Washington, Gontornews — Bagi para orangtua, keinginan melihat putra/putrinya beprestasi adalah sebuah kebanggaan tersendiri. Terlebih, jika putra/putrinya meraih peringkat 1 di sekolah, sudah barang tentu, kebahagiaan dan kebanggaan mereka bertambah.
Tapi jangan bangga dulu karena saat ini persepsi itu sedikit demi sedikit mulai tergerus persaingan zaman. Sebuah penelitian yang diterbitkan oleh Association of Pshycological Science menemukan bahwa tidak semua peserta yang beprestasi di kelas mendapatkan hasil serupa di kehidupan nyata.
“Di balik kemampuan siswa di dalam maupun di luar kelas serta latar belakang keluarga mereka, ternyata sekolah memberi manfaat dan juga risiko nyata bagi para siswa khususnya prestasi mereka di dunia nyata dalam beberapa tahun sejak mereka lulus,” ungkap pemimpin peniliti Richard Gollner dari Universitas Tubingen, Jerman.
“Secara khusus, sekolah berlatar belakang sosial ekonomi yang rata-rata justru memberi manfaat bagi siswa di kemudian hari. Sedangkan mereka yang berada di sekolah dengan tingkat prestasi di atas rata-rata siswa lain justru merugikan siswa,” kata Gollner sebagaimana dilansir Science Daily.
Dalam penelitian ini, Gollner dan tim memeriksa data proyek TALENT yaitu sebuah studi jangka panjang tingkat nasional yang diikuti siswa sekolah menengah di Amerika dalam kurun waktu 50 tahun mendatang. Di antara alat ukur yang digunakan pada penelitian ini adalah kompetensi akademik latar belakang keluarga serta manfaat kehidupan yang dijalaninya.
Mereka menganalisis 377.015 peserta yang berasal dari 1.226 sekolah menengah atas, kinerja mereka pada tes pencapaian dasar, latar belakang sosio-ekonomi mereka serta harapan pendidikan mereka. Selain itu, penelitan tersebut juga memeriksa pencapaian hasil pendidikan, penghasilan serta status profesional mereka dalam 50 tahun mendatang.
Hasilnya cukup mengejutkan karena mereka yang memiliki prestasi menonjol di sekolah justru memiliki status sosial yang tidak sesuai harapan.
“Kompetisi untuk berprestasi tinggi di sekolah rupanya membahayakan para siwa untuk percaya dengan kemampuan sendiri serta memiliki konsekuensi serius terhadap karir mereka di kemudian hari,” jelas Gollner.
Gollner pun berharap bahwa para siswa tetap mempercayai kemampuan sendiri tanpa menghiraukan prestasi tinggi yang dimiliki rekan-rekan sekolahnya.
“Kami ingin mencari tahu apa yang dapat dilakukan guru untuk memastikan bahwa keyakinan positif yang dimiliki oleh seorang murid tidak terganggu atau tidak dirugikan oleh rekan-rekannya yang mengejar beprestasi tinggi,” pungkas Gollner. [Mohamad Deny Irawan]



















