Washington, Gontornews — Muslim Amerika tidak bisa dianggap enteng. Selain daya beli Muslim AS paling tinggi di antara masyarakat lainnya, yakni sekitar US$200 miliar (Rp1,7 triliun), Muslim AS juga merupakan salah satu komunitas dengan tingkat pendidikan dan penghasilan tertinggi di sana.
Islam adalah agama yang paling pesat perkembangannya di Amerika. Meski begitu, kehadiran Muslim minoritas di Negeri Paman Sam masih banyak menuai kritik dan kontroversi.
Buktinya, beberapa Muslim ada yang telah dikritik karena dianggap menjadikan kepercayaan mereka sebagai alasan untuk menolak sistem di Amerika.
Sopir-sopir taksi Muslim di Minneapolis, Minnesota, misalnya, mereka dikritik karena menolak penumpang yang membawa minuman keras atau anjing, temasuk penumpang cacat yang dipandu oleh anjing.
Sebagai konsekuensinya, otoritas bandara internasional Saint Paulus Minneapolis, mengancam akan menarik kembali izin operasi taksi bagi mereka yang membeda-bedakan penumpang seperti ini.
Selain itu, sebuah institusi AS juga dikritik karena dinilai telah mengakomodasi Muslim atas pembayaran pajak.
Universitas Michigan-Dearborn dan sebuah perguruan tinggi negeri di Minnesota telah dikritik karena mengakomodasi upacara keagamaan Islam dengan membangun tempat wudhu bagi mahasiswa Muslim dengan menggunakan uang pajak.
Pemisahan antara agama dengan negara dan kebebasan beragama memang telah dicantumkan dalam Undang-Undang di Amerika. Sehingga tidak ada dana pemerintah yang boleh dikeluarkan untuk mendanai kepentingan agama tertentu, termasuk soal pengajaran pendidikan agama di sekolah.
Menurut pemerintah AS, pendidikan agama pada anak adalah tanggung jawab setiap keluarga yang juga diajarkan oleh setiap lembaga masing-masing agama.
Blair King, salah seorang Mu’alaf asal Amerika yang kini tinggal di Indonesia menambahkan, “Muslim di Amerika tak mudah putus asa dan terus aktif mengadakan summer camp selama empat hari setiap musim panas.”
“Mereka juga kerap mengundang pembicara-pembicara yang berasal dari orang yang menetap di Amerika atau yang datang dari tempat lain,” ujar Balir King.
Semoga dengan semangat mereka dalam menggali ilmu dan mempraktekkan ajaran Islam, bisa membawa keberkahan bagi seluruh umat Muslimin di Amerika Serikat. <Edithya Miranti>




















