Jeddah, Gontornews — Organisasi Kerjasama Islam (OKI) mengutuk aksi pemberontak Houthi Yaman, didukung oleh milisi dari presiden terguling Ali Abdullah Saleh, yang menargetkan menyerang kota suci Mekkah dengan rudal balistik.
Komite Eksekutif OKI menggelar pertemuan darurat tingkat menteri pada hari Sabtu (5/11) untuk membahas perkembangan serius, peluncuran rudal oleh milisi Houthi-Saleh.
Pertemuan itu mengecam para pemberontak dan mereka yang menyediakan senjata termasuk roket dan rudal ke sasaran Mekkah.
Pertemuan menyebut, itu merupakan tindakan agresi terhadap tempat-tempat suci di Arab Saudi, “yang merupakan provokasi bagi umat Islam dunia dan bukti penolakan mereka untuk mematuhi tuntutanmasyarakat internasional.”
OKI menegaskan kembali pernyataan yang dibuat oleh organisasi-organisasi regional dan internasional yang mengecam agresi, “yang berusaha merusak keamanan dan stabilitas tempat-tempat suci dan menggagalkan semua upaya damai yang dilakukan untuk mengakhiri konflik di Yaman.”
Para wakil OKI menegaskan dukungan negara-negara anggota untuk Arab Saudi dalam memerangi terorisme. Serta menegaskan solidaritas terhadap Kerajaan Saudi dalam upaya menjaga keamanan dan stabilitas kawasan.
Sementara itu Amnesty International juga menyerukan negara-negara anggota untuk bersatu melawan “agresi keji ini”.
Para anggota OKI didesak untuk bertindak terhadap orang-orang yang mendukung serangan itu, mengingat “pelanggaran terhadap keamanan Kerajaan Saudi merupakan pelanggaran atas keamanan dan keselamatan dunia Muslim secara keseluruhan.”
Sementara itu, utusan khusus PBB untuk Yaman membahas rencana perdamaian dengan kedua belah pihak yang berkonflik selama kunjungan keduanya ke Sana’a dalam waktu kurang dari seminggu.
PBB mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa Ismail Ould Cheikh Ahmed akan bertemu dengan anggota korps diplomatik dan lainnya untuk membahas cara-cara meringankan penderitaan kemanusiaan dan menilai cara terbaik untuk mengatasi krisis ekonomi di negara itu.
“Kerangka negosiasi perdamaian adalah suatu usaha yang luar biasa di bawah situasi yang terbaik,” kata Ismail.
“Hal ini membutuhkan tekad tegas dari para pihak untuk mencapai penyelesaian yang dinegosiasikan untuk menempatkan Yaman di jalan menuju perdamaian, dan itulah tujuan kami.” [Rusdiono Mukri]






















