Islamabad, Gontornews – Perdana Menteri Pakistan, Imran Khan didampingi Menteri Luar Negeri Shah Mahmood Qureshi dan Menteri Keuangan Asad Umar berencana untuk mengadakan kunjungan bilateral dengan pemerintah Arab Saudi. Pakistan berharap mendapatkan alternatif bantuan dana setelah lembaga moneter dunia, International Moneter Fund (IMF) tak kunjung menyetujui ‘proposal’ pencairan dana.
Reuters sendiri memperkirakan, Pakistan akan menggandeng sejumlah negara seperti Arab Saudi, ataupun Tiongkok sebagai alternatif jika IMF benar-benar tidak menyetujui permintaan Pakistan. Selain IMF, Saudi Arabia dan Tiongkok merupakan mitra ekonomi Pakistan di masa lalu.
“Perdana Menteri akan mengadakan pertemuan bilateral dengan Raja Salman,” kata Menlu Pakistan, Shah Mehmood Qureshi sebagaimana dilansir Reuters.
Sebagaimana diketahui, pertemuan bilateral dengan Arab Saudi merupakan kunjungan luar negeri pertama yang dilakukan Imran Khan sejak dirinya terpilih sebagai Perdana Menteri Pakistan yang baru.
Sebagai catatan, pada tahun 2014 Arab Saudi pernah membantu Pakistan sebesar 1,5 miliar dolar Amerika Serikat atau sekitar 22,3 triliun rupiah (kurs 1 dolar AS = Rp 14.870,-) yang dipergunakan untuk memperkuat mata uang Rupee Pakistan.
Saat ini, Pakistan dilanda krisis ekonomi karena tercatat mengalami defisit anggaran sebesar 43% atau 18 miliar dolar AS atau sekitar 267 triliun rupiah terhitung sejak 30 Juni 2018. Sementara di sektar fiskal, Pakistan juga mengalami defisit sebanyak 6%.
Untuk menanggulangi masalah ekonominya, PM Imran Khan meminta kepada jajaran pemerintahan untuk melakukan penghematan, membasmi korupsi dan mengurangi kemiskinan serta menjanjikan reformasi tentang kesejahteraan sosial bagi seluruh warga Pakistan.
Pakistan lantas mengeluarkan kebijakan untuk menaikkan pajak penghasilan serta meningkatkan biaya impor tinggi bagi produk mewah demi meningkatkan pendapatan negara sebesar 183 miliar rupee atau sekitar 22,1 triliun rupiah. [Mohamad Deny Irawan]




















