Allah SWT telah menganugerahkan kepada kita berbagai kenikmatan yang sangat besar, terutama nikmat iman dan Islam. Nikmat tersebut telah kita sadari dan kita benarkan dengan sepenuh hati. Kesadaran bahwa segala sesuatu di dunia ini merupakan ciptaan Allah SWT merupakan sebuah kewajiban yang tidak dapat disangkal. Dia Maha Sempurna, tanpa sedikit pun cela. Kesadaran dan keyakinan inilah yang mampu memperkuat keimanan kita kepada Allah SWT serta memperluas cakrawala berpikir dan pandangan kita terhadap alam semesta, tanpa mengabaikan hukum-hukum Allah SWT.
ٱلَّذِينَ يَذْكُرُونَ ٱللَّهَ قِيَٰمًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِى خَلْقِ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَٰذَا بَٰطِلًا سُبْحَٰنَكَ فَقِنَا عَذَابَ ٱلنَّارِ
Artinya: “(Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), ‘Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Mahasuci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa api neraka’.” (QS Ali Imran: 191)
Selalu berusaha menaati perintah Allah meskipun bertentangan dengan hawa nafsu atau pun dengan sesama manusia. Ingatlah sesungguhnya Allah bersama orang yang benar. Dalam sebuah hadis diriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda:
لاَيُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يَكُونَ هَوَاهُ تَبَعاً لِمَا جِئْتُ بِهِ (رواه النواوي)
Artinya: “Tidaklah seseorang di antara kamu beriman sehingga hawa nafsunya mengikuti apa yang aku bawa (syari’at Islam).” (HR An-Nawawi)
Manusia bertanggung jawab sepenuhnya atas segala sesuatu yang diterimanya dari Allah SWT, baik berupa nikmat, amanah, maupun potensi yang dianugerahkan kepadanya. Setiap nikmat tersebut akan dimintai pertanggungjawaban: untuk apa ia digunakan, bagaimana cara memanfaatkannya, serta dari mana ia diperoleh. Oleh karena itu, seluruh anugerah Allah harus diproses, dikelola, dan dimanfaatkan secara benar serta diarahkan kepada kebaikan dan kemaslahatan. Dengan demikian, diharapkan laporan akhir kehidupan manusia kelak dapat diterima oleh Allah SWT dengan baik, sehingga ia memperoleh balasan yang baik pula sesuai dengan keadilan dan rahmat-Nya.
كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْؤول عَنْ رَعِيَّتِهِ (رواه البخاري ومسلم)
Artinya: “Setiap orang dari kamu pemimpin dan setiap orang darimu akan dimintai petanggungjawaban atas apa yang dipimpinnya.” (HR al-Bukhari dan Muslim)
Seorang Mukmin dituntut untuk senantiasa bersikap ridha terhadap setiap keputusan Allah SWT, baik yang dirasakannya sebagai kebaikan maupun yang tampak sebagai kesulitan. Ia diwajibkan untuk selalu bersyukur atas segala nikmat yang telah dianugerahkan kepadanya, sekecil apa pun nikmat tersebut, serta bersabar ketika tertimpa musibah dan ujian kehidupan.
Selain itu, seorang Mukmin hendaknya senantiasa berprasangka baik (ḥusn al-ẓann) kepada Allah SWT, dengan meyakini bahwa di balik setiap ketetapan-Nya tersimpan hikmah dan kebaikan yang mungkin belum dapat dipahami pada saat itu. Sikap inilah yang akan menumbuhkan ketenangan batin, memperkuat keimanan, dan mendekatkan hamba kepada Al lah SWT.
عَجَبًا ِلأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ لَهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَلِكَ ِلأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ، إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْراً لَهُ
Artinya: “Sungguh mengagumkan, sesungguhnya semua urusan kaum Muslimin penuh kebaikan jika mendapatkan kesenangan ia bersyukur dan apabila mendapat kesusahan ia bersabar maka jadilah itu kebaikan bagi mereka.” (HR Al-Bukhari)
Manusia pada hakikatnya cenderung melakukan kesalahan dan mudah lupa sehingga kerap tergelincir. Namun, seorang Muslim yang tergelincir tidak boleh larut dalam kelalaian atau keterpanaan; ia harus segera sadar, memohon ampun kepada Allah SWT, dan kembali menapaki jalan yang lurus.
Ia juga hendaknya melaksanakan seluruh perintah Allah SWT, baik yang bersifat wajib maupun sunnah. Mengingat tidak semua Muslim mampu menyempurnakan pelaksanaan kewajibannya, amalan-amalan sunnah berfungsi sebagai penyempurna dan penambal kekurangan tersebut.
Selain itu, seorang Muslim dianjurkan untuk berlomba-lomba dalam kebaikan dan keutamaan, sebagaimana semangat yang ditunjukkan oleh para sahabat Nabi ketika mereka menanyakan amalan-amalan yang paling utama: “Perbuatan apakah yang paling utama? Rasulullah berkata, ‘Shalat tepat pada waktunya.’ Lalu apalagi? Beliau berkata, ‘Berbuat baik pada orangtua.’ Lalu apa lagi? Beliau menjawab, ‘Berjihad di jalan Allah’.” (Muttafaq alaihi) []






















