Suasan ramai dan berisik mulai menghampiri malam itu di Pesantren Baitussalam Yogyakarta. Puluhan santri berburu ke dapur tempat untuk mengambil jatah makan malam. Ada yang membawa piring di tangan kanan dan gelas di tangan kirinya.
Perjuangan untuk makan pun dimulai. Santri yang datang pertama kali mengambil jatah nasi yang pertama dan juga jatah lauk-pauk yang pertama. Alhamdulillah lauk malam ini bisa dikatakan istimewa karena berbeda dari biasanya. Ayam adalah makanann yang ditunggu-tunggu para santri setiap minggunya. Makanan yang dianggap biasa namun sangat luar biasa bila disajikan dihadapan para santri.
Mereka nampak asyik dan senang dengan suasan mengantri, tidak ada yang ramai atau bertengkar gara-gara ingin mendapatkan jatah nasi atau ayam. Walupaun ada saja satu dua orang yang memaksa berjubel dan masuk barisan didepannya, namun tidak sampai menimbulkan keributan hanya ada suara . “Weeeee tobuuurrrrr…..” pun menggema.
Hal ini sungguh berbeda jauh dengan situasi dan kondisi mereka yang belajar di luar pesantren. Tidak hanya mereka yang masih duduk di bangku sekolah, bahkan di kalangan orang dewasa budaya mengantri sudah cukup mengkhawatirkan. Di Indonesia sudah banyak kisah dan berita mengenai korban tewasn akibat mengantri jatah Raskin atau bantuan dana dari pemerintah. mereka rela mengjatuhkan bahkan mendorong orang yang lebih lemah agar terjatuh dan dia bisa segera mendapatkan jatahnya.
Kenikmatan yang hanya dirasakan sekejap namun berujung pada kematian karena terlindas oleh orang banyak, dan juga karena kehabisan oksigen sehingga mereka susah untuk bernafas dan meninggal. Kita ibaratkan seperti Ayam yang menjadi barang incaran semua santri, siapa pun itu. Mereka akan segera memburu hidangan yang sangat nikmat ini, namun mereka berusah dengan sabar dantwakal pada Allah agar mendapatkan jatah Ayam, walaupun sering kali tidak sesuai dengan harapan tapi karena kesabaran dan mereka menganti tertib. Maka, mereka mendapatkan daging ayam tersebut.
Bila kita nantinya akan mendapatkan jatah bantuan dana, raskin, bantuan pakaian dan alin-lainya, cukup dengan mengantri dengan tertib, taat dengan peraturan yang sudah ditentukakn dan bersabar pada Allah. Kalai nanti pada akhirnya kita tidak mendapatkanya karena sesuatu hal, maka jangan marah kepada pihak manapun, hanya berserah diri pada Allah dan berdoa padanya semoga Allah memberikan Rezeqi yang lain dari arah yang tidak-disangka-sangka
Maka, tertib mengantri adalah simbol dari pada umat muslim yang taat akan nilai-nilai peraturan dan tatanan dalam berinteraksi dengan manusia untuk mendapatkan sesuatu yang berharga. walau hanya mendapat sedikit ataupun banyak, yang perlu kita lakukan adalah bersyukur dan berusaha berdoa lebih keras lagi. Cukup dengan berikhtiar dengan mengantri untuk mendapatkan ridho Allah. Maka, Allalh yang akan memenuhi kebutuhan kita..
[Idham Oka, Guru Pesantren Baitussalam Yogyakarta]




















