Sampai saat ini, Gontor masih terus eksis bahkan berkembang melebihi target yang direncanakan. Ibarat langit, maka pintu langit telah terbuka lebar untuk kejayaan Gontor. Perkembangan tersebut tidak bisa lepas dari banyak unsur yang saling mendukung.
Mminimal ada enam kekuatan yang menjadikan Gontor masih tetap eksis sampai sekarang. Pertama, Gontor berkembang sampai saat ini karena anugerah dari Allah semata. Dengan bekal keyakinan, keikhlasan dan kesungguhan dalam menjalankan amanah umat ini, Allah memberikan pertanda yang baik. Apa yang dicanangkan oleh Gontor terus berkembang dan selalu mendapatkan respon positif masyarakat. Kepercayaan masyarakat luas menjadikan motivasi yang tinggi bahwa para kadernya harus lebih banyak berbuat, bekerja, berkorban dan berdo’a, agar Allah selalu menjaga dan melindungi Pondok ini.
Mengapa kita yakin bahwa Allah terus akan menolong pondok ini? Karena kita juga menyakini bahwa menolong agama Allah, berbuat untuk kebaikan umat ini, dan terus berjuang karena Allah,Maka Allah pasti akan menolong. Allah telah menegaskan: Wahai orang-orang yang beriman, jikalau kalian menolong agama Allah, maka Allah pasti akan menolong kamu dan menguatkan kedudukan kamu. (QS Muhammad: 7)
Kedua, adanya jiwa dan filsafat hidup Gontor. Yaitu panca jiwa yang menjadi landasan hidup pondok, yaitu keikhlasan, kesederhanaan, berdikari, ukhuwah Islamiyah dan kebebasan. Sementara falsafah hidup adalah seluruh falsafah yang menjadi motivasi, menerangi kehidupan, sehingga pondok ini memiliki arah tujuan yang jelas. Falsafah ini begitu banyak mewarnai kehidupan pondok ini, seperti falsafah “hidupilah pondok, jangan bergantung pada pondok. Hidup sekali hiduplah yang berarti, berani hidup tak takut mati, takut mati jangan hidup, takut hidup mati saja, Pondok adalah lapangan perjuangan bukan lapangan kehidupan.
Ketiga, ajaran Gontor yang mengisi dan mewarnai dan menjiwai kehidupan santri, baik itu berupa sunnah-sunnah yang berlaku, pelajaran yang mengandung nilai-nilai perjuangan baik itu di dalam al-Qur’an, hadis, tafsir, mahfudhat, atau di setiap pelajaran yang terjiwai oleh nilai-nilai kehidupan. Begitu juga  kata-kata mutiara, moto hidup yang tertempel di mana-mana, suara-suara yang diperdengarkan oleh santri yang mewarnai pola fikir, sikap dan prilaku santri, sehingga mereka mampu menjadi santri yang dinamis, memiliki cita-cita atau idealisme. Maka totalitas kehidupan santri yang selalu terjiwai nilai-nilai perjuangan itulah yang dimaksud dengan ajaran. Di balik seluruh pelajaran ada ajaran.
Keempat,  kekuatan sistem, yaitu kumpulan dari sistem-sistem yang menata kehidupan santri sehingga mereka hidup tertib dan teratur. Di dalam pondok ini terdapat banyak sistem yang saling berkaitan dan mempengaruhi satu dengan yang lain. seperti sistem kepemimpinan, kepengasuhan,  pengajaran, kaderisasi, dan sistem kemandirian, yang kesemuanya telah menjadi bagian dinamika kehidupan pondok ini.
Sebagai misal,sistem kemandirian yang diterapkan di pondok ini telah membuahkan hasil yang dahsyat, tidak saja kemandirian dalam pendanaan, tetapi juga kemandirian jiwa dan fikirannya. Sekian banyak unit-unit usaha didirikan, tidak saja untuk mengumpulkan dana, tetapi merupakan wadah untuk mendidik santri agar memiliki pengalaman dan keterampilan hidup. Di samping mereka juga terdidik untuk menjadi manusia-manusia yang siap untuk berkorban dan bertanggungjawab untuk umatnya. Sistem kaderisasi pun telah dan terus berjalan baik, dengan berbagai pola dan pendekatan yang terus dikembangkan. Penerapansistem kaderisasi  melahirkan berbagai  sistem, seperti sistem asrama dengan pola kepemimpinannya, sistem organisasi pelajar dengan pola pendelegasian wewenangnya. Jadi seluruh tata kehidupan yang telah diatur sedemikian rupa dengan penuh disiplin inilah yang dimaksud dengan kekuatan sistem tersebut. Maka, di setiap sudut kehidupan pondok terdapat sistem yang sengaja dibentuk dan diolah untuk pendidikan.
Kelima, kekuatan kegiatan. Inilah yang menjadikan santri dinamis, aktif dan energik. Aneka kegiatan memberikan peluang kepada santri untuk menggerakkan seluruh potensi yang dimiliki. Sekian banyak kemampuan santri yang harus disalurkan agar santri bisa kerasan dan nyaman, memiliki dan membuat kebanggaan. Di samping itu, dengan kegiatan yang banyak, membuat santri memiliki etos kerja tinggi, dan dari etos kerja lahir militansi.
Keenam, kekuatan disiplin. Yakni kekuatan yang menata dan mengatur kehidupan santri, sehingga mereka hidup dengan tertib dan teratur. Disiplin, tidak saja mengajarkan hidup dengan tertib secara fisik, tetapi juga, mengatur orang agar memiliki pola fikir yang tertib dan pola rasa yang baik dan benar. Maka disiplin di Gontor memiliki aspek universal dan integral. Di Gontor, tidak ada satu kegiatanpun yang tidak ditata dan diatur dengan baik. Sebagai contoh, santri berdisiplin memakai baju/ Sesungguhnya tidak saja ia membuat santri rapi, indah dan menarik, tetapi memakai baju rapi berarti juga menghormati diri sendiri dan orang lain, bahkan menghormati Allah. Berbaju rapi adalah simbol seorang pemimpin yang baik. Jadi, aspek disiplin di Gontor berdampak menyeluruh, baik pola fikir, sikap dan perilaku, bahkan sampai kepada aspek feeling atau perasaan.
Contoh lain, mengapa menyontek di waktu ujian menjadi kesalahan besar bagi pondok. Karena menyontek tidak saja membohongi orang lain, tetapi sesungguhnya dia telah membohongi dan mencurangi dirinya sendiri. Dia telah menghinakan dirinya karena kebohongan tersebut. Apalagi di hadapan Allah, itu perbuatan hina dan menjadi dosa. Itu sebabnya mengapa perbuatan ini sangat diperangi pondok. Di luar itu,  masih banyak lagi filosofi dari seluruh disiplin yang diterapkan di pondok sebagai upaya membentuk mental dan karakter calon pemimpin.





















