Jakarta, Gontornews — Ketua Dewan Pertimbangan (Watim) Majelis Ulama Indonesia (MUI) Din Syamsuddin mengaku kecewa sikap Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang tidak menemui perwakilan pengunjuk rasa aksi Bela Islam II pada 4 November kemarin. Padahal tuntutan rakyat sangat substantif dan penting untuk penegakan hokum di Indonesia.
“Beliau justru pergi dan mengeluarkan kesan mengabaikan demonstrasi. Itu menurut saya tidak bijak,” ucapnya seperti dilansir sangpencerah (6/11).
Din juga menyayangkan alasan Presiden tidak bisa kembali ke istana karena kondisi lalu lintas tidak memungkinkan. Menurutnya, untuk seorang presiden kondisi lalu lintas bukan menjadi persoalan yang besar. Bahkan Presiden dapat menggunakan helikopter jika diperlukan.
“Seharusnya jika memang presiden sudah mengetahui akan ada kemacetan akibat demonstrasi maka seharusnya sejak awal tidak pergi meninggalkan istana,” katanya.
Dengan sikap Presiden seperti ini, kata Din, maka blusukan yang dilakukan presiden hanya pencitraan. Seharusnya presiden dapat memanfaatkan kesempatan aksi damai untuk dapat blusukan ke demonstran dan berdialog dengan perwakilan.
Sikap Presiden ini dikhawatirkan akan menimbulkan kekecewaan bagi massa demonstran. Terlebih, aksi bela Islam ini merupakan tindakan mencari solusi atas berbagai persoalan bangsa dengan masa yang jauh lebih besar dari aksi bela Islam pertama.
“Sebenarnya jika beliau datang akan selesai dan bagus untuk masalah ini. Tapi kan ini sudah lewat dan jangan pula beralibi dengan argumen-argumen yang nggak bisa kita percayai,” jelasnya. [Ahmad Muhajir]



















