Cox’s Bazar, Gontornews — Setelah sebelumnya mendapatkan kritikan dan dituduh menjadi penyebab gagalnya proses repatriasi pengungsi Rohingya dari Pemerintah Myanmar, lembaga swadaya masyarakat kemanusiaan (Non Governmental Organization/NGO) internasional menyerang balik Pemerintah Myanmar dengan menyebut mereka tidak memilki hal baik yang dapat ditampilkan.
Wakil Direktur Human Rights Watch untuk Asia, Phil Robertson mengatakan bahwa NGO internasional tidak seperti apa yang dibayangkan pemerintah Myanmar. Sebelunya, Pemerintah Myanmar menuduh NGO internasional menjadikan pengungsi Rohingya sebagai proyek besar yang menghasilkan banyak uang.
“Ketika pemerintah dan militer Myanmar tidak memiliki pencapaian yang dapat ditampilkan, mereka membuat serangan terhadap NGO dan lembaga kemanusiaan internasional lainnya sebagai pengalih perhatian,” ungkap Phil Robertson sebagaimana dilansir The Myanmar Times.
Senada dengan Robertson, Direktur pencegahan dan komunikasi Palang Merah Internasional (ICRC) di Bangladesh Anna Schaaf menerima sejumlah laporan tentang semerawutnya laporan keuangan di beberapa titik kamp pengungsian. Lebih lanjut, Schaaf mengatakan bahwa pihaknya menempatkan sejumlah relawan di kedua sisi perbatasan antara Bangladesh dan Myanmar.
“Kami memiliki sistem yang kuat untuk memastikan bahwa bantuan yang kami berikan tetap sasaran,” ungkap Schaaf sembari mengklaim bahwa pihaknya telah membantu hampir 300.000 pengungsi Rohingya di Rakhine dan 50.000 pengungsi Rohingya di Bangladesh.
ICRC sendiri berfokus pada pemberian bantuan kemanusiaan kepada para pengungsi yang membutuhkan dan akan terus membantu semua komunitas yang membutuhkan bantuan kemanusiaan.
“Sementara kami memberikan dukungan kepada orang-orng di kamp-kamp pengungsian di Bangaldesh, kami percaya bahwa kembalinya mereka ke Rakhine merupakan langkah positif jika dilakukan dalam kondisi yang tepat. Pengembalian juga harus berjalan secara sukarela, aman dan bermartabat,” ucap Schaaf.
Selain Robertson dan Schaaf, Direktur Burma Campaign UK, Mark Farmaner menyebut tuduhan pemerintah Myanmar terhadap NGO internasional sebagai omong kosong. Baginya, penolakan sejumlah pengungsi terhadap repatriasi terjadi karena Myanmar tidak menghormati hak asasi manusia mereka.
“Pemerintah (Myanmar) menganggap proses repatriasi hanya sebagai upaya untuk mengurangi tekanan internasional,” pugnkas Farmaner. [Mohamad Deny Irawan]




















