pesanan-baju-kaos
28 °c
Pecenongan
Sat
Sun
Friday, 18 September, 2026
Login
Langganan
gontornews.com
Daftar Pelatihan Guru Al Barqy
  • Home
  • News
    • Dunia
    • Nasional
    • Nusantara
  • Inspirasi
    • Sirah
    • Dakwah
    • Hidayah
    • Ihwal
    • Jejak
    • Sukses
    • Mujahid
    • Oase
  • Pendidikan
    • Virtual Tour Pesantren
    • Lembaga
    • Buku
    • Beasiswa
    • Risalah
    • Khazanah
    • Keluarga
  • Muamalah
    • Ekonomi
    • Peluang
    • Halal
    • Rihlah
    • Konsultasi
  • Tadabbur
    • Tafsir
    • Hadis
    • Dirasah
  • Values
    • Tausiah
    • Sikap
    • Mahfudzat
    • Kolom
    • Afkar
  • Saintek
    • Sains
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Lingkungan
  • Laput
    • #IBF2020
  • Wawancara
  • Gontoriana
    • Pondok
    • Trimurti
    • Risalah
    • Alumni
  • Berlangganan
  • MG Digital
  • Login
No Result
View All Result
gontornews.com
Langganan
Home Laput

Jejak Jihad Ulama: Dari Perang Gerilya hingga Resolusi Jihad 1945 

Oleh Fathurroji

Rusdiono Mukri by Rusdiono Mukri
2 December 2025
in Laput
0
Jejak Jihad Ulama: Dari Perang Gerilya hingga Resolusi Jihad 1945 

Foto: Artikel Tsirwah

Sejarah bangsa Indonesia mencatat peran penting ulama dan kaum santri dalam memperjuangkan kemerdekaan. Sejak masa kerajaan-kerajaan Islam hingga masa kolonial, para ulama dan santri aktif menentang penjajahan Belanda.

Setelah Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945, perjuangan itu berlanjut dengan dikeluarkannya Resolusi Jihad oleh KH Hasyim Asy’ari atas nama Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) pada 22 Oktober 1945 yang menyerukan perlawanan terhadap penjajahan, yang ini menjadi dasar semangat jihad fi sabilillah bagi jutaan umat Islam Indonesia.

Menjelang proklamasi, kedekatan Bung Karno dengan para ulama memiliki pengaruh besar. Menurut Ahmad Mansur Suryanegara dalam buku karyanya, Api Sejarah, Bung Karno berkonsultasi dengan beberapa ulama, seperti Syeikh Moesa dari Cianjur, KH Abdoel Moekti dari Muhammadiyah Madiun, dan KH Hasyim Asy’ari dari Tebuireng, Jombang.

Dari para ulama inilah Bung Karno mendapat kepastian bahwa 17 Agustus 1945, yang bertepatan dengan 9 Ramadhan 1364 H, merupakan waktu terbaik untuk memproklamasikan kemerdekaan. Hal ini menunjukkan bahwa keputusan historis tersebut juga memiliki makna spiritual dan keagamaan yang dalam.

BACA JUGA

Jejak Pengusaha Alumni Gontor: Dari Dunia Usaha ke Pendidikan

Menghidupkan Kembali Budaya Baca

Guru Berperan Menanamkan Adab

Menjaga Fitrah dan Istiqamah Pasca-Ramadhan

Perintah Menjaga Lingkungan Hidup

Peristiwa penculikan Bung Karno dan Bung Hatta oleh kelompok pemuda pada 15 Agustus 1945 di Rengasdengklok memperlihatkan adanya perbedaan pandangan soal waktu proklamasi. Meskipun mendapat tekanan agar segera memproklamasikan kemerdekaan, Bung Karno tetap berpegang pada keyakinannya untuk melakukannya pada 17 Agustus, hari yang dianggap penuh berkah.

Setelah kemerdekaan, ulama dan santri kembali berperan besar dalam mempertahankan kedaulatan Indonesia. Bung Tomo melalui Radio Pemberontak menyerukan semangat jihad kepada umat Islam untuk melawan Tentara Sekutu dan NICA di Surabaya. Seruan ini melahirkan perlawanan besar pada 10 November 1945 yang kemudian dikenal sebagai Hari Pahlawan.

Resolusi Jihad 22 Oktober 1945 menjadi dasar moral perjuangan tersebut dan berhasil mengorganisasi kekuatan laskar-laskar Islam, termasuk Hizbullah, yang akhirnya menewaskan Brigadir Jenderal Mallaby, komandan pasukan Inggris di Surabaya.

