Qur’an. Orchestra, akustik, tari kombinasi, dan choral speaking membuka ruang kreativitas dan komunikasi. Sementara Reog Ponorogo menegaskan pentingnya menjaga identitas budaya. Semua itu bertemu dalam satu gagasan pendidikan: membentuk manusia secara utuh.
Adaptasi Teknologi
Pesantren tidak hanya mempersiapkan santri agar berhasil selama beberapa tahun tinggal di dalamnya. Pesantren sedang mempersiapkan mereka untuk kehidupan yang jauh lebih panjang setelah keluar dari gerbang pesantren.
Mereka kelak akan bertemu dunia kerja, teknologi, masyarakat, perubahan sosial, budaya global, dan derasnya arus informasi. Karena itu, santri membutuhkan lebih dari sekadar kemampuan akademik. Mereka membutuhkan akhlak sebagai kompas, ilmu sebagai bekal, budaya sebagai akar, kreativitas sebagai ruang tumbuh, dan teknologi sebagai alat untuk memperluas manfaat. Keduanya dapat berjalan bersama.
Sebab tugas pendidikan pesantren bukan menjauhkan santri dari perubahan zaman, melainkan memastikan bahwa ketika mereka memasuki zaman yang berubah, mereka tetap mengetahui siapa dirinya, nilai apa yang dipegang, dan untuk apa ilmu serta kemampuannya digunakan. [Mohamad Deny Irawan]























