Negombo, Gontornews–Pascateror bom, Ahad (21/4), kerukunan umat beragama di Sri Lanka merenggang. Warga Muslim mendapat intimidasi dan ancaman dari penduduk setempat. Tak sedikit dari mereka yang akhirnya memilih mengungsi ke tempat aman.
Seperti dilaporkan the Washington Post, Kamis (25/4), spanduk besar berisi kecaman terhadap aksi teror dipasang di beberapa masjid. Bukan hanya itu, warga Muslim turut membantu memberi makanan untuk para sukarelawan pemakaman massal.
Di Negombo, warga Muslim bahkan berinisiatif melakukan patroli keamanan di lingkungan masing-masing. Mereka memeriksa kendaraan dan pengunjung yang tak dikenal.
“Kami sebetulnya ingin melakukan lebih banyak. Namun, kami diminta untuk tidak melakukannya,” kata seorang pengurus masjid, Mohammad Sufaree. Seperti diketahui, Gereja St Sebastian yang menjadi salah satu target serangan bom pada Ahad lalu terletak di Negombo.
Namun, sejumlah aksi solidaritas umat Islam tak dapat membendung meningkatnya seruan kebencian terhadap Muslim. Ini setelah kelompok radikal National Thowheed Jamaat dinyatakan sebagai pihak yang diduga kuat berada di balik aksi pengeboman terhadap tiga gereja dan empat hotel. Apalagi, kelompok radikal ISIS belum lama ini mengklaim diri sebagai dalang teror.
Rumah dan tempat-tempat usaha Muslim di Negombo dilaporkan di lempari batu oleh warga setempat. Sejak Ahad (21/4), para pedagang Muslim menutup tokonya karena mencemaskan keamanan mereka.
Seorang pedagang berlian di Negombo, Mohammad Jinah, mengatakan, umat Islam di Negombo mengutuk keras aksi pengeboman. “Akan tetapi, banyak dari mereka yang menyatakan bahwa serangan itu dilakukan umat Islam. Jadi, kami tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Sebelumnya, Negombo tempat yang damai, tapi sekarang semuanya telah terbalik,” kata dia.
Gara-gara meningkatnya ancaman dan intimidasi, ratusan Muslim asal Pakistan di Negombo memilih mengungsi. Mereka meninggalkan Negombo menggunakan bus-bus yang diorganisasikan para pemimpin masyarakat dan polisi setempat.
Warga Muslim melarikan diri karena khawatir terhadap keselamatan mereka setelah adanya ancaman balas dendam dari penduduk setempat. “Karena ledakan bom, orang-orang Sri Lanka setempat menyerang rumah-rumah kami. Saat ini, kami tidak tahu ke mana kami akan pergi,” ujar seorang Muslim Pakistan, Adnan Ali, Kamis (25/4). [Fathurroji]





















