Peshawar, Gontornews — Kelompok Taliban di Afghanistan memastikan diri untuk tidak hadir dalam perundingan damai antara Taliban-Pemerintah Afghanistan yang dinisiasi oleh Amerika Serikat di Riyadh maupun Uni Emirat Arab. Taliban sendiri memilih untuk berunding dengan Amerika Serikat ketimbang harus berunding dengan Pemerintah Afghanistan karena mengakui siapa pihak terkuat di Afghanistan.
Sebelumnya, setelah mengutarakan rencananya untuk menarik ribuan pasukannya dari Afghanistan, Pemerintah Amerika Serikat lantas meminta kepada Afghanistan agar mengadakan perundingan damai bersama Pemerintah setempat meski mendapatkan penolakan dari kelompok Taliban.
Jika sebelumnya kelompok Taliban menolak Riyadh, ibukota Arab Saudi, dan Dubai (UEA) sebagai tempat perundingan damai, dan direncakan di helat Januari 2019, maka kini, pasukan Taliban meminta tempat perundingan damai dialihkan ke Qatar.
“Kami seharusnya bertemu pejabat AS di Riyadh minggu depan dan akan melanjutkan proses perundingan damai yang tetap tidak lengkap di Abu Dhabi bulan lalu,” kata seorang pejabat senior Taliban yang dilansir Reuters.
“Masalahnya adalah, para pemimpin Arab Saudi dan UEA ingin mempertemukan kami dengan delegasi dari Pemerintah Afghanistan, sesuatu yang tidak dapat kami lakukan sekarang dan (karena alasana tersebut) kami membatalkan pertemuan di Arab Saudi,” tambah pernyataan tersebut.
Sementara itu, Jurubicara Taliban, Zabihullah Mujahid membenarkan pernyataan tersebut meski tidak memberikan informasi tentang tempat perundingan damai selanjutnya.
“Semua orang yang menyadari fakta bahwa pemerintah Afghanistan menginginkan AS dan sekutunya bertahan di Afghanistan (telah membuat kami kecewa karena) kami telah membayar mahal untuk mengusir semua pasukan asing dari negara kami,” kata Zabihullah.
“(Untuk alasan itu) mengapa kia harus berbicara dengan pemerintah Afghanistan,” tambah Zahibullah.
Sebagai informasi, kelompok Taliban memandang bahwa musuh sesungguhnya di Afghanistan adalah Amerika Serikat. Bagi Taliban, Washington merupakan aktor penting di balik invansi militer yang terjadi di Afghanistan. Washington sendiri mengklaim bahwa invansi militer yang dilakukan mereka adalah yang terpanjang di dunia serta telah menelan biaya hampir satu t7riliun Dollar AS serta menewaskan puluhan ribu orang. [Mohamad Deny Irawan]



















