Depok, Gontornews — Konsentrasi dalam belajar sangatlah penting. Jika anak terus-menerus mengalami gangguan konsentrasi, maka orangtua harus waspada. Pelajari apa saja faktor penyebabnya dan segera cari solusinya.
Seorang anak yang mengalami gangguan konsentrasi biasanya kerap ceroboh dalam mengerjakan tugas, gagal mempertahankan konsentrasi pada tugas, gagal mengikuti instruksi atau tugas tidak selesai, atau mudah lupa.
Selain itu, anak dengan gangguan konsentrasi juga kerap kesulitan mengelola tugas dan kegiatan pribadi, mudah terganggu, juga terlihat seolah tidak mendengar saat diajak bicara. Jika enam saja dari ciri tersebut terdeteksi pada anak, maka ia sudah memenuhi kriteria mengalami gangguan konsentrasi.
“Pada beberapa anak, gangguan konsentrasi biasanya diikuti oleh hiperaktivitas dan impulsivitas,” jelas Ir Akhir Winardi, SPsi, MPsi, founder Bina Kreatif Smart Parent Institute. Konsultan 305 sekolah ini pun menerangkan bahwa biasanya diagnosis baru diberikan saat anak berusia sekolah. Karena dampak gangguan ini tampak dalam kegiatan belajar anak.
Tips menangani gangguan konsentrasi pada anak:
- Mencari tahu penyebab kesulitan anak berkonsentrasi. Misal saat anak diberi tugas, jika perhatiannya mudah terbagi saat melihat teman sampingnya asyik bermain, maka bisa jadi anak tersebut kurang sosialisasi. Solusinya berikan kesempatan yang lebih banyak untuk anak bermain dan bersosialisasi dengan sebayanya.
- Mencari strategi yang sesuai. Orangtua bisa menggunakan target waktu dan pemberian hadiah jika anak telah menyelesaikan tugas dengan baik. Hal ini untuk memacu semangatnya berkonsentrasi.
- Menstimulasi daya konsentrasi anak dengan berbagai pelatihan. Latihlah anak berkonsentrasi dengan memberinya batas waktu misalnya, pertama 20 menit, lalu 30 menit, dan seterusnya. <Edithya Miranti>




















