Setelah lulus Pondok Modern Gontor, Fathurreza (24) melanjutkan studinya di salah satu universitas di Kota Yogyakarta. Selain itu, warga asli Kota Gudeg, ini juga mencoba berbisnis. Ia antara lain bisnis ojek sekolah. Namun bisnis yang dilakoninya tidak berjalan mulus.
Akhirnya setelah pembelajaran melalui pengalaman panjang, ia memutuskan untuk meneruskan bisnis keluarga yang sudah dibangun ibunya, yaitu pelatihan dan penyaluran tenaga kerja dalam negeri yang bernama PT Esma Aliya Utama.
Perusahaan keluarga ini bergerak di bidang jasa, perekrutan, pelatihan dan penyaluran tenaga kerja seperti baby sitter, pembantu rumah tangga, perawat lansia, perawat jompo, sopir, dan pramuniaga.
“PT Esma Aliya mempunyai target dua segmen. Pertama, majikan yang membutuhkan tenaga kerja, seperti suami-istri yang sibuk bekerja. Kedua, orang-orang yang membutuhkan pekerjaan,” ujar Fathur.
Menurutnya, salah satu visi dan misi perusahaan ini adalah membantu pemerintah mengentaskan kemiskinan, pengangguran, dan ketidaksinkronan antara pemilik pekerjaan atau pengguna jasa dengan tenaga kerja. Misalnya, majikan kebanyakan langsung pergi ke desa-desa untuk mencari pekerja yang belum punya kompetensi.
Perusahaan keluarga ini melatih para pencari kerja sesuai dengan kompetensinya sebelum disalurkan ke perusahaan atau rumah tangga seperti pembantu rumah tangga dan baby sitter.
Tujuannya antara lain untuk meningkatkan kepercayaan majikan kepada para pekerja. “Dengan membuktikan bahwa pekerja yang disalurkan sudah dilatih dengan baik dan sudah mengetahui bidang kerjanya,” papar Fathur.
Juga untuk memfasilitasi tenaga kerja agar hak dan kewajibanya terpenuhi, seperti jam kerja dan gaji yang telah disepakati sesuai perjanjian awal.
Perusahaan ini berkantor pusat di Jalan Perumnas No 139 RT 02 RW 01 Seturan CTXX Depok, Sleman, Yogyakarta. Sedangkan cabang kantor perekrutan pekerja ada di Gunung Kidul dan Kulon Progo.
Dalam sehari, perusahaan ini bisa menyalurkan 1 – 5 pekerja yang sudah terlatih. Menjelang liburan Idul Fitri, permintaan tenaga kerja meningkat menjadi 10 – 15 pekerja sehari yang disalurkan ke hampir seluruh pelosok Indonesia. [Yuzaq Ardian/Al Hafidh]

















