Gontornews — Dua wartawan kantor berita Reuters yang dipenjara telah memenangkan Hadiah Pulitzer untuk liputan internasional karena mengungkap pembantaian 10 pria Rohingya oleh warga desa Budha dan pasukan keamanan Myanmar.
Wa Lone dan Kyaw Soe Oo, yang telah dipenjara selama 490 hari di Myanmar karena peran mereka dalam mengungkap pembunuhan, memenangkan penghargaan bergengsi untuk peliputan internasional pada hari Senin (15/4).
Mereka ditangkap pada Desember 2017 dan menjalani hukuman tujuh tahun karena melanggar Undang-Undang Rahasia Kolonial negara itu.
“Saya senang bahwa Wa Lone dan Kyaw Soe Oo dan rekan-rekan mereka telah diakui karena liputan mereka yang luar biasa dan berani,” kata Pemimpin Redaksi Reuters, Stephen J Adler.
“Namun, aku tetap sangat tertekan, karena reporter pemberani kami Wa Lone dan Kyaw Soe Oo masih di balik jeruji besi.”
CEO Thomson Reuters Jim Smith mengatakan, lembaganya tidak akan benar-benar merayakan raihan prestasi itu sampai Wa Lone dan Kyaw Soe Oo bebas.
Mereka, keduanya warga negara Myanmar, menemukan kuburan massal yang penuh dengan tulang yang mencuat dari tanah. Mereka kemudian mengumpulkan kesaksian dari para pelaku, saksi dan keluarga korban.
Selain keduanya, wartawan Maggie Michael, Maad al-Zikry dan Nariman El-Mofty dari kantor berita Associated Press juga memenangkan penghargaan yang sama untuk liputan kelaparan dan penyiksaan dalam perang saudara Yaman. [Rusdiono Mukri]



















