London, Gontornews — Serangan udara yang menargetkan distrik Ghouta Timur di luar ibukota Suriah, Damaskus, menewaskan setidaknya 23 orang. Pasukan pemerintah Suriah terus meningkatkan tekanan militer terhadap daerah yang dikuasai pemberontak (oposisi).
“Jumlah korban bisa bertambah karena banyak korban luka serius,” kata Rami Abdel Rahman, direktur Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia yang berbasis di Inggris.
“Sedikitnya empat anak termasuk di antara korban tewas,” paparnya seperti dikutip Aljazeera.
Pusat Media Ghouta juga melaporkan bahwa 23 warga sipil telah terbunuh.
Rami Abdel Rahman mengatakan, serangan terhadap Ghouta Timur selama dua pekan terakhir telah menewaskan lebih dari 100 orang.
Ghouta Timur diserang meski terdaftar sebagai “zona de-eskalasi”, di mana aktivitas militer dilarang berdasarkan sebuah kesepakatan yang disahkan oleh Turki, Rusia, dan Iran.
Sementara itu, Guney Yildiz, dari Dewan Hubungan Luar Negeri Eropa, mengatakan kepada Aljazeera pasukan Suriah meningkatkan serangan terhadap pejuang oposisi sebelum perundingan baru di Jenewa dimulai pada hari Selasa.
“Saya pikir tujuan utamanya adalah membuat pemberontak merasa lebih lemah menjelang perundingan PBB pekan depan,” kata Guney.
Ghouta Timur, dengan populasi sekitar 300.000 jiwa, merupakan target yang signifikan karena letaknya yang sangat dekat dengan Damaskus. [Rusdiono Mukri]

















