New York, Gontornews — Utusan Persatuan Bangsa-Bangsa untuk perdamaian di Yaman, Martin Griffiths mengatakan kepada Dewan Keamanan PBB bahwa penarikan kembali pasukan dari masing-masing kubu yang bertikai yaitu Pemerintah Yaman dan Kelompok Militan Houthi, akan dimulai hari ini atau besok.
“Bahkan (penarikan pasukan) mungkin terjadi hari ini atau besok,” kata Martin Grifftihs sebagaimana dilansir Reuters, Selasa (19/2).
Sebelumnya, Pemerintah Yaman di bawah koalisi Arab Saudi dan kelompok militan Houthi yang berafiliasi ke Iran menyepakati gencatan senjata tahap awal, Senin (18/2). Pada tahap ini, kedua belah pihak sepakat untuk menarik pasukan masing-masing dari Pelabuhan Hodeidah sembari meneruskan proses negosiasi untuk mengakhiri perang Yaman.
“Semua pihak berhasil mencapai kesepakatan tahap pertama tentang penarikan kembali pasukan masing-masing,” kata pertanyaan resmi juru bicara PBB tanpa menyebut rincian apa saja hal-hal yang disepakati kedua belah pihak.
Melalui fase ini, kelompok miiltan Houthi yang sebelumnya menguasasi Pelabuhan Hodeidah akan menarik semua pasukannya dari pelabuhan utama Yaman tersebut serta pelabuhan Saleef. Menurut rencana, pelabuhan Hodeidah akan dipergunakan untuk tempat penerimaan sejumlah bahan makanan dan biji-bijian bagi warga sedangkan Pelabuhan Saleef akan diproyeksikan bagi masuknya kebutuhan bahan bakar minyak di Yaman.
Fase ini juga mengharuskan Pemerintah Yaman menarik semua pasukannya yang berada di sebelah Timur Hodeidah.
Lebih lanjut, fase ini diproyeksikan sebagai fase yang membuat kedua belah pihak bersepakat soal penerapan fase selanjutnya yaitu penarikan seluruh pasukan, baik Houthi maupun Pemerintah Yaman, dari Provinsi Hodeidah sepenuhnya.
Secara prinsip, kedua belah pihak bersepakat namun mereka belum bersepakat soal waktu penarikan dan mekanisme bagi pasukan lokal untuk mengambil alih keamanan di pelabuhan dan kota.
“PBB masih membahas bagaimana cara mengurangi kesenjagan antara kedua belah pihak perihal memilih pasukan yang akan mengendalikan kota,” kata sebuah sumber Reuters.
Selain gencatan senjata, mereka juga bersepakat soal pembukaan akses ke Red Sea Mills (RSM) yang mampu menampung sekitar 50.000 ton bahan makanan yang berasal dari World Food Programme (WFP). Mereka berharap dengan pembukaan akses dapat membantu asupan makanan sekitar 3,7 warga Yaman selama satu bulan mendatang. [Mohamad Deny Irawan]


