Peran ulama dan santri dalam perjuangan kemerdekaan dan mempertahankan kedaulatan Indonesia menjadi bagian penting dari sejarah bangsa yang tidak boleh dilupakan. Semangat jihad dan pengabdian mereka telah menjadi fondasi bagi lahirnya Republik Indonesia.

Jejak Jihad Ulama

Jauh sebelum kemerdekaan, hampir 350 tahun bangsa Indonesia telah dijajah oleh enam negara penjajah, yaitu Portugis, Spanyol, Belanda, Prancis, Inggris, dan Jepang. Urutan penjajahan: Portugis (1509–1595), Spanyol (1521–1692), Belanda (1602–1942), Prancis (1806–1811), Inggris (1811–1816), dan Jepang (1942–1945).

Saat itulah, masa kelam bangsa ini penuh dengan penderitaan karena ulah para penjajah yang menggerogoti kekayaan alam dengan cara paksa dan mengancam kedaulatan bangsa. Dalam perjuangan melawan penjajah, peran ulama menjadi sangat penting dan strategis.

Melalui tindakan nyata mereka di medan tempur, dakwah keagamaan, serta pembaruan pendidikan, para ulama ini menunjukkan kebesaran hati dan keteguhan tekad membela tanah air dan agama. Warisan mereka tidak hanya menjadi sejarah, tetapi juga inspirasi bagi bangsa Indonesia hingga hari ini, mengingatkan bahwa semangat keimanan dan perjuangan merupakan fondasi utama dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan.

Ulama tidak hanya berperan sebagai pemimpin spiritual, tetapi juga sebagai tokoh politik, militer, dan sosial yang menggerakkan rakyat melawan penjajahan. Setidaknya ada 12 tokoh Islam yang memelopori pemberontakan terhadap penjajah saat itu, meski masih banyak sekali figure Muslim terdahulu yang belum tersebut di tulisan ini. Berikut profil singkat kepahlawanannya.

Cut Nyak Dien

Cut Nyak Dien merupakan pahlawan nasional Indonesia asal Aceh yang memimpin perlawanan sengit terhadap Belanda dalam Perang Aceh (1873-1912). Perjuangannya dimulai setelah kematian suaminya, Teuku Cik Ibrahim Lamnga, dan kemudian dilanjutkan bersama suaminya yang lain, Teuku Umar. Nyak Dien menggunakan strategi gerilya, memanfaatkan pengetahuan lokal, dan taktik serangan mendadak untuk mengacaukan pasukan Belanda yang lebih kuat.

Teungku Cik Di Tiro

Di wilayah Aceh, Teungku Cik Di Tiro menjadi protagonis dalam Perang Sabil antara tahun 1873 hingga kematiannya pada 1891. Teungku Cik Di Tiro perang di wilayah Aceh melawan penjajahan Belanda, memimpin perlawanan gerilya di berbagai lokasi seperti Benteng Lam Baroe, Aneuk Galong, dan Pulau Breuh. Dengan mengobarkan semangat religius, ia berhasil menggerakkan rakyat Aceh untuk bersatu melawan kolonialisme. Kontribusi ini menjadi fondasi perjuangan rakyat Aceh yang terus berlanjut hingga awal abad ke-20.

Tuanku Imam Bonjol

Salah satu tokoh awal yang mencuat yaitu Tuanku Imam Bonjol, yang memimpin Perang Padri yang berlangsung dari tahun 1803 hingga 1838 di wilayah Minangkabau Sumatera Barat. Perang ini bermula dari gerakan pembaharuan Islam dalam masyarakat Minangkabau dan menjadi bentuk perlawanan keras terhadap kolonial Belanda. Keberanian Tuanku Imam Bonjol dalam mempertahankan wilayahnya menjadi simbol keteguhan perjuangan ulama dalam mempertahankan keadilan dan agama.

Sultan Agung

Sultan Agung dari Mataram melancarkan dua serangan besar ke Batavia pada tahun 1628 dan 1629 untuk mengusir VOC dan menguasai Pulau Jawa. Namun kedua upaya tersebut gagal karena keunggulan senjata VOC, kelelahan, dan kekurangan perbekalan akibat VOC membakar lumbung padi Mataram. Meskipun kalah, perlawanan Sultan Agung menjadi simbol perjuangan melawan penjajahan yang diwariskan oleh rakyat Jawa.

La Maddukelleng

Sementara itu, di Sulawesi, La Maddukelleng tampil sebagai pemimpin ulama sekaligus politikus yang membangkitkan semangat perlawanan rakyat Bugis dari Kerajaan Wajo. Ia pahlawan nasional karena keberaniannya melawan penjajah Belanda di abad ke-18. Ia berhasil mempersatukan berbagai kerajaan kecil dan membangun armada untuk mengusir Belanda dari Sulawesi Selatan, sehingga ia dikenal sebagai “Tuan yang Memerdekakan Wajo”.

