Marseille, Gontornews — Sebuah pusat wahana air di Kota Marseille, Prancis, merencanakan ada satu hari khusus untuk kunjungan wanita Muslim yang mengenakan burkini, yaitu sejenis pakaian renang yang menutupi seluruh tubuh perempuan. Namun gagasan ini memicu kemarahan di negara itu.
Hari yang disebut “Pool Day” itu rencananya akan diadakan pada 10 September oleh wahana Speedwater Park di Les Pennes Mirabeau. Namun Florian Philippot, penasihat tinggi pemimpin sayap kanan Marine Le Pen, mengkritik rencana itu.
Acara ini merupakan gagasan Smile 13, sebuah asosiasi perempuan di kota pelabuhan yang populasinya hampir dua juta, termasuk sekitar 220.000 Muslim berasal dari Aljazair.
“Acara semacam ini harus dilarang karena berisiko kekacauan publik,” ujarnya seperti dikutip Alaraby.
Senator Michel Amiel yang juga walikota Les Pennes Mirabeau ikut mengkritik rencana tersebut.
“Saya terkejut dan marah. Saya melihat acara ini sebagai provokasi yang tidak kita perlukan dalam iklim saat ini,” katanya.
Sedangkan Valerie Boyer dari partai sayap kanan Partai Republik mengaku kecewa ada acara semacam ini. Menurutnya, acara seperti ini adalah cara ekspresi kalangan yang terlihat ingin menandai wilayah mereka.
“Itu adalah cara Islamisasi, mengenakan seragam dan melakukan kontrol sosial yang nyata.” ujarnya.
Seperti diketahui, pakaian Muslim menjadi salah satu isu yang panas di Prancis. Sejak lama negara ini melarang perempuan Muslimah menggunakan cadar penutup wajah di tempat-tempat umum. Munculnya burkini sebagai salah satu fashion jilbab di Prancis juga sempat menjadi polemik karena dianggap sebagai bentuk pengekangan hak-hak perempuan.
Data Kementerian Dalam Negeri Prancis memperkirakan ada 4,1 juta orang yang dilahirkan dalam keluarga Islam, dan sekitar 40.000 orang yang beralih agama. Ada juga yang memperkirakan jumlah Muslim di Prancis sekitar 7 juta jiwa pada tahun 2009, yang jumlah ini terus bertambah sampai saat ini. [Ahmad Muhajir/Rus]





















