Istanbul, Gontornews — Demi memperluas jaringan dan kerjasama antarperguruan tinggi di seluruh dunia, Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor melakukan penandatanganan kerjasama (Memorandum of Understanding/MoU) dengan empat perguruan tinggi di Turki yaitu Istanbul Sbahaten Zaim University, Fatih Sultan Mehmet University, Ibnu Kholdun University dan Bogazici University.
Selain penandatangan MoU dengan sejumlah perguruan tinggi di Istanbul, UNIDA Gontor juga mengirimkan delegasinya, yaitu Rektor UNIDA Gontor Prof Dr Amal Fahtullah Zarkasyi, Wakil Rektor I UNIDA Gontor Dr Hamid Fahmy Zarkasyi dan Wakil Rektor II UNIDA Gontor Dr Setiawan bin Lahuri, dalam konferensi internasional bertajuk International Union of Muslim Scholar di Grand Cevahir, Istanbul, 3-9 November 2018.
“Kedatangan delegasi UNIDA Gontor ke Turki merupakan bagian dari kunjungan kami ke sejumlah perguruan tinggi sekaligus melakukan perjanjian kerjasama,” ungkap Wakil Rektor II UNIDA Gontor Dr Setiawan bin Lahuri kepada Gontornews.
“Ada empat perguruan tinggi yang kami sasar untuk memperluas jaringan UNIDA Gontor dengan perguruan tinggi terbaik di dunia,” tambah pria yang sempat menjabat sebagai Dekan Fakultas Syariah UNIDA Gontor tersebut.
Khusus pertemuan dan konferensi tersebut, UNIDA Gontor berkenan bertemu dengan sejumlah pemikir Muslim sekaligus pakar Maqāṣid al-Sharī’ah seperti Dr Jaser Auda dan Dr Ahmad Raissouni. Nama terakhir kemudian terpilih sebagai ketua umum Persatuan Ulama Muslim Dunia (Al-Ittiḥādu al-‘ālamī li’ulamāi al-muslimīn).
Selain kedua nama di atas, turut hadir pula 1.200 ulama dari enam benua dan 130 negara di dunia. Bagi Setiawan, pertemuan internasional kali ini sangat bermanfaat karena dapat membuka wawasan serta meyakini bahwa masih ada persatuan dunia Islam di tingkat global.
“Kunjungan ke Istanbul kali ini terasa istimewa karena bisa belajar dan bertatap muka dengan 1.200 ulama dari enam benua dan 130 negara di dunia.”
“Perbedaan ras, bahasa dan warna kulit semakin menegaskan bahwa yang menyatukan umat ini adalah kalimat Tauhid dan tauhīdu al-kalimāt (satu suara),” pungkas Setiawan. [Mohamad Deny Irawan





















