Di tengah arus modernitas yang kerap menempatkan materi sebagai tujuan utama, ada sekelompok orang yang justru menjadikan harta sebagai sarana, bukan tujuan. Mereka para alumni Pondok Modern Darussalam Gontor, yang tidak hanya sukses di dunia usaha, tapi juga menjadikan keberhasilan itu sebagai bahan bakar untuk membangun peradaban melalui pendidikan.
Fenomena ini bukan sekadar cerita inspiratif individual, melainkan sebuah pola yang menarik: banyak alumni Gontor yang terjun ke dunia bisnis, lalu mengalirkan hasil usahanya untuk mendirikan dan mengembangkan lembaga pendidikan Islam. Dari pabrik, properti, toko bangunan hingga ekspor furnitur, semuanya bermuara pada dakwah dan pendidikan umat.
Pondok Modern Darussalam Gontor dikenal dengan sistem pendidikannya yang menekankan kemandirian, kepemimpinan, dan pengabdian. Santri tidak hanya diajarkan ilmu agama, tetapi juga dibentuk mentalitasnya untuk menjadi problem solver di masyarakat.
Nilai inilah yang tampaknya membekas kuat dalam diri para alumninya. Mereka tidak hanya berpikir bagaimana mencari nafkah, tapi juga bagaimana memberi manfaat yang lebih luas. Dalam konteks ini, bisnis bukan sekadar alat mencari keuntungan, melainkan instrumen dakwah. Berikut di antara para pebisnis alumni Gontor yang berkhidmat dalam pendidikan.
Kisah Ma’had Tahfidz Bukaka
Salah satu contoh menarik datang dari Suhaeli Kalla (SK), alumni Gontor tahun 1974 yang kini menjabat sebagai Komisaris Utama PT Bukaka Teknik Utama. Ia menunjukkan bahwa dunia industri pun bisa menjadi ruang dakwah yang produktif.
Di kawasan pabriknya di Cileungsi, Bogor, berdirilah sebuah lembaga unik: Ma’had Tahfizh Bukaka. Bayangkan, di tengah tumpukan besi, alat berat, dan hiruk-pikuk industri, puluhan santri duduk menghafal Al-Qur’an.
Awalnya, ide ini muncul dari obrolan sederhana dengan rekan sesama alumni Gontor, Imam Rowi pada 8 Februari 2023. Dari percakapan itu, lahirlah gagasan besar: menghadirkan pesantren tahfizh di lingkungan perusahaan.
“Awalnya, saya merasa pesimis karena lokasinya itu benar-benar berada di dalam pabrik. Untuk menuju lokasi, saya harus melewati gunungan besi, alat berat, beko, traktor. Itulah yang membuat saya, pada awalnya, tidak yakin. Waktu itu agak pesimis, tapi karena ini challenge, akhirnya ya, bismillah,” ucap Ustadz Ari Suharyadi saat ditemui Majalah Gontor di Ampera Compound, Jakarta Selatan.
Dengan cepat, langkah konkret diambil. Dalam waktu hanya empat hari setelah survei lokasi, program tahfizh sudah berjalan. Tidak berhenti di situ, komitmen Suhaeli Kalla terlihat dari dukungannya yang total. Ia menyediakan fasilitas lengkap: asrama, tempat tidur, hingga buku-buku pembelajaran. Bahkan, santri terbaik mendapatkan beasiswa penuh hingga perguruan tinggi.
Kini, Ma’had Tahfizh Bukaka telah berkembang pesat dengan tiga cabang di Jakarta, Bogor, dan Bekasi, dengan total santri sekitar 100 orang.
Dari Rotan untuk Bina Madani
Jika kisah Bukaka menunjukkan integrasi pesantren dalam dunia industri, maka kisah KH Masrur Syamhari menggambarkan bagaimana bisnis dibangun untuk menopang Pesantren Tahfizh Al-Qur’an Bina Madani.
Alumni Gontor ini memulai langkahnya dari aktivitas dakwah internasional bernama Hai’atul Ighatsah Islamiyah ‘Alamiyah dari tahun 1992 hingga 1997. Kemudian ia mendapatkan amanah sebagai supervisor di Rabithah Alam Islami hingga tahun 1999. Selama di dua organisasi ini, ia banyak bertugas mengenalkan tahfizh Al-Qur’an ke masyarakat yang saat itu masih belum santer gaungnya di negeri ini.
“Saat itu saya banyak berkenalan dengan para donatur, masyayikh dari Arab Saudi. Saya diberi tugas baru yaitu mengenalkan tahfizh Al-Qur’an,” kisahnya kepada Majalah Gontor.
Tahun 2003, ia mulai merintis Pesantren Tahfizh Al-Qur’an Bina Madani di atas lahan 5.000 meter persegi. Santri awalnya berasal dari kalangan tidak mampu dan belajar secara gratis. Namun, membiayai operasional pesantren bukan perkara mudah. Di sinilah jiwa entrepreneur-nya bekerja. KH Masrur membangun berbagai lini usaha.
Di antara usaha bisnis yang ia geluti yaitu properti di Kota Gede dan Cirebon, percetakan dan penerbitan Griya Ilmu, travel terminal haji dan umrah, money changer, industri furnitur rotan ekspor melalui PT Indigo Mandiri Sejahtera. Bisnis furniturnya bahkan mampu mengekspor ke berbagai negara seperti Amerika, Eropa, dan Australia. Selain itu, juga di Malaysia, Singapura, dan Thailand.
Perusahaan ini sangat berbeda dengan perusahaan-perusahaan lain yang hanya profit oriented, karena setiap keuntungan perusahaan ini untuk pengembangan Pesantren Tahfizh Al-Qur’an Bina Madani yang ada di Ciawi dan Magelang yang santrinya berjumlah 800 orang.
