Jakarta, Gontornews — Penggunaan telepon genggam atau handphone telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, termasuk bagi anak-anak. Mereka dapat menghabiskan waktu untuk menonton video, bermain game, atau membuka media sosial. Kebiasaan ini menjadi tantangan bagi orang tua, terutama ketika anak lebih tertarik pada layar gadget daripada belajar, beribadah, atau menghabiskan waktu bersama keluarga.
Tantangan pengasuhan anak di era digital menuntut kolaborasi yang seimbang antara ayah dan ibu dalam rumah tangga. Perkembangan teknologi membuat pengawasan berbasis nilai spiritual dan keteladanan semakin penting bagi keluarga muslim.
Hal tersebut disampaikan Akademisi UIN Antasari Banjarmasin, Ustadz H Hanafi MA dalam siaran Kuliah Shubuh RRI Pro1 Banjarmasin. Menurutnya, pemberian gawai kepada anak sejak usia dini perlu disertai pendampingan agar penggunaannya tetap memberi manfaat.
“Gawai hendaknya dijadikan sarana edukasi yang bijak dan didampingi secara aktif. Bukan sekadar alat pelampiasan agar anak tenang,” ujarnya.
Dalam kehidupan sehari-hari, orang tua sering menghadapi anak yang sulit berhenti bermain gadget. Anak terkadang menolak belajar atau salat karena asyik menonton video dan bermain gim. Bahkan, saat makan bersama keluarga, anak masih sibuk dengan handphone. Jika dibiarkan, kebiasaan ini dapat mengurangi kedekatan anak dan orang tua.
Kementerian Agama meminta orang tua atau wali murid mengatur batas pemakaian gawai di rumah paling lama dua jam per hari di luar kebutuhan belajar, dalam rangka menciptakan ruang belajar dan ruang digital yang lebih aman dan kondusif.
“Pembentukan kebiasaan digital yang sehat tidak bisa hanya dibebankan kepada sekolah. Orang tua perlu hadir, berdialog dengan anak, memberikan teladan penggunaan gawai yang bijak, sekaligus menyediakan aktivitas alternatif agar anak tidak bergantung pada perangkat digital,” tutur Sekretaris Jenderal Kemenag Kamaruddin Amin di Jakarta.
Dalam ajaran Islam, doa dan pengasuhan bukan hanya tanggung jawab ibu, tetapi juga menjadi kewajiban ayah. Kesibukan bekerja di luar rumah tidak seharusnya menghilangkan perhatian, komunikasi, dan dukungan emosional kepada anak.
Ustadz Hanafi menegaskan pentingnya menjaga ucapan ketika orang tua menghadapi kesalahan anak. Setiap perkataan yang disampaikan dalam kondisi emosi perlu dijaga karena dapat mempengaruhi kondisi psikologis serta perkembangan anak.
“Doa orang tua memiliki tingkat keijabahan yang sangat tinggi. Karena itu, kedua orang tua wajib berkolaborasi memanjatkan harapan terbaik,” ucapnya.
Dinas Pengendalian Penduduk, Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Kabupaten Batang menyuarakan pentingnya pola asuh yang lebih bijak dan berkesadaran. Kepala DP3AP2KB Batang Joko Prasetijo ia mengakui bahwa interaksi anak dengan dunia digital kini sudah mencapai tahap yang mengkhawatirkan.
“Anak-anak kita, terus terang, sebagian besar waktunya digunakan untuk menggunakan gadget dan bermedia sosial. Karena itu kami terus mendorong agar penggunaan media sosial dilakukan secara bijak dan ada pembatasan waktu penggunaan gawai,” katanya
Handphone dapat membantu anak belajar dan menambah pengetahuan. Namun, penggunaan berlebihan dapat membuat anak lupa waktu dan mengakses konten yang tidak sesuai usia. Karena itu, orang tua perlu mendampingi anak agar menggunakan teknologi secara bijak.
Dalam Islam, orang tua bertanggung jawab mendidik anak agar memiliki keimanan dan akhlak yang baik. Hal ini sesuai dengan QS At-Tahrim ayat 6 yang memerintahkan umat Islam menjaga diri dan keluarga dari api neraka. Tanggung jawab tersebut juga mencakup pendampingan anak dalam menggunakan teknologi secara bijak.
Dalam Program Mutiara Pagi Islami Pro 1 RRI Palu, Ustadz Dr H Muhammad Munif Godel MA membagikan sejumlah langkah sederhana yang dapat dilakukan keluarga untuk menumbuhkan kecintaan anak terhadap Al-Qur’an. Menurutnya, pembiasaan dari lingkungan rumah menjadi kunci utama dalam membentuk generasi Qurani.
Ustadz Munif juga menekankan pentingnya mengenalkan makna dan kisah-kisah dalam Al-Qur’an, bukan hanya mengajarkan cara membacanya. Menurutnya, cerita tentang para nabi dan nilai-nilai akhlak yang terkandung dalam Al-Qur’an dapat menjadi pelajaran berharga dalam membentuk karakter anak.
“Al-Qur’an tidak hanya sekadar dibaca dan dilombakan, tetapi harus menjadi petunjuk hidup yang diamalkan. Ketika nilai-nilai Al-Qur’an hadir dalam keluarga dan kehidupan sosial, maka keberkahan akan tumbuh di tengah masyarakat,” tambahnya.
Tantangan orang tua di era digital bukan hanya membatasi penggunaan handphone, tetapi juga menjadi teladan bagi anak. Orang tua dapat menetapkan batas waktu penggunaan handphone, mengajak anak bermain, serta mengingatkan mereka untuk mendahulukan ibadah.
Selain memberikan nasihat, orang tua perlu memberi contoh melalui kebiasaan salat berjamaah, membaca Al-Qur’an, makan bersama, dan berbincang tanpa gangguan gadget.
Mendidik anak di era digital membutuhkan kesabaran dan perhatian. Teknologi tidak harus dilarang sepenuhnya, tetapi perlu diarahkan agar digunakan secara bijak. Dengan pendampingan dan penanaman nilai-nilai Islam, anak diharapkan mampu memanfaatkan teknologi tanpa melupakan ibadah, tanggung jawab, dan akhlak. [Mahessa]























