Bencana ekologis yang menimpa Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat akhir tahun lalu menjadi pelajaran berharga bagi rakyat Indonesia untuk senantiasa menjaga lingkungan hidup, khususnya hutan. Sebab hutan bukan hanya berfungsi sebagai pencegah banjir, namun juga mencegah agar tidak terjadi longsor.
Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan tegas memerintahkan manusia untuk menjaga alam dari kerusakan-kerusakan. Sebab, kerusakan hanya akan menimbulkan kerugian bagi manusia. Allah juga telah mengingatkan melalui firman-Nya bahwa kerusakan alam itu akibat tangan-tangan manusia.
Widyaiswara Badan Kepegawaian Daerah Kabupaten Lombok Barat, Prasetya Utama MKes, dalam tulisannya yang dilansir lombokbaratkab.go.id dengan judul Islam Mengajarkan Kita Bersikap Ramah Lingkungan mengatakan, musibah alam yang terjadi di Indonesia kebanyakan terjadi akibat perbuatan tangan manusia. Katanya, dalam waktu setahun penebangan atau pembalakan liar di Indonesia mencapai 2,8 hektare atau setiap menitnya hutan seluas 6 kali lapangan bola hilang, sehingga tidak heran jika Indonesia mendapat gelar juara pembalak hutan tercepat di dunia.
“Padahal hutan kita diharapkan dapat menjadi paru-paru dunia atau memberi kebaikan untuk manusia sedunia,” ungkapnya.
Indonesia, lanjutnya, merupakan negara dengan penduduk Muslim terbesar di dunia. Namun anehnya, justru di negara ini banyak terjadi perusakan terhadap alam. Hal itu tentu tidak sesuai dengan ajaran Islam yang Rahmatan lil ‘Aalamin.
Allah berfirman dalam Surat Ar-Rum Ayat 41 yang artinya, ”Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari akibat perbuatan mereka, agar mereka kembali pada jalan yang benar.”
Jadi, Allah sangat jelas memperingatkan manusia untuk tidak melakukan kerusakan di atas muka bumi. Di antara ayat yang menyampaikan peringatan tersebut ada di dalam Surat Al-A’raf Ayat 56 yang artinya, ”Dan janganlah kamu membuat kerusakan di bumi sesudah Allah SWT memperbaikinya dan dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut. Sesungguhnya rahmat Allah SWT amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.”
Demikian juga dengan firman Allah yang artinya, “Apabila berpaling (dari engkau atau berkuasa), dia berusaha untuk berbuat kerusakan di bumi serta merusak tanam-tanaman dan ternak. Allah tidak menyukai kerusakan.” (QS Al Baqarah: 204)
Dalam Surat Al-Maidah ayat 32 yang artinya, “Oleh karena itu, Kami menetapkan (suatu hukum) bagi Bani Israil bahwa siapa yang membunuh seseorang bukan karena (orang yang dibunuh itu) telah membunuh orang lain atau karena telah berbuat kerusakan di bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh semua manusia. Sebaliknya, siapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, dia seakan-akan telah memelihara kehidupan semua manusia. Sungguh, rasul-rasul Kami benar-benar telah datang kepada mereka dengan (membawa) keterangan-keterangan yang jelas. Kemudian, sesungguhnya banyak di antara mereka setelah itu melampaui batas di bumi.”
Sementara itu, Baginda Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam telah memerintahkan manusia untuk menjaga kelestarian alam, termasuk pohon-pohonan. Selain menjaga kesimbangan ekosistem alam, manfaat menanam pohon juga untuk meraih pahala dari Allah ‘Azza wa Jalla.
Dalam sebuah hadis, Rasulullah bersabda, “Siapa saja yang mendirikan bangunan atau menanam pohon tanpa kezaliman dan melewati batas, niscaya itu akan bernilai pahala yang mengalir selama bermanfaat bagi makhluk Allah yang Maha Pengasih” (HR Ahmad).
Selain itu, Rasulullah juga bersabda, “Tidaklah seorang Muslim menanam pohon kecuali buah yang dimakannya menjadi sedekah, yang dicuri menjadi sedekah, yang dimakan binatang buas menjadi sedekah, yang dimakan burung menjadi sedekah, dan tidak diambil seseorang kecuali menjadi sedekah” (HR Muslim).
Rasulullah juga bersabda, “Jika terjadi hari kiamat sementara di tangan salah seorang dari kalian ada sebuah tunas, maka jika ia mampu sebelum terjadi hari kiamat untuk menanamnya, maka tanamlah” (HR Bukhari dan Ahmad).
