Tripoli, Gontornews — Warga Tripoli, Libya telah mengubur mayat membusuk yang terdampar di pantai. Mereka adalah bagian dari 21 pengungsi/migran yang tewas di laut setelah pihak berwenang gagal bertindak. Demikian kata sebuah LSM dan petugas medis, Senin (8/8).
Mayat pertama terlihat di Pantai Al-Maya, sebelah barat ibukota Tripoli, pada tanggal 2 Agustus, kata sebuah LSM di distrik Wersheffana, tempat Al-Maya berada.
Ia mengatakan dalam sebuah pernyataan, selama tiga hari banyak mayat terdampar di pantai, sehingga total menjadi 21 mayat. Semuanya membusuk. “Warga ketakutan, ini bisa memicu penyakit dan wabah,” katanya.
Bulan Sabit Merah Libya di Janzur, pinggiran Tripoli, telah diberitahu tentang situasi itu dan kemudian mengirim stafnya ke Al-Maya, kata Ketua Bulan Sabit Merah Libya, Hussam Nasr.
“Kami pergi ke sana untuk mengambil jasad dan sampel DNA,” kata Nasr dikutip arabnews.com, Rabu (10/8).
“Kami juga mencoba untuk menghubungi pihak berwenang untuk meminta izin menguburkan mayat-mayat yang terdampar di pantai selama tiga hari,” katanya.
Prihatin dengan “bahaya bagi kesehatan” akibat jasad yang membusuk, warga memutuskan untuk tidak menunggu izin resmi dan mengambil tanggung jawab masalah itu ke pundak mereka sendiri, katanya.
Pada hari Sabtu (6/8) mereka mengubur mayat-mayat tak dikenal itu di sebuah pemakaman di Al-Maya, pekuburan untuk umat Muslim.
Para pedagang dan penyelundup manusia telah mengambil keuntungan dari kekacauan yang mencengkeram Libya sejak 2011, yang menggulingkan dan menewaskan Muammar Qaddafi, demi mengeruk keuntungan bisnisnya.
Mereka menjejalkan para pengungsi ke perahu-perahu kecil yang tidak aman untuk menempuh perjalanan berbahaya ke Italia, yang hanya berjarak 300 km dari pantai Libya.
Setiap tahun ribuan migran mencoba menyeberangi laut demi menyelamatkan diri dan memperbaiki nasibnya, namun banyak yang tenggelam dan tewas.
Sebanyak 4.027 migran dan pengungsi telah tewas sejak Januari. Mereka mencoba melarikan diri dari perang dan kemiskinan, mencari kehidupan yang lebih baik terutama di Eropa, kata Organisasi Internasional untuk Migrasi, Selasa (9/8).
Dari jumlah itu, 3.120 tewas saat mencoba menyeberangi Laut Mediterania, termasuk 120 yang tenggelam dan terdampar di pesisir Kota Sabratha, Libya, akhir Juli lalu, katanya. [Rusdiono Mukri]





















