Dubai, Gontornews — Belum lama ini, dunia dikejutkan oleh kelahiran bayi kembar siam di rumah sakit Al-Thawra di Ibu Kota Yaman, Sana’a. Namun, minimnya peralatan kesehatan serta masih berkecamuknya perang antara Yaman dan kelompok militan Houthi membuat pihak RS merujuk pasien ke luar negeri untuk mendapatkan penanganan khusus.
Akan tetapi, Allah swt berkehandak lain. Bayi kembar siam dengan satu organ hati, ginjal dan organ reproduksi tersebut tidak selamat, dan akhirnya meninggal dunia, akibat lambatnya penanganan medis.
Sebagaimana dilansir Reuters, dokter yang menangani pasien selama kurang lebih 2 minggu, dr Abd al-Khaleq dan Abd Al-Rahim, mengakui bahwa hampir tidak harapan hidup bagi pasien kembar siap itu jika hanya mendapatkan pengobatan ala kadarnya di Yaman.
Keduanya bahkan menyayangkan rusaknya sejumlah infrastruktur kesehatan di Yaman akibat perang yang tak kunjung usai.
Sebuah organisasi kemanusiaan di Arab Saudi, the King Salman Center for Relief and Humanitarian Woks (KSCRHW), sempat memcarikan dana untuk membantu penanganan khusus pasien.
Akan tetapi, situasi penerbangan di Yaman carut marut. Kelompok militan Houthi yang menguasai beberapa objek vital seperti Bandara Sanaa dan Pelabuhan Hodeidah tidak dapat berkutik banyak karena terbentur strategi perang Yaman. Meski Houthi menguasai bandara, Pemerintah Yaman menguasai kendali udara di Yaman secara penuh.
Untuk sementara, Pemerintah Yaman memperbolehkan pesawat-pesawat PBB untuk mendarat serta lepas landas dari dan menuju Yaman. Hal ini dilakukan setelah PBB menginisiasi perundingan damai antara Pemerintah Yaman dengan kelompok militan Houthi di Stockholm, Swedia.
Sementara itu, Pihak Kementerian Kesehatan yang dikuasai oleh kelompok militan Houthi menjelaskan jika kematian bayi kembar siam berkepala dua itu mencerminkan bagaimana buruknya situasi kesehatan dan kemanusiaan yang dialami oleh anak-anak di Yaman sebagai konsekuensi akibat peperangan.
Selain rusaknya sistem kesehatan, perang di Yaman juga telah menewaskan puluhan ribu orang warga Yaman, meruntuhkan sistem ekonomi negara serta membawa jutaan warga Yaman berada di ambang bencana kelaparan. [Mohamad Deny Irawan]


















