Singapura, Gontornews — Asosiasi negara-negara Asia Tenggara, ASEAN, tengah mempersiapkan sebuah draf yang meminta pemerintah Myanmar bertindak tegas kepada setiap pelaku tindakan kejahatan kemanusiaan atas etnis minoritas Rohingya di Rakhine. Pernyataan ini kabarnya akan disampaikan dalam KTT ASEAN ke-33 yang diselenggarakan di Singapura, Selasa-Kamis, 13-15 November 2018.
“Kami menyerukan kepada Komisi independen yang dibentuk oleh Pemerintah Myanmar untuk melakukan penyelidikan terhadap tuduhan pelanggaran hak asasi manusia dan isu-isu terkait serta meminta kepada Pemerintah Myanmar untuk meminta pertanggungjawaban kepada para pelaku,” ungkap draf rancangan pernyataan sikap ASEAN terhadap kekerasan di Rakhine.
Meski demikian, belum ada kepastian apakah seluruh negara menyetujui draf tersebut sambil menekan Myanmar untuk menindak para pelaku. Reuters sendiri memprediksi hanya Malaysia, Indonesia dan Brunei Darussalam yang mengambil sikap tegas terhadap kekerasan yang terjadi terhadap etnis minoritas Muslim Rohingya.
Singapura sendiri diprediksi akan mendukung penuh upaya penyelidikan independen untuk mengungkap pelanggaran kejahatan kemanusiaan di Rakhine serta mendukung tindakan hukum bagi para pelaku. Namun, sikap Singapura ini hanya dianggap sebagai upaya menjaga kredibilitasnya sebagai tuan rumah KTT ASEAN ke-33.
Sedangkan negara-negara seperti Kamboja, Laos dan Vietnam diprediksi akan lebih mendukung posisi Myanmar. Bahkan, belakangan Thailand, di bawah kepemimpinan junta militernya memiliki kecenderungan untuk mendukung posisi Myanmar.
Perdana Menteri Malaysia, Mahathir Mohamad bahkan meminta bahwa pihaknya telah menolak dan mengutuk kejahatan kemanusiaan yang terjadi di Rakhine meski ia menyebut bahwa negara-negara anggota ASEAN bersepakat untuk tidak mencampuri urusan dalam negeri masing-masing.
“Kebijakan kami di ASEAN untuk tidak campur tangan dalam urusan internal negara-negara sangat jelas. Tetapi ini sangat tidak adil,” pungkas Mahathir. [Mohamad Deny Irawan]






















