Hakikat kehidupan manusia merupakan ujian, baik dalam nikmat maupun musibah. Orang yang mampu menghayati hakikat kehidupannya, ia akan menerima segala ujian atau musibah sebagai ujian dari Allah SWT. Dari sikap ini ia akan meraih mental yang kuat dan kekokohan iman untuk meyakini bahwa segala sesuatu terjadi atas kehendak Allah. Maka tatkala ia mendapatkan nikmat yang banyak, imannya juga tak akan goyah. Malah sebaliknya, ia pun akan tetap bertakwa dan kian mensyukurinya.
Akhir-akhir ini sering kita dengar dan saksikan banyak sekali tayangan berita tentang bencana alam yang sangat menyayat hati. Para korban bencana itu sangat butuh uluran tangan kita, walau hanya sesuap nasi. Sayangnya, ketika saudara-saudara kita itu berada di tempat pengungsian saling berebut sesuap nasi, di antara kita malah ada yang seenaknya membuang nasi begitu saja. Padahal sudah jelas innamal mu’minuna ikhwah (sesungguhnya semua Mukmin bersaudara).
Sudahkah “ukhuwwah” ini kita realisasikan dalam hidup? Terlebih lagi jika kita menyadari bahwa para korban itu satu tubuh dan seiman dengan kita.
Ujian yang kita hadapi sekarang ini memang sangat berat. Negara kita belum sembuh dari krisis ekonomi, lantas kembali dipusingkan oleh datangnya bencana alam yang tiada henti. Namun, kita tak boleh menyalahkan orang lain begitu saja. Kita perlu instrospeksi diri, karena barangkali musibah ini datang karena kita kurang mensyukuri nikmat Allah.
Sering kita anggap bahwa cobaan hanya datang berbentuk kesulitan. Sehingga di kala dalam kesulitan, kita biasanya cenderung lebih dekat kepada Allah agar diselamatkan. Namun ketika diuji dengan kemudahan, kita cenderung lalai, hingga sedikit dari kita yang selamat. Saat diuji dengan kesulitan ekonomi, banyak orang menjadi dekat kepada Allah. Tapi ketika diuji dengan melimpahnya harta, malah sulit mengingat Allah.
Saat diberi cobaan sakit, hampir setiap waktu kita menyebut nama Allah. Namun ketika diuji dengan kesehatan, untuk mengucapkan kalimat “alhamdulillah” saja teramat sulit. Diuji dengan caci maki, sangat lekas mengadu kepada Allah. Namun apabila dites dengan pujian, kemungkinan sombong malah membesar. Dengan demikian, kita memang harus berlindung kepada Allah dalam segala situasi. Jika kita sedang diuji dengan kesusahan, kita harus mendekat kepada Allah. Dan ketika datang kelapangan, usahakan agar kita lebih mendekat kepada Allah. Semoga dengan begitu Allah melanggengkan kelapangan kita (QS Ibrahim [14]: 7).
Ada sebuah teori yang kiranya dapat membantu kita agar selamat menghadapi fenomena kehidupan yang sarat dengan ujian ini, yaitu teori “ikan asin”. Coba perhatikan ikan di laut. Walau dikelilingi air laut yang asin, ikan tak pernah turut menjadi asin. Tapi ketika ikan sudah mati, lalu diberi garam, maka tak lama kemudian ia akan menjadi asin. Pertanyaannya, mengapa saat di laut ikan tidak asin, tetapi sudah mati ia malah dapat lekas menjadi asin? Jawabannya karena saat di laut ia hidup! Artinya, meski cobaan ada di mana-mana, namun jika kita hidup dengan ilmu dan dzikir kepada Allah, maka kita tak akan pernah terpengaruh oleh kemaksiatan.
Jadi, kalau kita ingin selamat menghadapi hidup dan cobaan apa pun, baik kesusahan atau kemudahan, perbanyaklah ilmu, dzikir dan doa kepada Allah. Insya Allah kita tidak akan hancur binasa oleh hiruk pikuk cobaan kehidupan.
Dari berbagai bentuk musibah yang terjadi, penyebabnya ada dua macam. Pertama, terjadi karena kehendak Allah untuk menguji keimanan hamba-Nya. Kedua, terjadi karena ulah manusia (QS as-Syuro [42]: 30).
Dari sini, ada beberapa sikap yang harus diambil ketika tertimpa musibah. Pertama, menanamkan prasangka baik kepada Allah, terhadap qadha dan qadar-Nya. Kedua, segera menginstrospeksi kesalahan yang pernah kita perbuat. Ketiga, segera bertobat kepada Allah dengan sungguh-sungguh. Keempat, selalu memohon anugerah dan rahmat dari Allah. Kelima, senantiasa berdoa, memohon keselamatan dan menyerahkan hidup dan mati kita ke pada-Nya. []





















