Jika dalam Islam ada istilah Pan-Islamisme, di dalam agama Katolik pun terdapat Pan-Katolikisme. Pada mulanya, mereka merasa bahwa orang Katolik itu dijajah atau diperintah oleh satu Katolik yang dipimpin Paus. Padahal, mereka merasa justru tidak bisa aman kalau dipimpin Paus.
Jadi, dalam Katolik terdapat perbedaan pandangan yang tajam pula. Untuk mengatasi perbedaan tajam ini hanya ada satu cara, yaitu apabila semua sudah tunduk kepada Sang Paus. Itulah Pan-Katolikisme.
Memang, kebangkitan Islam banyak dipahami secara kurang benar sehingga banyak orang yang takut. Umat Islam akan bangkit, itu berarti akan ada pemberontakan. Pemahaman seperti ini jelas keliru. Bangkitnya umat Islam hingga mencapai kejayaannya itu memerlukan waktu tujuh abad lamanya.
Kebangkitan Islam tidak seperti bangkitnya paham kecil-kecil, kampungan, yang umurnya hanya sebulan dua bulan. Islam itu usianya panjang.
Kalau paham fasisme hanya berumur lima tahun, paham Islam sudah teruji selama tiga belas abad. Artinya, kebangkitan Islam tidak bisa ditunggu hanya dalam beberapa hari atau beberapa bulan, mungkin kebangkitan yang kita mulai ini baru sesudah 300 tahun nanti mencapai puncaknya.
Kebangkitan Islam tidak cukup diukur dari prestasi umat dalam salah satu bidang ilmu pengetahuan dan teknologi saja. Bagi kami, kalau umat Islam ingin menguasai teknologi, itu tidak terlalu sulit. Dalam tempo kurang dari 25 tahun, itu dapat terwujud. Namun untuk mengembalikan mental Islam, memerlukan waktu 100 tahun lamanya. Sebab mentalitas umat sangat penting bagi barometer kebangkitan yang sebenarnya.
Sekarang bagaimanakah Revival of Islam itu dibangkitkan di pondok-pondok pesantren? Jawabnya, santri-santri pondok pesantren yang sebodoh-bodohnya, serendah-rendahnya, yang keadaannya hanya ngeliwet dan memakai kelompen, apabila mereka diajar sejarah hingga mereka tahu bahwa Islam dulu pernah menguasai dunia, itu sudah hebat!
Sebagai contoh dari sisa-sisa kejayaan umat Islam itu, misalnya sampai abad yang ke-19 ini pimpinan dunia Islam masih berada di Kekhalifahan Turki. Ketika Belanda akan masuk Indonesia, mereka haus mendapat surat izin dari Kekhalifahan Turki. Di Minangkabau, saya melihat di suatu rumah yang paling kuno ada selembar surat dari Turki. Ini membuktikan bahwa umat Islam di Indonesia memiliki hubungan kuat dengan Turki.
Kepemimpinan Turki ini berakhir sesudah masa kepemimpinan Kamal Ataturk. Dengan berakhirnya zaman kekhalifahan Turki, orang Barat mulai merajalela menguasai segala-galanya. Pengetahuan dan wawasan seperti ini dapat dibangkitkan menjadi kesadaran mental yang sangat mendukung bagi kebangkitan Islam.
Jadi, dari mana kita memulai Revival of Islam ini? Jalan yang harus kita tempuh di antaranya adalah pendalaman ilmu pengetahuan melalui jalur pendidikan. Namun, metode pendidikan dan pengajarannya haruslah sesuai dengan kondisi dan tuntutan zaman. Kalau pondok pesantren tidak memperbaharui metode terlebih dulu, jalan yang harus ditempuh menjadi lebih panjang.
Untuk membangkitkan umat Islam, Sir Syed Ahmad Khan di India, berdaya upaya melawan Inggris yang sudah menjajah puluhan tahun, bahkan ratusan tahun. Caranya, menurut keterangan Dr Balluch dari Pakistan, yaitu dengan menguasai ilmu pengetahuan melalui jalur pendidikan.
Ia mengembangkan pesantrennya menjadi Mohammedan Anglo Oriental College (MAOC), yang kemudian menjelma menjadi Aligarh Muslim University (AMU). Alasannya, Ahmad Khan berkeyakinan bahwa umat Islam dengan pesantren yang ada dan dengan kondisi yang ada, tidak mampu melawan Inggris.
Untuk melawan Inggris, orang Islam harus menguasai ilmu pengetahuan mereka. Ia yakin, umat Islam mampu melakukan hal itu. Namun, ilmu pengetahuan Barat itu harus dimasukkan ke dalam sekolah Islam.
Dengan cara ini, umat Islam dapat dibangkitkan melalui berbagai macam ilmu pengetahuan.
Bagaimana kelanjutannya Aligarh, saya kurang dapat mengikuti. Yang jelas, Aligarh mempunyai andil besar dalam rangka berdirinya negara Republik Islam Pakistan. Para pemimpin Muslim di India dan Pakistan adalah alumni-alumni Aligarh atau paling tidak mendapat spirit Aligarh. []




















