Produk Halal kini menjadi perhatian dunia. Salah satunya adalah halal food yang semakin fenomenal belakangan ini. Bahkan negara non-Muslim mulai melirik industri halal demi menyambut tamu-tamu Muslim yang berwisata ke negara tujuan yang datang dari berbagai penjuru dunia.
Pejabat Penghubung Investasi Indonesia-Malaysia Eko Putro Sandjojo pun mengakui bahwa dunia saat ini sudah mengarah ke produk halal. Bukan saja produknya yang disertifikasi halal. “Semua komponennya disertifikasi halal,” jelasnya seperti dilansir Bisnis.com.
Salah satu negara yang ramah terhadap Muslim adalah Jepang. Meski Islam bukan mayoritas di sana, Negeri Sakura ini menyiapkan sejumlah fasilitas dan imbauan untuk turis Muslim.
Manager Japan National Tourism Organization, Kristiana Susanti, menjelaskan, pemerintah Jepang telah memperbanyak destinasi ramah Muslim.
“Ada penambahan fasilitas-fasilitas untuk Muslim di Bandara Narita dan hotel dianjurkan menambahkan arah kiblat,” jelasnya seperti dilansir detik travel.
Selain itu, Jepang sudah menyiapkan restoran berlabel halal. “Jadi, untuk traveler Muslim Jepang sekarang sangat friendly dan cukup banyak berkembang di berbagai tempat di Jepang,” imbuhnya.
Tokyo yang tengah bersiap untuk menjadi tuan rumah Olimpiade pada 2020 nanti tengah mendorong bisnis makanan halal.
Seperti dilansir Food Navigator-Asia (21/3/2018), Distrik Taito di Tokyo memberikan subsidi kepada perusahaan makanan yang ingin menyediakan makanan halal. Di mana perusahaan makanan halal akan mendapatkan penggantian sebesar 50 persen dari sertifikasi.
Dr Mohammed Al-Issa, Sekretaris Jenderal Liga Muslim Dunia (MWL), mengatakan orang-orang Jepang memiliki tingkat koeksistensi yang tinggi, integrasi dan harmoni nasional yang merasuk ke semua agama, sekte, dan ras, jauh dari ekstremisme.
“Nilai dan etika sangat ditanamkan masyarakat Jepang,” ungkapnya seperti dilansir Asharq Al-Awsat.
Atlet Muslim yang berpartisipasi dalam Olimpiade 2020 di Tokyo nanti pun tak perlu cemas untuk mencari makanan halal. Sebab, ada kerjasama penting antara MWL dan Jepang untuk mengatur makanan halal ketika gelaran olimpiade di Jepang nanti.
Peneliti makanan di Japan Halal Foundation (JHF) Faslin Lafir mengatakan, istilah halal memang sangat baru bagi industri makanan di negeri Sakura itu. Selain itu, hanya sedikit konsumen di Jepang yang mencari makanan halal. Meski begitu, kata dia, ada kesadaran bertahap ketika industri makanan mempelajari Islam.
Secara industri, kata dia, perusahaan sedikit bingung tentang siapa yang mendapatkan sertifikasi. “Yang menjadi masalah, setiap tahun ada lebih banyak turis Muslim, terutama dari Malaysia dan Indonesia,” ujar Lafir.
Menurut Japan National Tourism Organization, pada 2016, lebih dari 394 ribu turis dari Malaysia. Jumlah itu meningkat tajam dari sebelumnya yang hanya sekitar 89 ribu pada 2009.
Sedangkan wisatawan dari Indonesia meningkat dari 63 ribu menjadi 271 ribu pada periode yang sama. [Muhammad Khaerul Muttaqien]


