Malahayati

Dalam kancah perang laut, Malahayati dari Kesultanan Aceh mengukir sejarah sebagai laksamana perempuan pertama di dunia yang memimpin pasukan melawan VOC. Ia termasuk laksamana laut Muslimah pertama di dunia dari Kesultanan Aceh yang hidup pada abad ke-16. Ia terkenal karena mendirikan dan memimpin pasukan elit wanita bernama Inong Balee, serta memimpin pertempuran melawan penjajah Portugis dan Belanda, termasuk membunuh Cornelis de Houtman. Malahayati simbol kekuatan militer dan kepemimpinan wanita yang tangguh dari Nusantara.

Diponegoro

Pangeran Diponegoro merupakan pangeran Jawa yang menentang pemerintahan kolonial Belanda. Putra sulung Hamengkubuwana III ini memegang peranan penting dalam Perang Jawa tahun 1825 hingga 1830.  Ia menjadi salah satu ikon ulama pejuang yang menonjol dalam perjuangan kemerdekaan. Fatwa jihad yang dikeluarkannya menjadi panggilan luas bagi rakyat Jawa untuk bersatu melawan penjajahan Belanda.

Zainal Mustafa

KH Zainal Mustafa merupakan pejuang kemerdekaan Indonesia dan ulama dari Tasikmalaya yang memimpin perlawanan terhadap penjajahan Jepang, khususnya pada peristiwa Pemberontakan Pesantren Sukamanah pada tahun 1944. Ia menolak perintah Jepang untuk melakukan seikerei (penghormatan kepada kaisar Jepang) dan menentang romusha (kerja paksa), yang mengakibatkan penangkapan dan eksekusi terhadap dirinya pada 25 Oktober 1944. Atas jasa-jasanya, KH Zainal Mustafa kemudian diangkat sebagai Pahlawan Nasional Indonesia pada tahun 1972.

Sultan Hasanuddin

Penentangan Sultan Hasanuddin terhadap monopoli dagang  VOC di Indonesia timur berujung pada perang berdarah antara Kerajaan Gowa dan Belanda. Meskipun ia menunjukkan strategi dan keuletan luar biasa, termasuk menyatukan kerajaan-kerajaan kecil, akhirnya Gowa melemah dan Sultan Hasanuddin terpaksa menandatangani Perjanjian Bongaya. Di bawah kepemimpinan Sultan Hasanuddin, Kerajaan Gowa menjadi kerajaan maritim terbesar dan pusat perdagangan di Indonesia timur.

Pangeran Antasari

Pangeran Antasari merupakan Pahlawan Nasional Indonesia dari Kesultanan Banjar di Kalimantan Selatan, yang menjadi pemimpin utama Perang Banjar melawan penjajahan Belanda pada pertengahan abad ke-19. Pangeran Antasari dinobatkan sebagai pimpinan tertinggi Kesultanan Banjar dengan gelar Panembahan Amiruddin Khalifatul Mukminin, yang menjadikannya panglima perang dan pemuka agama. Pangeran Antasari simbol keberanian dan ketabahan, bahkan hingga akhir hidupnya. Ia dikenal dengan semangat “Haram Manyarah” (Pantang Menyerah) yang diwariskan kepada keturunannya.

KH Ahmad Dahlan

Selain perjuangan fisik, ulama juga menginisiasi reformasi pendidikan dan organisasi sosial yang berperan dalam membangun kesadaran nasional. Organisasi ini didirikan pertama kali di sebuah kampung bernama Kauman di Yogyakarta pada 18 November 1912 atau 8 Dzulhijjah 1330 H oleh pendirinya yaitu Muhammad Darwis atau dikenal pula dengan nama KH Ahmad Dahlan. Ia mendirikan Muhammadiyah dengan visi pembaruan pendidikan Islam dan sosial yang mendorong kesadaran kolektif melawan penjajahan intelektual dan sosial.

