وَلَيَنصُرَنَّ ٱللَّهُ مَن يَنصُرُهُۥٓ ۗ إِنَّ ٱللَّهَ لَقَوِىٌّ عَزِيزٌ
“Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong agama-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Mahakuat lagi Mahaperkasa.” (QS Al-Hajj: 40)
Secara bahasa, seorang mubaligh atau da’i dapat diartikan sebagai seorang pemimpin, penuntun, pengantar, dan pembawa Islam ke tengah-tengah umat. Ada pula yang mengatakan bahwa seorang mubaligh adalah pendekar, pahlawan, atau pembela Islam.
Sebagai seorang pembela atau pemimpin Islam, sudah barang tentu dia akan bertemu dengan hal-hal aneh, unik, langka, dan kejadian tak terduga lainnya. Karena memang yang kita hadapi bukan hanya masyarakat kota yang suka berpenampilan rapi dan perlente, tapi juga terkadang harus masuk kampung keluar kampung, masuk dusun keluar dusun.
Bahkan, sekali tempo akan memaksa kita keluar masuk hutan, mendaki gunung dan perbukitan, baik di tengah terik matahari atau diguyur dengan hujan yang lebat. Ditambah lagi orang-orang yang kita bimbing itu belum tentu memiliki adab dan sopan santun yang baik. Namun, itulah keadaan dan karakter asli mereka yang masih butuh bimbingan.
Demikian pula belum tentu kita akan dipertemukan dengan kawan, tapi terkadang harus menghadapi dan dipertemukan dengan lawan, orang yang kurang sepaham atau menentang dakwah kita. Mereka akan menghalang-halangi, membuat ulah, dan menyusun strategi untuk menggagalkan dakwah kita.
Seorang mubalig atau da’i pasti akan banyak menemui hal-hal aneh, unik, langka, dan tak terduga lainnya. Karena itu, kita wajib mempersiapkan, memperkuat, dan memperdalam apa saja yang menjadi landasan dan bekal bagi kita para mubaligh dan da’i.
Seorang mubaligh yang kurang kuat landasan dan bekalnya, maka dia akan cepat putus asa dan pensiun dini. Paling tidak, kejadian itu akan membuat mereka malas dan tidak bersemangat.
Tak pantas bagi seorang mubaligh yang hanya mau berdakwah di daerah perkotaan. Dia akan melakukan dengan senang hati karena berada di tempat-tempat yang enak, nyaman dan bersih, dijemput pakai kendaraan, kumpul dengan para penjabat dan pesohor, disediakan hidangan yang lezat dan fasilitas kemudahan lainnya.
Namun ketika diajak melakukan syiar di kampung-kampung, masuk ke daerah pelosok dan pedalaman, jauh dari kota dengan segala fasilitas kemudahannya, lantas dia berkeluh kesah, komplain, protes, merasa pergaulannya terbatasi, kemudian bermuka masam, rewel dan bawel, dan menyampaikan banyak alasan keberatan.
Sebagai landasan bagi para da’i dan mubaligh, camkan beberapa hal berikut. Pertama, jangan menganggap pekerjaan atau profesi sebagai seorang da’i atau mubaligh itu tugas yang berasal dari manusia, tetapi kita harus menganggap sebagai suatu kewajiban dari Tuhan dan semata-mata karena Allah.
Kedua, seorang da’i atau mubaligh harus memiliki keyakinan yang kuat bahwa dia akan mendapat pertolongan dan bimbingan dari Allah SWT. Ingatlah, barangsiapa yang menolong agama Allah, maka Allah akan menolongnya, meneguhkan setiap langkah dan kedudukannya.
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ إِن تَنصُرُوا۟ ٱللَّهَ يَنصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ
“Hai orang-orang Mukmin, jika kamu menolong agama Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” (QS Muhammad: 7)





















