Kuala Lumpur, Gontornews — Perdana Menteri Malaysia, Mahathir Mohamad, menyebutkan keterlibatan sebuah bank asal Amerika Serikat, Goldman Sachs, dalam skandal 1Malaysia Development Berhad (1MDB) sebagai sebuah langkah penting dan juga agresif untuk menutup biaya yang diterima oleh bank.
Pemerintah Amerika Serikat melalui bank investasinya telah melakukan pengawasan secara khusus kepada Goldman Sachs sejak diduga terlibat dalam upaya pengumpulan dana 1MDB melalui skema penawaran obligasi. Selain Amerika Serikat, ‘penyelewengan dana’ 1MDB disebut-sebut juga melibatkan sejumlah negara seperti Singapura dan Swiss.
Sebelumnya, Departemen Kehakiman (Departemen of Justice/DoJ) Amerika Serikat mengungkapkan adanya penyelewengan dana pemerintah Malaysia sebesar 4,5 miliar dolar AS atau sekitar 66,7 rriliun Rupiah akibat skandal 1MDB. Sejumlah tokoh seperti mantan Perdana Menteri Malaysia Najib Razak sekaligus istrinya, Rosmah Mansour, dan pengusaha Low Taek Jho (Jho Low) dan anak tiri Najib, Riza Aziz, terlibat skandal yang menggegerkan Malaysia tersebut.
“Ada bukti bahwa Goldman Sachs telah melakukan hal-hal yang salah,” ungkap Mahathir kepada CNBC yang dikutip Reuters.
“Sudah jelas, bahwa kami ditiup oleh orang-orang di Goldman Sachs,” tambah pria berusia 93 tahun tersebut.
Akibat keterlibatan skandal 1MBD, saham Goldman Sachs jatuh dan berada di posisi terendah sejak dua tahun terakhir. Menteri Keuangan Malaysia, Lim Guang Eng memastikan bahwa pemerintah Malaysia akan segera melunasi dana pinjaman tersebut karena Goldman Sachs telah terbukti melakukan kesalahan.
“Pemerintah Malaysia menginginkan semua biaya yang telah dibayarkan kembali termasuk semua kerugian yang terjadi akibat perbedaan suku bunga acuan,” ungkap Lim.
Sebagaimana diketahui, Goldman membeli obligasi dengan biaya yang cukup besar tanpa mendapatkan ikatan untuk mencari investor. Dari kesepakatan obligasi ini, Malaysia, yang kala itu dipimpin oleh PM Najib Razak, mendapatkan 2,7 miliar dolar atau sekitar 10 triliun rupiah untuk mempercepat pembangunan proyek 1MDB.
Akibat skandal itu, PM Najib Razak kehilangan jabatannya dalam pemilihan presiden Mei 2018 silam setelah pesaing sekaligus guru politik Najib, Mahahtir Mohamad dan politisi senior Malaysia Anwar Ibrahim, berhasil mengalahkan Najib dengan membawa bendera partai baru, Pakatan Harapan.[Mohamad Deny Irawan]






