KH Hasyim Asy’ari

KH Hasyim Asy’ari merupakan pahlawan Muslim karena perannya sebagai ulama besar pendiri Nahdlatul Ulama (NU) pada 31 Januari 1926 dan juga pahlawan nasional Indonesia. Ia juga mengeluarkan Resolusi Jihad pada 22 Oktober 1945 di Surabaya, yang menyerukan kepada umat Islam, terutama santri dan ulama, untuk wajib mempertahankan kemerdekaan Indonesia melawan penjajahan Belanda. Fatwa ini menegaskan bahwa melawan penjajah merupakan kewajiban agama (fardhu ‘ain) dan umat yang meninggal dalam perjuangan tersebut dianggap mati syahid. Resolusi Jihad mempunyai dampak besar di Jawa Timur. Pada hari-hari berikutnya, ia menjadi pendorong keterlibatan santri untuk ikut serta dalam pertempuran 10 November 1945 di Surabaya. []

Tags: Kemerdekaan IndonesiaPahlawanUlama
Share14Tweet9Send
Previous Post

Mengingat Kembali Peran Ulama dalam Kemerdekaan Indonesia

Next Post

Landasan Bagi Para Da’i (Bagian Pertama)

Rusdiono Mukri

Rusdiono Mukri

Redaksi Majalah Gontor

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site is protected by reCAPTCHA and the Google Privacy Policy and Terms of Service apply.

  • Trending
  • Comments
  • Latest
SDIT Insantama Leuwiliang Ajarkan Siswa Berniaga ala Rasulullah Lewat Market Day

SDIT Insantama Leuwiliang Ajarkan Siswa Berniaga ala Rasulullah Lewat Market Day

16 September 2026
K3S Leuwiliang Apresiasi Insantama Market Day: Siswa Belajar Berniaga Sesuai Syariah

K3S Leuwiliang Apresiasi Insantama Market Day: Siswa Belajar Berniaga Sesuai Syariah

16 September 2026
Pasutri Alumni Gontor Ini Persembahkan 100 Sumur untuk 100 Tahun Gontor

Pasutri Alumni Gontor Ini Persembahkan 100 Sumur untuk 100 Tahun Gontor

17 September 2026
Gontor Persembahkan Kajian dan Pelatihan Seni Kaligrafi Khat Nasta’liq Irani 

Gontor Persembahkan Kajian dan Pelatihan Seni Kaligrafi Khat Nasta’liq Irani 

11 September 2026
Gontor Apresiasi Alumni Touring Motor hingga Mengayuh Sepeda Demi Hadiri 100 Tahun PMDG

Gontor Apresiasi Alumni Touring Motor hingga Mengayuh Sepeda Demi Hadiri 100 Tahun PMDG

15 September 2026
100 Tahun Pondok Modern Darussalam Gontor

100 Tahun Pondok Modern Darussalam Gontor

0
Gontor Siap Sambut Puluhan Ribu Alumni Menuju 100 Tahun Gontor

Gontor Siap Sambut Puluhan Ribu Alumni Menuju 100 Tahun Gontor

0
Gontor, Alumni, dan Jejak Satu Abad

Gontor, Alumni, dan Jejak Satu Abad

0
Pasutri Alumni Gontor Ini Persembahkan 100 Sumur untuk 100 Tahun Gontor

Pasutri Alumni Gontor Ini Persembahkan 100 Sumur untuk 100 Tahun Gontor

0
Presiden Prabowo Siap Hadir dan Resmikan Fakultas Kedokteran UNIDA Gontor

Presiden Prabowo Siap Hadir dan Resmikan Fakultas Kedokteran UNIDA Gontor

0
100 Tahun Pondok Modern Darussalam Gontor

100 Tahun Pondok Modern Darussalam Gontor

17 September 2026
Gontor Terus Matangkan Kesiapan Jelang Puncak Acara 100 Tahun

Gontor Terus Matangkan Kesiapan Jelang Puncak Acara 100 Tahun

17 September 2026
Kunjungan Tujuh Presiden ke Gontor: Relasi antara Dunia Pesantren dan Negara

Kunjungan Tujuh Presiden ke Gontor: Relasi antara Dunia Pesantren dan Negara

17 September 2026
Reuni Akbar 100 Tahun Gontor: Momentum Evaluasi Langkah Alumni dengan Cita-Cita Pendiri

Reuni Akbar 100 Tahun Gontor: Momentum Evaluasi Langkah Alumni dengan Cita-Cita Pendiri

17 September 2026
Gontor, Alumni, dan Jejak Satu Abad

Gontor, Alumni, dan Jejak Satu Abad

17 September 2026
gontornews.com

Kantor :
Jalan Taman Sejahtera No.1A RT.06 RW.03 (Samping Masjid Jami' Al-Munir) Gandaria Selatan, Cilandak, Jakarta Selatan
Telp : 021-29124801
Fax : 021-29124802
Layanan Pelanggan : 0819-1515-1456 (Khusus WA)
Email :
[email protected]
[email protected]
[email protected]

TENTANG KAMI

  • Profil
  • Redaksi & Manajemen
  • Info Iklan
  • Panduan Kebijakan Media
  • Berlangganan Majalah
  • Komplain Majalah
  • Privacy Policy