Bahkan lanjut Prasetya, sahabat Abu Bakar pernah berpesan kepada Yazid bin Abi Sufyan ketika akan berangkat ke Syam untuk berperang berupa larangan terhadap 10 hal yaitu: membunuh bayi, perempuan, lansia, menebang pohon yang berbuah, membakar gedung, menyembelih hewan kecuali untuk dimakan, menghancurkan dan membakar pohon korma, berkhianat dan takut.
“Sejarawan Prancis Gustav Le Bon menyatakan bahwa ekspansi yang paling adil dan ramah yaitu ekspansi kaum Muslimin,” katanya.
Bukan hanya terhadap lingkungan alam, Baginda Rasulullah juga memerintahkan manusia untuk tidak berlebih-lebihan dalam penggunaan air. Sebab, air merupakan komoditas utama yang dibutuhkan oleh manusia.
Ketika Rasulullah bepergian bersama Sa’ad bin Abi Waqqash, Rasulullah bersabda, “Janganlah menggunakan air berlebihan.” Sa’ad menjawab, “Apakah menggunakan air juga terhitung berlebihan?” Rasul mengatakan, “Ya, sekalipun engkau menggunakannya di sungai yang mengalir” (HR Ibnu Majah).
Tidak hanya itu, Baginda Rasul juga pernah menegur sahabat yang berwudhu, ”Jangan berlebihan..jangan berlebihan…jangan berlebihan”(HR Ibnu Majah).
Kesadaran Masyarakat
Sementara itu, Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) dalam artikelnya menjelaskan bahwa kualitas udara yang memburuk, pencemaran air dan lingkungan, serta perubahan iklim menjadi isu-isu yang tak bisa diabaikan. “Dengan mengadopsi gaya hidup ramah lingkungan, kita dapat berkontribusi pada pelestarian alam,” tulisnya.
Sebagai lembaga yang konsen pada kampanye lingkungan dengan tujuan untuk menciptakan masyarakat yang sadar dan peduli terhadap isu-isu lingkungan. WALHI menyampaikan bahwa salah satu tugas penting yaitu mendorong kesadaran masyarakat tentang pentingnya menjaga dan melestarikan lingkungan. “Pendidikan ini tidak hanya memberikan pengetahuan tetapi juga membentuk karakter peduli lingkungan pada generasi muda,” ujar Rina, salah satu aktivis WALHI Jakarta.
Sehingga menurut WALHI, edukasi lingkungan ke tengah masyarakat, termasuk anak-anak sekolah, merupakan hal yang perlu dilakukan. Sehingga masyarakat sadar akan pentingnya menjaga lingkungan, yang dimulai dari diri sendiri. “Masyarakat dapat mengambil tindakan nyata untuk melestarikan alam,” tambah WALHI.
WALHI juga menjelaskan bahwa menjaga lingkungan juga termasuk menjaga dan menggunakan air secara bijak dan tidak berlebihan. Pengelolaan sumber daya air yang baik sangat penting untuk menjaga ketersediaan air bersih bagi generasi mendatang.
Selain penggunaan air yang tidak berlebihan, masyarakat juga disarankan untuk memanfaatkan tanaman dalam pengelolahan sumber daya air.
Tanaman seperti rumput vetiver dan tanaman penutup tanah lainnya dapat membantu menyerap air hujan dan mengurangi limpasan permukaan. “Dengan mengintegrasikan tanaman dalam pengelolaan sumber daya air, kita dapat meningkatkan kemampuan tanah untuk menyimpan air dan mengurangi risiko banjir,” jelasnya.
Menurutnya, menjaga sumber air dengan cara-cara tersebut akan memberikan manfaat yang baik untuk kebutuhan banyak orang. Di antaranya, mengurangi penggunaan air berarti mengurangi biaya, menjaga kebersihan sumber air dapat terhindar dari polusi, sehingga menciptakan kehidupan yang lebih sehat.
“Penggunaan tanaman yang menyerap air bermanfaat untuk meningkatkan penyerapan air dan mencegah erosi,” tambahnya.
Jadi, menjaga kelestarian lingkungan merupakan kewajiban seluruh manusia. Sebab, lingkungan yang rusak hanya akan membawa kerugian bagi manusia itu sendiri. Tapi, bukan hanya kerugian bagi manusia saja, juga makhluk lainnya, seperti hewan.
Islam sangat peduli terhadap lingkungan sampai Allah Subhanahu Wata’ala sangat mengecam siapa pun yang melakukan kerusakan di muka bumi. []



