“Istilahnya, tiada hari tanpa bangun, kita harus menyiapkan untuk pengembangan Pesantren Bina Madani,” ujarnya.
Di awal perintisan, pesantren ini memang gratis, tapi seiring waktu pola diubah menjadi berinfak. “Sekarang orang tua santri ada yang mampu, maka kalau kita gratiskan kurang mendidik. Polanya sekarang kami ubah dengan cara berinfak bersama,” jelasnya.
Dari 156 Toko Bangunan
Anas Asrofi memang bukan perintis, namun di tangan dingin jebolan Pondok Gontor 1996 itu, usaha yang dibangun almarhum Muntaham bin Kayat ini mampu dikembangkan lebih baik lagi. Kini, produk PT Sari Bumi Sidayu sudah memiliki 156 outlet tersebar di Sidoarjo, Gresik, Surabaya, dan Lamongan.
“Bisnis kami bergerak di bidang jasa yaitu supplier dan retail bahan bangunan yang mulai dari raw material sampai finishing-nya, yang mempunyai 13.000 macam barang yang selalu berkembang jenisnya,” ungkap Asrofi.
Menurutnya, jumlah toko yang mencapai ratusan itu bukan milik satu orang. Namun, milik banyak orang. Mereka masih dalam hubungan keluarga. “Salah satu misi dari Sari Bumi yaitu mengangkat ekonomi keluarga. Oleh karena itu, bagi yang sudah berhasil harus mengangkat saudara yang masih lemah, sistem ta’awun,” jelasnya.
Kuncinya, kata Asrofi, saling membantu. Tak hanya dalam bentuk barang, bantuan itu bahkan berupa toko itu sendiri. Tokonya dipinjamkan kepada saudaranya untuk dikelola dalam waktu tertentu. Keuntungan sepenuhnya diberikan kepada yang pinjam. Dari keuntungan itulah ia punya modal untuk membuka toko sendiri. Saat mengembalikan toko, barang yang dikembalikan harus seperti sedia kala.
Asrofi mengatakan anggota diserukan untuk berinfak yang besarnya tak ditentukan. Dari infak itu diperoleh sekitar puluhan juta rupiah tiap bulan. Dana tersebut disalurkan kepada lembaga sosial dan pendidikan daerah setempat yang dikelola oleh Yayasan Group Sari Bumi.
Bahkan Yayasan ini memiliki lembaga pendidikan formal yaitu lembaga pendidikan Sari Bumi yang berdiri pada tahun 2009. Lembaga ini terdiri dari Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPQ), Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dan Sekolah Dasar (SD Sari Bumi). Jumlah siswanya sudah mencapai 850 siswa. Pada tahun 2022 berdiri Pondok Sari Bumi Boarding School yang berada di Wonosalam, Jombang, yang luas tanah wakafnya mencapai 30 hektare.
Islamic Village
Contoh lain datang dari Islam Akbar Nasution, alumnus Gontor yang terlibat dalam pengembangan kawasan Islamic Village di Karawaci, Tangerang. Awalnya hanya proyek kecil seluas 12 hektare pada tahun 1973, kini berkembang menjadi kawasan seluas 120 hektare dengan 1.280 unit hunian.
Untuk pengembangan bisnisnya ini, Akbar juga membangun hunian islami di berbagai daerah, di antaranya Jakarta Barat, Pekanbaru, Bandung, Sawangan Depok, Medan, dan Curug.
Menurut Akbar, bisnis properti ini bagian dari ibadah kepada Allah. Upaya untuk menciptakan kawasan di dalamnya orang-orang beriman. Dengan berbagai fasilitas, seperti masjid, mushala, sentral ekonomi, sekolah, rumah sakit, klinik, taman bermain, dan akses jalan.
“Posisi masjid selalu di depan, saya berharap sebagai rujukan umat Islam. Di sinilah kita mengajak dan mengondisikan agar menjadi hunian yang Islami, beriman dan bertakwa,” ungkapnya. Sementara mushala-mushala berada di dalam dengan satu ustadz pembimbing.
Namun yang membuat hunian ini berbeda dengan hunian lain yaitu konsepnya: bukan sekadar real estate, tapi ekosistem Islami. Bahkan, sekitar 200 anak yatim dibina dan tinggal di kawasan ini layaknya pesantren.
Akbar memandang bisnis properti ini sebagai bagian dari ibadah. Tujuannya bukan hanya membangun rumah, tapi membangun lingkungan yang mendukung keimanan dan ketakwaan.
Membangun Peradaban
Apa yang dilakukan oleh para alumni Gontor ini sejatinya merupakan bentuk nyata dari pembangunan peradaban. Mereka tidak hanya berbicara tentang perubahan, tapi mewujudkannya melalui tindakan konkret.
Dari pabrik baja di Cileungsi, ekspor rotan ke mancanegara, hingga kawasan hunian Islami di Tangerang atau toko bangunan, semuanya menjadi ladang dakwah yang hidup. Dan masih banyak lagi contoh dari kiprah alumni Gontor yang pengusaha dan peduli pendidikan.
Di tangan mereka, bisnis bukan sekadar alat mencari keuntungan, tapi jembatan menuju keberkahan. Dan pesantren bukan sekadar lembaga pendidikan, tapi pusat lahirnya generasi masa depan.
Jika pola ini terus berkembang, bukan tidak mungkin Indonesia akan menjadi pusat kebangkitan peradaban Islam modern, yang dibangun dari sinergi antara iman, ilmu, dan kemandirian ekonomi. []






