INSTAGRAM

Ikuti Kami

  • Bismillah.
Paket Perpustakaan.
EDISI TAHUN 2020 - 2025Hanya : Rp. 149.000,-
Didapatkan:
1. Isi 20 Eksemplar
2. Edisi Tahun Acak
3. + SUBSIDI ONGKIR 10.000,-Pesan Via WhatsApp
0812 3416 0133, 0858 1760 8802Website : www.gontornews.com
Instagram : @gontornews#majalahgontor
#majalahgontor
  • Bismillah.
tersedia baju kaos lengan panjang atau pendek. Warna putih dan hitam. Degan Sablon DTF.Ukuran : S, M, L, XLLink Pembelian : https://tinyurl.com/pesan-baju#majalahgontor
#gontornews
  • Edisi Khusus Bulan September 2026 spsial 100 tahun .Pesan sekarang
https://bit.ly/pesan-majalah#majalahgontor
#gontornews
  • Bismillah, kami kembali membuka kesempatan kepada Alumni Gontor ataupun Pondok Alumni yang memiliki usaha yang ingin diperkenalkan melalui Majalah Gontor pada bulan oktiober ini.
Kami membuka 3 paket pilihan :
1. 1/4
2. 1/6
3. Iklan MiniLink pendaftaran : https://bit.ly/pasang-iklan-mgatau bisa lihat di link Bio.#majalahgontor #gontornews
  • Alhamdulillah Majalah Gontor Edisi Khusus Bulan September spesial100 tahun Gontor telah tersedia. Stok edisi khusus semakin menipis pula (Juli - September). Bagi yang belum memiliki bisa Langsung pesan melalui link berikut :
https://bit.ly/pesan-majalahJangan sampai kehabisan.Untuk Baju kaos bisa juga pesan melalui link ini : https://tinyurl.com/pesan-bajukontak bagian penjualan :
0812-3416-0133
#majalahgontor #gontornews #gontor #alumnigontor
  • Tersedia Ukuran:
S, M, L, XL, XXLWarna : Hitam dan Putih
Sablon : DTF
  • Kumpul-kumpul alumni di acara puncak 100 Tahun gontor boleh juga ini. Silahkan yang mau pesan bisa langsung ke link berikut : https://tinyurl.com/pesan-kaos
atau bisa pesan ke nomor yang ada pada flyer.Bahan : Cotton Combed 24s
Warna tersedia : Hitam dan Putih
Tersedia lengan pendek dan lengan panjang.
Ukuran : S, M, L, XL, XXL.Catatan:
Gambar yang ada pada katalog ini mungkin tidak 100% akurat dengan aslinya. Hal tersebut disebabkan adanya faktor perbedaan cahaya dan tampilan pada media elektronik yang digunakan.#gontornews #majalahgontor
  • Bismillah, PRE-ORDER
Limited Edition
Tersedia Warna Hitam dan Putih
Ukuran yang tersedia : S, M, L, XL, XXL
Bahan : Cotton Combed 24s
Sablon : DTFLink Pemesanan : https://tinyurl.com/pesan-baju#majalahgontor
#gontornews
  • Bismillah.  Alumni Gontor 2007 wakaf 100 unit sepeda untuk guru-guru di Gontor
Insya Allah akan diserahkan secara simbolis pada acara peringatan 100 tahun Gontor.#majalahgontor #gontornews #gontor #pondokmoderngontor @risang.wijanarko @pondok.modern.gontor

© 2023 gontornews.com. All Rights Reserved

Banner Footer
▲
  • Home
  • News
    • Dunia
    • Nasional
    • Nusantara
  • Inspirasi
    • Sirah
    • Dakwah
    • Hidayah
    • Ihwal
    • Jejak
    • Sukses
    • Mujahid
    • Oase
  • Pendidikan
    • Virtual Tour Pesantren
    • Lembaga
    • Buku
    • Beasiswa
    • Risalah
    • Khazanah
    • Keluarga
  • Muamalah
    • Ekonomi
    • Peluang
    • Halal
    • Rihlah
    • Konsultasi
  • Tadabbur
    • Tafsir
    • Hadis
    • Dirasah
  • Values
    • Tausiah
    • Sikap
    • Mahfudzat
    • Kolom
    • Afkar
  • Saintek
    • Sains
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Lingkungan
  • Laput
    • #IBF2020
  • Wawancara
  • Gontoriana
    • Pondok
    • Trimurti
    • Risalah
    • Alumni
  • Berlangganan
  • MG Digital
  • Login
No Result
View All Result