Pengalaman hidup dapat menjadi titik awal bagi seseorang untuk memperbaiki diri. Hal ini diceritakan Budhi Sarwono, mantan Bupati Banjarnegara, yang mengaku mengalami mati suri setelah overdosis narkoba. Peristiwa tersebut menjadi bagian dari perjalanan spiritualnya hingga memutuskan memeluk Islam.
Sebelum dikenal sebagai kepala daerah, Budhi mengaku pernah terlibat dalam peredaran narkoba jenis ekstasi. Dalam wawancara di Hotman Paris Show yang ditayangkan pada Oktober 2019, sebelum memutuskan memeluk Islam, Budhi Sarwono mengaku pernah menjalani kehidupan yang jauh dari nilai-nilai agama. Mantan Bupati Banjarnegara itu menceritakan bahwa dirinya pernah terlibat dalam bisnis narkoba jenis ekstasi pada 1993 hingga 1998. Ia bahkan mengonsumsi barang terlarang tersebut hingga mengalami overdosis.
Dalam wawancara di program Hotman Paris Show, Budhi Sarwono mengaku pernah terlibat dalam bisnis ekstasi pada 1993 hingga 1998. “Iya dulu pak, dulu saya pernah jadi Kapolpil pak, Kepala Pengepul Pil, saya pedagang ekstasi dulu, saya bermain dari 93-98,” ungkap Budhi.
Budhi mengungkapkan masa lalunya ketika berbincang dengan Hotman Paris. Ia mengaku pernah menjadi bandar ekstasi sekaligus menjalani kehidupan yang berisiko akibat narkoba. Kebiasaan tersebut akhirnya membawanya pada kondisi kritis yang menurut pengakuannya menjadi titik balik dalam hidupnya.
Budhi menceritakan setelah mengalami overdosis, dokter menyatakan dirinya meninggal dan ia dibawa ke kamar jenazah. Namun, menurut kesaksiannya, ia kemudian kembali sadar setelah mengalami peristiwa yang disebutnya sebagai mati suri.
“Dulu dinyatakan sama dokter saya sudah dinyatakan mati, karena sudah ada di kamar mayat pada waktu itu. Alhamdulillah saya bangun lagi,” katanya.
Pengalaman tersebut membuat Budhi merenungkan kehidupan yang selama ini dijalaninya. Ia mengaku mengalami kejadian menakutkan dan mendapat dorongan untuk membaca istighfar. Peristiwa itu kemudian menjadi bagian penting dari kisah pertobatannya hingga memutuskan memeluk Islam pada tahun 1998.
Setelah peristiwa tersebut, Budhi mengaku meninggalkan kehidupan lamanya dan memutuskan memeluk Islam pada 1998. “Saya mualaf dari 98, saya tobat, saya mulai belajar agama, dulu saya Katolik,” tuturnya.
Budhi mengakui masa lalunya ketika Hotman Paris menanyakan kehidupannya sebelum menjadi bupati. Ia juga menceritakan keputusan meninggalkan dunia narkoba dan memeluk Islam pada 1998.
Keputusan Budhi untuk mengubah hidupnya berkaitan dengan pengalaman yang ia ceritakan sebagai mati suri. Menurut pengakuannya, ia mengalami overdosis akibat mengonsumsi narkoba hingga dinyatakan meninggal oleh dokter dan dibawa ke kamar jenazah.
Budhi mengaku pengalaman tersebut menjadi titik balik dalam hidupnya. Setelah kembali sadar, ia memutuskan meninggalkan narkoba dan memperbaiki kehidupannya. Ia mengungkapkan, “Saya tenang. Ekstasi saya buang semua. Hasil kekayaan saya dari ekstasi saya bagikan semua.” ucapnya.
Budhi mengaku mengalami kejadian menakutkan. Ia merasa disiksa oleh sejumlah sosok berpakaian putih. Di tengah pengalaman itu, ia bertemu seorang anak kecil yang memintanya membaca istighfar.
Dalam wawancara di Hotman Paris Show, “Mimpi saya digebukin sama orang-orang pakai baju putih. Terus ada anak kecil suruh istighfar, saya enggak tahu apa itu istighfar,” tegasnya.
Budhi mengaku awalnya tidak memahami arti istighfar. Namun, ia kemudian mengikuti arahan tersebut dan memohon ampun kepada Tuhan. Setelah kejadian itu, ia kembali sadar dan mendapat pertolongan dari tenaga medis.
Kisah tersebut menjadi kesaksian pribadi, pengalaman yang ia sebut sebagai mati suri tidak dapat dijadikan bukti medis mengenai kehidupan setelah kematian. Namun, dalam ceritanya, peristiwa itu memiliki arti penting bagi perubahan hidupnya.
Setelah kejadian tersebut, Budhi mengaku meninggalkan kehidupan lamanya dan mulai mempelajari Islam. Ia menyatakan telah bertobat dan memeluk Islam pada tahun 1998. Keputusan itu menjadi awal perjalanan baru yang ia ceritakan kepada publik.
Dalam Islam, pertobatan tidak hanya berarti menyesali kesalahan. Seseorang juga perlu berhenti melakukan perbuatan buruk, memohon ampun kepada Allah SWT, dan berusaha memperbaiki perilakunya. Allah SWT berfirman dalam Surat Az-Zumar ayat 53 agar manusia tidak berputus asa dari rahmat-Nya. Ayat ini mengingatkan bahwa setiap orang memiliki kesempatan untuk memohon ampun dan memperbaiki diri.
Kisah Budhi Sarwono memberikan pelajaran tentang pentingnya introspeksi. Pengalaman hidup yang sulit dapat mendorong seseorang mengevaluasi pilihan dan perbuatannya. Meski demikian, perubahan membutuhkan kesungguhan dan konsistensi, bukan hanya penyesalan sesaat.
Perjalanan menuju hidayah juga tidak berhenti ketika seseorang memutuskan memeluk agama Islam. Ia perlu terus belajar, memperkuat keimanan, dan menerapkan ajaran agama dalam kehidupan sehari-hari.
Pada akhirnya, kisah ini menjadi pengingat bahwa masa lalu tidak harus menjadi penghalang untuk memperbaiki diri. Setiap manusia memiliki kesempatan untuk meninggalkan keburukan dan berusaha menjalani kehidupan yang lebih dekat dengan tuntunan Allah SWT. [Mahessa]
























